Lima tahun kemudian...
Pagi itu, Rumah Cahaya jauh lebih ramai daripada biasanya.
Bangunan kecil yang dahulu hanya memiliki tiga ruangan kini telah berkembang menjadi sebuah yayasan sederhana.
Di halaman depan berdiri sebuah papan baru.
YAYASAN RUMAH CAHAYA
"Setiap perempuan berhak mendapatkan kesempatan kedua."
Di bawah papan itu, puluhan perempuan duduk mengikuti pelatihan.
Sebagian sedang belajar merias.
Sebagian lagi belajar mengelola usaha kecil.
Di sudut lain, terdengar tawa anak-anak yang bermain di taman baca.
Mereka tidak lagi datang hanya untuk menemani ibu mereka.
Kini mereka juga belajar.
Bermain.
Dan bermimpi.
Lintang berdiri di depan jendela ruang kerjanya.
Usianya bertambah.
Beberapa helai rambut putih mulai terlihat di sela-sela jilbabnya.
Namun senyumnya jauh lebih tenang.
Di meja kerjanya terdapat sebuah buku yang baru selesai dicetak.
Sampulnya berwarna kuning keemasan.
Judulnya sederhana.
Sebelum Matahari Pulang
Nama penulis tercetak kecil di bagian bawah.
NOEEYYY
Ia mengusap sampul buku itu perlahan.
"Sudah jadi?"
Suara Arga terdengar dari balik pintu.
Lintang mengangguk sambil tersenyum.
"Akhirnya."
Arga mengambil satu eksemplar.
"Aku bangga padamu."
Lintang tertawa kecil.
"Dulu aku takut orang membaca kisahku."
"Sekarang?"
"Sekarang aku berharap kisah ini membuat seseorang memilih bertahan satu hari lagi."
Dari luar terdengar suara anak-anak.
"Ibu!"
Bintang masuk lebih dulu.
Kini usianya tiga belas tahun.
Tubuhnya sudah hampir setinggi Arga.
Di belakangnya menyusul Aira yang membawa beberapa buku.
Raka berlari sambil membawa bola.
Naila menggandeng adik bungsunya yang baru saja masuk sekolah dasar.
Rumangan itu seketika dipenuhi suara.
"Ibu, nanti sore aku latihan sepak bola."
"Ibu, lihat nilai matematikaku!"
"Ibu, Raka curang!"
"Bukan aku!"
"Tapi dia duluan!"
Lintang hanya tertawa.
Dulu ia bermimpi bisa mendengar rumah yang ramai.
Kini ia justru sering merindukan kesunyian.
Dan ia mensyukurinya.