Jakarta itu aneh. Dia selalu kelihatan hidup, tapi nggak pernah benar-benar terasa punya nyawa. Setiap pagi, orang-orang keluar rumah dengan wajah yang sama—setengah sadar, setengah pasrah—seolah-olah mereka lagi ngejalanin sesuatu yang udah ditulis duluan tanpa sempat dibaca. Gue termasuk salah satunya. Bukan karena gue nggak punya pilihan, tapi karena kadang hidup emang lebih gampang dijalanin daripada dipertanyakan.
Nama gue Badrun Mahardika Prasetyo. Orang-orang manggil gue Badrun, atau kalau lagi bercanda agak maksa, kadang dipelesetin jadi “Bad Run,” katanya hidup gue kayak lagi lari tapi nggak jelas ke mana. Gue sendiri nggak pernah terlalu mikirin itu. Buat gue, hidup ya hidup aja. Jalanin, capek, tidur, bangun lagi. Siklus yang kalau dipikir-pikir, nggak jauh beda sama motor gue—dipanasin tiap pagi, dipake sampai sore, terus dimatiin tanpa pernah ditanya dia capek atau nggak.
Pagi itu, seperti biasa, gue berdiri di parkiran kosan, nyalain motor sambil ngeliatin langit yang warnanya nanggung—nggak biru, nggak abu-abu juga. Udara Jakarta masih setengah dingin, tapi gue tahu, itu cuma basa-basi sebelum panasnya jadi nyebelin. Gue tarik napas dalam, helm gue pasang, lalu mulai jalan, nyelip di antara mobil-mobil yang udah antre kayak orang lagi ngantri hidup baru.
Di jalan, gue selalu punya kebiasaan aneh: ngeliatin orang-orang di sekitar gue dan nebak-nebak hidup mereka. Itu bukan karena gue kepo, tapi karena kadang gue ngerasa hidup gue terlalu lurus, terlalu datar, sampai gue butuh cerita orang lain buat ngerasa ada variasi. Ada bapak-bapak di depan gue, jaket lusuh, tas selempang, mukanya serius banget. Mungkin dia lagi mikirin cicilan. Atau mungkin dia lagi berusaha kuat buat nggak mikirin sesuatu yang lebih berat dari itu. Gue nggak tahu. Tapi yang jelas, semua orang kelihatan kayak lagi bawa beban yang nggak kelihatan.
Dan di tengah semua itu, gue cuma jadi satu titik kecil yang ikut bergerak, tanpa benar-benar tahu arah akhirnya ke mana.
Kantor gue ada di daerah Sudirman, gedung tinggi yang kalau dilihat dari luar kelihatan mewah, tapi di dalamnya ya sama aja—manusia, deadline, dan kopi yang rasanya makin hari makin hambar. Gue kerja sebagai staff administrasi di sebuah perusahaan distribusi. Nggak keren, nggak juga memalukan. Cukup buat hidup, nggak cukup buat mimpi yang terlalu tinggi.
Begitu gue masuk kantor, suara AC langsung nyambut, dingin tapi nggak pernah benar-benar bikin nyaman. Meja gue ada di pojok, dekat jendela yang jarang gue buka, bukan karena nggak mau, tapi karena pemandangannya cuma gedung lain. Gue duduk, nyalain komputer, dan seperti biasa, hidup gue mulai lagi dari angka nol.
Keyboard mulai berbunyi. Klik mouse jadi musik latar. Orang-orang di sekitar gue mulai tenggelam dalam dunia mereka masing-masing. Ada yang langsung kerja, ada yang pura-pura kerja, dan ada juga yang sibuk ngeliatin layar tapi pikirannya entah ke mana. Gue sendiri? Gue ada di tengah-tengah. Ngerjain apa yang harus dikerjain, sambil sesekali mikir, “Ini bakal kayak gini terus, ya?”
Jam berjalan pelan, kayak sengaja ngejek. Sampai akhirnya, sekitar jam sepuluh lewat, sesuatu yang kecil—yang mungkin buat orang lain biasa aja—mulai menggeser ritme hari gue.
Gue lagi berdiri di pantry, menuang air panas ke dalam gelas kopi sachet yang rasanya udah gue hafal sampai ke titik bosan, ketika pintu pantry kebuka pelan. Gue nggak langsung nengok. Bukan karena gue sok cool, tapi karena gue emang lagi fokus ngaduk kopi. Tapi entah kenapa, ada perasaan kecil yang bikin gue akhirnya nengok juga.
Dan di situ, gue lihat dia.
Perempuan itu berdiri agak ragu di dekat pintu, seolah-olah dia belum sepenuhnya yakin boleh masuk atau nggak. Bajunya sederhana—kemeja putih, rok hitam—nggak ada yang mencolok. Tapi justru di situ anehnya. Di kantor yang penuh orang dengan gaya masing-masing, dia kelihatan… tenang. Kayak nggak berusaha jadi apa-apa, tapi tetap kelihatan ada.
Rambutnya panjang, diikat seadanya. Wajahnya nggak bisa dibilang yang langsung bikin orang nengok dua kali, tapi ada sesuatu yang bikin gue nggak langsung balik ngaduk kopi. Mungkin cara dia berdiri. Mungkin cara dia narik napas pelan sebelum melangkah masuk. Atau mungkin… gue aja yang lagi butuh sesuatu buat diperhatiin.
Dia jalan ke dispenser, berdiri nggak jauh dari gue. Ada jeda kecil yang nggak diisi apa-apa selain suara air mendidih. Gue tahu, secara sosial, harusnya ada basa-basi. Tapi gue juga tahu, nggak semua momen butuh kata-kata.
Sampai akhirnya dia yang ngomong duluan.