Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #2

Hal-Hal Kecil yang Mulai Terasa Berarti

Ada satu hal yang baru gue sadari setelah bertahun-tahun hidup di Jakarta: bukan macetnya yang bikin capek, tapi rutinitas yang terlalu bisa diprediksi. Lo bangun, berangkat, kerja, pulang, tidur, ulang lagi. Awalnya terasa aman, lama-lama jadi kayak jalan di tempat. Dan yang lebih aneh, kita jarang sadar kapan tepatnya rasa bosan itu berubah jadi sesuatu yang lebih dalam—semacam kehampaan yang nggak berisik, tapi terus ada.

Pagi itu, gue bangun dengan perasaan yang sedikit beda. Bukan semangat juga, tapi ada sesuatu yang bikin gue nggak sepenuhnya malas buat mulai hari. Mungkin karena gue tahu, di kantor nanti, ada satu wajah yang kemarin sempat muncul dan entah kenapa nempel di kepala gue lebih lama dari seharusnya. Gue nggak mau lebay, ini bukan soal “jatuh cinta pada pandangan pertama” atau semacamnya. Gue cukup realistis buat tahu kalau hidup nggak segampang itu. Tapi tetap aja, ada rasa penasaran kecil yang kayak nggak mau diem.

Gue berangkat lebih pagi dari biasanya. Jalanan belum terlalu padat, udara masih punya sisa dingin yang sebentar lagi bakal hilang. Di lampu merah pertama, gue berhenti dan tanpa sadar mikir, “Kalau gue sampai lebih cepat, apa dia juga udah datang?” Pikiran itu muncul begitu aja, tanpa diundang, dan jujur aja agak bikin gue ilfeel sama diri sendiri. Sejak kapan gue jadi orang yang nungguin orang yang bahkan baru gue kenal sehari?

Gue ketawa kecil di balik helm. Hidup emang kadang lucu. Kita sering merasa biasa aja sampai satu hal kecil bikin kita berubah arah, pelan-pelan, tanpa kita sadari.

Sampai kantor, suasana masih setengah kosong. Beberapa orang udah duduk di meja, sibuk dengan layar masing-masing. Gue jalan ke tempat duduk gue, naruh tas, lalu duduk sambil nyalain komputer. Mata gue sempat refleks nyapu ruangan, ke arah divisi lain, termasuk finance. Kursinya masih banyak yang kosong. Dan entah kenapa, gue sedikit kecewa.

“Ngapain juga gue berharap,” gumam gue pelan.

Gue mulai kerja, ngetik data, ngecek dokumen, hal-hal yang udah gue lakukan ratusan kali sampai rasanya kayak autopilot. Tapi di sela-sela itu, pikiran gue tetap nyempil ke hal yang sama. Tentang nama itu. Kinan.

Sekitar setengah jam kemudian, gue lagi fokus ngecek laporan ketika ada suara kursi ditarik di seberang ruangan. Refleks, gue nengok. Dan di situ dia—datang, duduk, buka tas, lalu mulai ngeluarin beberapa berkas. Gerakannya tenang, nggak terburu-buru, tapi juga nggak lambat. Kayak orang yang tahu apa yang harus dia lakuin, tapi nggak merasa perlu ngejar waktu.

Gue balik ke layar, tapi fokus gue udah nggak utuh. Ada bagian kecil dari gue yang terus aware sama keberadaannya, walaupun jarak kami nggak dekat. Ini aneh. Gue bukan tipe orang yang gampang terganggu sama orang lain. Tapi mungkin, ini bukan gangguan. Ini cuma… sesuatu yang baru.

* * *

Sekitar jam sepuluh, gue sengaja ke pantry lagi. Alasan resmi: bikin kopi. Alasan sebenarnya: gue sendiri juga nggak yakin, tapi kalau jujur, gue berharap ada kebetulan kecil lagi.

Dan ya, kadang hidup suka ngasih kebetulan yang terlalu pas buat disebut kebetulan.

Dia ada di sana, lagi berdiri di depan dispenser, hampir sama kayak kemarin. Bedanya, kali ini dia kelihatan lebih santai. Mungkin karena ini hari kedua, atau mungkin karena dia udah mulai terbiasa.

“Pagi,” gue buka suara duluan, berusaha terdengar biasa aja.

Dia nengok, lalu senyum kecil. “Pagi.”

Gue berdiri di sampingnya, ngambil gelas plastik. “Hari kedua. Masih beruntung dapet air panas?”

Dia sedikit mikir, lalu ngangguk. “Sejauh ini sih, iya. Belum ada yang sabotase.”

“Tenang, sabotasenya biasanya baru mulai minggu kedua,” gue jawab santai.

Dia ketawa lagi, kali ini sedikit lebih lepas. Dan gue sadar, ada sesuatu dari cara dia ketawa yang bikin suasana jadi ringan tanpa harus maksa.

Lihat selengkapnya