Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #3

Hal yang Tidak Direncanakan, Tapi Mulai Diharapkan

Ada fase dalam hidup di mana lo nggak lagi merasa hari-hari itu berlalu, tapi justru lo mulai memperhatikan bagaimana mereka berjalan. Dulu, buat gue, Senin sampai Jumat itu cuma rangkaian waktu yang harus dilewati supaya bisa sampai ke Sabtu. Nggak ada yang benar-benar layak diingat. Tapi sekarang, entah sejak kapan, ada bagian kecil dalam hari gue yang mulai gue tunggu. Dan anehnya, bagian itu bukan sesuatu yang besar—cuma momen singkat yang bahkan nggak pernah gue rencanakan.

Pagi itu, gue bangun lebih cepat lagi dari biasanya. Bahkan alarm gue belum bunyi. Gue sempat diem beberapa detik, menatap langit-langit kamar kos yang catnya mulai pudar, sambil mencoba memahami satu hal: kenapa gue nggak merasa berat buat bangun? Biasanya, bangun pagi itu rasanya kayak dipaksa keluar dari sesuatu yang nyaman. Tapi hari ini, ada dorongan kecil yang bikin gue langsung duduk, seolah-olah ada sesuatu yang menunggu.

Gue langsung sadar, dan gue nggak terlalu suka jawabannya.

“Cuma karena satu orang?” gumam gue pelan, setengah nggak percaya.

Gue ketawa kecil, tapi nggak benar-benar lucu. Ini bukan soal suka atau nggak suka. Ini lebih ke arah… perubahan yang terlalu halus buat disadari, tapi cukup kuat buat dirasain.

Di jalan, Jakarta masih setengah hidup. Beberapa warung baru buka, tukang kopi keliling mulai jalan, dan kendaraan mulai mengisi jalanan satu per satu. Gue melaju pelan, nggak buru-buru. Tapi di dalam kepala, gue tahu, gue lagi ngejar sesuatu. Bukan waktu. Bukan kerjaan. Tapi kemungkinan kecil buat ketemu lagi, entah di pantry atau sekadar lewat di lorong kantor.

Gue sampai kantor lebih awal dari biasanya. Bahkan lebih awal dari kemarin. Beberapa orang masih baru datang, suasana masih sepi. Gue duduk di meja, nyalain komputer, lalu tanpa sadar, mata gue langsung bergerak ke arah divisi finance.

Kosong.

Gue menghela napas pelan. “Ya iyalah, Run. Nggak semua orang hidupnya ngejar jam kayak lo hari ini.”

Gue coba fokus kerja, tapi jujur aja, konsentrasi gue masih setengah. Ada bagian dari gue yang terus nunggu suara langkah, suara kursi, atau tanda apa pun yang nunjukin kalau dia udah datang. Dan ketika akhirnya suara itu beneran ada—suara tas ditaruh, kursi digeser—gue nggak langsung nengok. Gue tahan. Entah kenapa, gue nggak mau kelihatan terlalu jelas.

Tapi tetap aja, beberapa detik kemudian, gue nengok.

Dan ya, dia ada di sana.

Kinan duduk di mejanya, rambutnya masih diikat sederhana seperti kemarin, wajahnya tenang seperti biasa. Dia nggak melakukan sesuatu yang spesial. Cuma buka laptop, rapihin beberapa berkas, lalu mulai kerja. Tapi justru itu yang bikin beda—dia nggak berusaha menarik perhatian, tapi tetap berhasil terlihat.

Gue balik ke layar, tapi ada satu hal yang gue sadari: kehadiran seseorang ternyata bisa mengubah suasana, bahkan tanpa dia melakukan apa-apa.

Sekitar jam sembilan lewat, kantor mulai penuh. Suara keyboard makin ramai, orang-orang mulai ngobrol, telepon berdering. Rutinitas kembali berjalan seperti biasa. Tapi buat gue, ada satu lapisan tambahan yang nggak ada sebelumnya—kesadaran akan seseorang di ruangan yang sama.

Gue lagi ngecek data ketika tiba-tiba ada seseorang berhenti di dekat meja gue.

“Badrun?”

Gue nengok, sedikit kaget. Dan di situ dia—Kinan—berdiri sambil bawa beberapa lembar kertas.

“Iya?” gue jawab, mencoba tetap santai.

“Ini… gue disuruh minta data distribusi bulan lalu. Katanya ada di lo.”

“Oh, iya, bentar,” gue langsung buka folder di komputer. “Yang bagian mana?”

“Yang… wilayah barat sama pusat.”

Gue ngangguk, lalu mulai cari file yang dimaksud. Sambil nunggu, suasana jadi agak hening. Tapi kali ini, heningnya beda. Lebih terasa… dekat.

“Lo cepet adaptasinya,” gue bilang sambil tetap fokus ke layar.

“Hm?”

“Baru hari ketiga, tapi udah keliling nyari data.”

Lihat selengkapnya