Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #4

Detail yang Pelan-Pelan Menjadi Penting

Ada satu hal yang dulu selalu gue anggap sepele: detail. Buat gue, hidup itu garis besar. Kerja, pulang, makan, tidur. Orang datang, orang pergi. Nggak semua harus diperhatikan. Tapi sekarang, entah sejak kapan, gue mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya lolos begitu aja—dan yang lebih aneh, gue mengingatnya.

Pagi itu, setelah hujan semalam yang masih menyisakan dingin di aspal, gue sampai kantor dengan jaket yang masih agak lembap di bagian lengan. Udara Jakarta jarang kasih jeda seperti ini—sedikit lebih bersih, sedikit lebih ringan. Gue parkir motor, lepas helm, lalu berdiri sebentar, ngeliatin gedung kantor yang sama, tapi rasanya nggak sepenuhnya sama.

Mungkin bukan gedungnya yang berubah.

Mungkin gue.

Gue masuk ke dalam, suasana masih belum terlalu ramai. AC sudah menyala, suara sepatu di lantai mulai terdengar, dan aroma kopi dari pantry samar-samar sampai ke area kerja. Gue duduk di meja, nyalain komputer, lalu—tanpa sadar—mata gue kembali melakukan hal yang sama seperti hari-hari sebelumnya: mencari.

Dan kali ini, gue langsung nemu.

Kinan sudah duduk di tempatnya.

Dia sedikit menunduk, fokus ke layar laptop, tangannya bergerak pelan di keyboard. Pashmina yang dia pakai hari ini warnanya abu-abu muda, dililit sederhana tapi rapi, jatuh mengikuti garis bahunya tanpa berlebihan. Kacamata tipis bertengger di wajahnya, memberi kesan yang… tenang. Nggak dingin, tapi juga nggak terlalu hangat. Pas.

Dari jauh, dia memang bukan tipe yang langsung mencuri perhatian. Tapi justru karena itu, orang jadi lebih lama melihat. Wajahnya putih, bersih, dengan pipi yang sedikit penuh—bukan gemuk, tapi cukup untuk memberi kesan lembut. Tingginya nggak terlalu tinggi, mungkin sekitar seratus lima puluh lima. Dan dari postur tubuhnya yang kecil, hampir nggak kelihatan kalau dia punya beban apa pun.

Padahal, gue mulai curiga, orang kayak dia justru biasanya menyimpan lebih banyak dari yang terlihat.

Gue buru-buru alihin pandangan, kembali ke layar komputer. Tapi dalam kepala gue, detail-detail itu sudah terekam. Dan gue agak terganggu dengan kenyataan bahwa gue memperhatikan sejauh itu.

“Lo kenapa jadi pengamat manusia gini sih, Run,” gumam gue pelan.

Kerjaan pagi itu berjalan seperti biasa, tapi fokus gue nggak sepenuhnya utuh. Beberapa kali gue tanpa sadar melirik ke arah dia. Bukan karena gue nggak ada kerjaan, tapi karena… gue mulai terbiasa memastikan dia ada.

Dan setiap kali gue lihat dia masih di sana, entah kenapa ada rasa kecil yang stabil. Kayak sesuatu yang nggak berubah di tengah hal-hal lain yang sering nggak bisa diprediksi.

Sekitar jam sepuluh, gue ke pantry lagi. Kali ini beneran cuma pengen kopi, tanpa ekspektasi apa-apa. Tapi hidup, seperti biasa, kadang terlalu suka main kebetulan.

Dia sudah ada di sana.

Bedanya, kali ini dia nggak sendirian. Ada dua cewek lain di dekatnya—yang satu terlihat cukup aktif, ngomong terus, sementara yang satu lagi lebih banyak diam sambil sesekali merespon. Gue langsung nebak, ini pasti dua orang yang kemarin gue lihat di kantin.

Gue sempat ragu mau masuk atau nggak. Tapi akhirnya gue tetap jalan masuk, ambil gelas, lalu berdiri di dekat dispenser.

“Pagi lagi,” gue bilang, setengah santai.

Kinan nengok, lalu senyum. “Pagi.”

Cewek yang aktif itu langsung melirik gue. “Oh, ini yang kemarin lo ceritain?”

Kinan langsung kelihatan sedikit kikuk. “Zizah…”

Gue angkat alis. “Gue masuk cerita, ya?”

Cewek itu nyengir. “Santai, kita bukan tipe yang ngomongin orang di belakang. Kita ngomongnya di depan.”

Gue ketawa kecil. “Lebih jujur, sih.”

“Kinan cerita lo bantu dia kemarin,” lanjutnya. “Gue Azizah, tapi panggil Zizah aja.”

“Badrun.”

Cewek satunya lagi cuma angkat tangan kecil. “Muti,” katanya pelan.

“Dia emang gitu,” Zizah langsung nyeletuk. “Hidupnya lebih banyak di kamar daripada di dunia nyata.”

Lihat selengkapnya