Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #5

Jarak yang Mulai Terasa Dekat

Ada satu hal yang mulai gue sadari, dan jujur aja, agak mengganggu: jarak itu bukan lagi soal seberapa jauh seseorang berdiri dari kita, tapi seberapa sering dia muncul di pikiran kita tanpa diminta. Dulu, buat gue, orang-orang di sekitar itu ya cuma bagian dari latar. Mereka ada, tapi nggak pernah benar-benar “hadir.” Tapi sekarang, ada satu orang yang bahkan ketika nggak ada di depan gue, tetap terasa dekat dengan cara yang sulit dijelaskan.

Pagi itu Jakarta kembali ke kebiasaannya—panas yang datang terlalu cepat, suara klakson yang nggak sabaran, dan jalanan yang penuh orang-orang dengan tujuan masing-masing. Gue melaju di antara kendaraan lain, tapi kali ini pikiran gue nggak sepenuhnya di jalan. Bukan karena gue ceroboh, tapi karena ada sesuatu yang terus muter di kepala gue sejak kemarin sore.

Bukan kalimat panjang.

Bukan juga sesuatu yang terlalu dalam kalau didengar sekilas.

Tapi cara dia ngomong waktu itu di lobby—tentang kenapa dia nggak langsung pulang, tentang bagaimana dia memilih untuk nggak buru-buru—itu yang nempel.

Bukan kata-katanya.

Tapi maksudnya.

Dan anehnya, itu cukup buat gue kepikiran sampai sekarang.

“Lo mulai aneh, Run,” gumam gue sendiri, sambil sedikit ngerem karena motor di depan tiba-tiba berhenti.

Sampai kantor, gue parkir seperti biasa. Tapi kali ini gue nggak langsung masuk. Gue berdiri sebentar, ngerapihin jaket, lalu tanpa sadar menarik napas lebih dalam dari biasanya. Seolah-olah gue lagi nyiapin diri buat sesuatu yang bahkan gue sendiri nggak yakin apa.

Begitu gue masuk, suasana kantor sudah cukup ramai. Suara keyboard, obrolan pelan, dan bunyi printer bercampur jadi satu. Gue jalan ke meja gue, duduk, nyalain komputer… dan seperti refleks yang mulai terbentuk, mata gue langsung mencari.

Dia belum ada.

Ada rasa kecil yang langsung muncul—bukan kecewa besar, tapi cukup buat gue sadar kalau gue berharap sesuatu.

Gue coba alihin fokus ke kerjaan. File demi file gue buka, data gue cek, tapi jujur aja, ritmenya terasa sedikit kacau. Gue nggak sepenuhnya di situ. Ada bagian dari gue yang terus nunggu, walaupun gue tahu itu agak konyol.

Sekitar lima belas menit kemudian, suara yang mulai familiar itu akhirnya terdengar—suara tas diletakkan, kursi digeser pelan. Gue nggak langsung nengok. Kali ini gue coba nahan diri lebih lama. Tapi seperti biasanya, rasa penasaran menang juga.

Dan di situ dia.

Kinan duduk dengan pashmina warna krem muda hari ini, sedikit berbeda dari kemarin. Kacamata tipisnya masih sama, dan cara dia menyesuaikan posisinya sebelum mulai kerja terlihat lebih tergesa. Tapi yang bikin gue berhenti sejenak bukan itu.

Dia terlihat… sedikit lelah.

Bukan yang jelas banget, tapi cukup buat orang yang memperhatikan sadar. Ada bayangan tipis di bawah matanya, dan cara dia menarik napas sesaat sebelum mulai kerja terasa lebih berat dari biasanya.

Gue langsung alihin pandangan.

Dan di situ gue sadar satu hal yang agak bikin gue nggak nyaman: gue mulai memperhatikan hal-hal yang terlalu spesifik.

“Ini udah masuk fase bahaya, sih,” pikir gue.

Kerjaan pagi berjalan, tapi pikiran gue sesekali tetap kembali ke satu hal—dia kelihatan capek. Dan entah kenapa, itu cukup buat bikin gue kepikiran lebih lama dari seharusnya.

* * *

Sekitar jam sepuluh lewat, gue ke pantry. Kali ini bukan karena kopi, tapi lebih ke… butuh jeda. Tapi begitu gue sampai di sana, gue lihat dia sudah berdiri di dekat dispenser, sendirian.

Gue berhenti sebentar di pintu, lalu masuk.

“Pagi yang agak berat?” gue buka suara, setengah nebak.

Dia nengok, sedikit kaget, lalu senyum tipis. “Kelihatan ya?”

“Sedikit.”

Dia tarik napas kecil. “Kurang tidur.”

“Kerjaan?”

Dia menggeleng pelan. “Bukan.”

Gue nggak langsung lanjut nanya. Ada jeda kecil yang gue biarkan tetap kosong. Karena gue tahu, nggak semua hal harus langsung digali.

Lihat selengkapnya