Ada satu kenyataan yang kadang lupa kita sadari waktu mulai dekat sama seseorang: hubungan itu nggak pernah benar-benar cuma tentang dua orang. Cepat atau lambat, dunia di sekitar kita bakal ikut masuk. Teman, kebiasaan, masa lalu, keluarga, bahkan omongan receh yang awalnya kelihatan nggak penting. Dan biasanya, justru dari situlah semuanya mulai jadi rumit.
Pagi itu gue bangun dengan kepala yang masih berat oleh percakapan semalam di parkiran kantor. Pertanyaan Kinan terus muter di kepala gue seperti lagu yang nggak sengaja kepencet repeat.
Kalau sesuatu mulai terasa beda, itu berarti kita harus maju… atau mundur?
Masalahnya, gue nggak punya jawaban buat itu.
Karena gue sendiri masih berdiri di tengah-tengah.
Motor gue melaju pelan membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Di lampu merah, gue lihat orang-orang sibuk dengan hidup masing-masing. Ada yang marah-marah karena diserobot. Ada yang sambil sarapan di motor. Ada juga yang mukanya kosong banget sampai gue nggak yakin dia lagi sadar atau nggak.
Kadang gue mikir, manusia dewasa itu sebenarnya cuma anak kecil yang dipaksa ngerti tanggung jawab.
Bedanya, makin gede, kita makin jago pura-pura kuat.
* * *
Sampai kantor, suasana sudah lebih ramai dari biasanya. Gue baru beberapa langkah masuk ruangan ketika suara Zizah langsung terdengar.
“Nah tuh, orangnya dateng.”
Gue refleks nengok.
Zizah lagi duduk nyilang di kursinya sambil ngelihatin gue dengan ekspresi yang terlalu curiga buat dianggap santai. Muti di sampingnya masih fokus sama HP, tapi ujung bibirnya keliatan nahan senyum. Dan Kinan… langsung pura-pura fokus ke layar laptopnya.
Gue berhenti sebentar di dekat meja mereka. “Apaan?”
“Gak apa-apa,” jawab Zizah cepat, terlalu cepat malah.
“Kalau nggak apa-apa biasanya nggak senyum begitu.”
“Lo pede banget.”
“Karena lo terlalu gampang dibaca.”
Zizah ngakak kecil. “Anjir, cocok juga ternyata.”
“Zizah,” Kinan langsung nyela pelan, nadanya malu-malu.
“Nah tuh kan,” gue langsung nyengir kecil.
Kinan cuma geleng pelan sambil nahan senyum. Dan entah kenapa, momen receh kayak gitu sekarang terasa… menyenangkan.
Padahal dulu, gue tipe orang yang males banget ikut obrolan pagi kantor. Terlalu capek buat basa-basi. Tapi sekarang beda.
Karena ternyata, suasana bisa berubah kalau orang di dalamnya juga berubah.
Gue akhirnya duduk di meja sendiri sambil nyalain komputer. Tapi dari tempat gue, suara mereka masih samar-samar kedengeran. Zizah ngomong terus seperti biasa, Muti sesekali nyeletuk random, dan Kinan lebih banyak ketawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya, gue sadar—gue mulai hafal suara ketawanya.
Itu bahaya.
Kerjaan pagi berjalan lumayan santai. Sampai sekitar jam sebelas, HP gue bunyi.
(**Repan Calling.**)
Gue langsung angkat sambil tetap lihat layar komputer.
“Kenapa?”
“Run, nanti malem nongkrong gak?”
“Di mana?”
“Bengkel gue. Dapi dateng. Si Embeng juga katanya mau muncul.”
Gue mendengus kecil. “Tumben orang kalah slot masih punya muka nongol.”
“Tetep aja nongol. Judi online ngambil duit, bukan malu.”
Gue ketawa kecil.
“Lo dateng aja,” lanjut Repan. “Udah lama juga kita nggak lengkap.”
Gue mikir sebentar. “Iya dah nanti gue kabarin.”
“Oke. Jangan ngilang mulu semenjak ada anak kantor.”
“Bacot.”
Telepon ditutup.