Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #7

Hal yang Mulai Sulit Disangkal

Ada fase tertentu sebelum seseorang benar-benar jatuh cinta di mana dia mulai sibuk menyangkal hal-hal yang sebenarnya sudah jelas. Bukan karena nggak sadar, tapi karena sadar itu berarti harus siap menghadapi konsekuensinya. Dan gue mulai ngerti kenapa banyak orang memilih pura-pura biasa aja, bahkan ketika hatinya udah jelas nggak biasa.

Karena begitu sebuah perasaan diakui, semuanya berubah.

Dan perubahan selalu datang bawa risiko.

Malam nongkrong di bengkel Repan kemarin ternyata kebawa sampai pagi. Bukan suasananya, tapi omongan mereka. Gue masih inget jelas gimana mereka ngeliatin gue dengan ekspresi yang ngeselin itu—ekspresi orang-orang lama yang terlalu kenal siapa diri lo sebelum lo sempat nutupin apa pun.

“Orang yang lagi mulai suka sama seseorang tuh keliatan.”

Kalimat Repan itu muter lagi di kepala gue pagi ini.

Gue nyetir motor sambil ngeliatin jalanan Jakarta yang udah mulai padat sejak matahari belum sepenuhnya naik. Ada bus Transjakarta lewat di samping gue, bikin gue langsung keinget Kodil. Ada mobil dengan stiker bahasa Jerman di belakangnya, bikin gue inget Dapi. Dan anehnya, semua itu ujung-ujungnya tetap ngebawa pikiran gue ke satu orang.

Kinan.

Gue mendengus kecil sendiri.

“Anjing lah,” gumam gue pelan di balik helm.

Kadang yang bikin capek dari jatuh hati itu bukan perasaannya, tapi kenyataan bahwa otak kita jadi nggak bisa diajak kerja sama.

Sampai kantor, gue naik ke lantai atas sambil masih nyoba bersikap normal. Dan seperti biasa, refleks pertama gue tetap sama.

Nyari dia.

Kinan sudah ada di meja. Hari ini dia pakai pashmina abu muda dengan kemeja biru gelap yang lengannya sedikit digulung. Kacamata tipisnya masih bertengger rapi, dan ekspresinya terlihat jauh lebih ringan dibanding beberapa hari kemarin.

Begitu mata kami nggak sengaja ketemu, dia senyum kecil.

Dan sialnya…

mood gue langsung membaik.

Itu bahaya.

Gue duduk di meja sambil nyalain komputer, mencoba bertingkah seolah semuanya biasa aja. Tapi beberapa menit kemudian, Zizah datang sambil bawa kopi dan langsung nyeletuk keras tanpa dosa.

“Wih, hari ini cerah banget ya suasananya.”

Muti yang lagi duduk langsung nyaut tanpa ngangkat kepala dari HP. “Padahal langit mendung.”

“Bukan cuacanya,” jawab Zizah sambil lirikin gue dan Kinan bergantian.

“Lo kurang kerjaan ya?” gue langsung nyaut.

“Gue observatif.”

“Lo rese.”

Kinan cuma nunduk sambil nahan senyum kecil.

Dan di situ gue sadar satu hal: orang-orang mulai melihat sesuatu yang bahkan gue sendiri masih berusaha pahami.

Kerjaan pagi berjalan cukup sibuk. Tapi sekarang ada pola kecil yang mulai terbentuk tanpa disengaja. Kadang gue dan Kinan saling lempar komentar receh soal kerjaan. Kadang cuma saling liat pas ada sesuatu lucu di kantor. Kadang bahkan nggak ngomong apa-apa, tapi tetap terasa ada komunikasi kecil yang jalan.

Dan anehnya, semua itu terasa natural.

Bukan dibuat-buat.

* * *

Sekitar jam sebelas, gue lagi berdiri di dekat printer ketika Kinan datang sambil bawa beberapa berkas.

“Printer ini emang suka error ya?” tanyanya.

“Dia pilih kasih.”

“Maksudnya?”

“Kalau lagi banyak kerjaan, dia ikut panik.”

Dia ketawa kecil.

“Nah tuh,” gue nunjuk printer yang tiba-tiba bunyi aneh. “Mulai drama.”

Kinan geleng pelan sambil senyum. “Lo kalau ngomong suka aneh ya.”

Lihat selengkapnya