Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #8

Alasan untuk Tinggal Lebih Lama

Ada satu hal yang mulai gue pelajari pelan-pelan sejak kenal Kinan: manusia sering bilang dirinya baik-baik aja cuma supaya nggak perlu menjelaskan isi kepalanya. Dan lucunya, semakin dewasa seseorang, biasanya semakin rapi juga dia menyembunyikan rasa capeknya.

Kinan termasuk tipe begitu.

Dia nggak banyak cerita. Nggak pernah dramatis. Nggak pernah cari perhatian. Tapi justru karena itu, setiap perubahan kecil dari dirinya jadi lebih gampang terasa.

Dan sekarang, gue mulai terlalu peka terhadap perubahan-perubahan kecil itu.

* * *

Hujan semalam akhirnya bikin Jakarta pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya. Jalanan masih basah, udara sedikit lembap, dan langit belum benar-benar terang walaupun jam sudah menunjukkan hampir setengah delapan. Gue berhenti di lampu merah sambil ngeliatin embun tipis di spion motor.

Kepala gue masih kepikiran obrolan di lobby semalam.

“Lo percaya nggak… kalau orang bisa datang di waktu yang pas?”

Dan jawaban gue setelah itu.

“Kadang bukan waktunya yang pas. Tapi kitanya yang lagi butuh seseorang buat hadir.”

Masalahnya, semakin gue pikirin, semakin gue sadar kalau kalimat itu bukan cuma buat dia.

Tapi juga buat gue sendiri.

Sampai kantor, suasana masih belum terlalu ramai. Gue masuk sambil ngelepas helm, lalu langsung jalan ke meja. Dan seperti yang mulai jadi kebiasaan paling jujur yang bahkan nggak pernah gue akui keras-keras—mata gue otomatis nyari dia duluan.

Kinan belum datang.

Entah kenapa, ada rasa kosong kecil yang langsung muncul.

“Wah bahaya,” gumam gue pelan sambil duduk.

Gue nyalain komputer, buka beberapa file kerjaan, mencoba fokus seperti biasa. Tapi sekitar lima menit kemudian, suara langkah kecil dan bunyi kursi yang familiar langsung bikin perhatian gue buyar.

Dia datang.

Hari ini Kinan pakai pashmina warna hitam dengan outer abu muda yang agak kebesaran di lengannya. Kacamata tipisnya masih sama, dan wajahnya terlihat lebih segar dibanding beberapa hari lalu.

Begitu duduk, dia sempat nengok ke arah gue.

Dan senyum kecil itu muncul lagi.

“Pagi,” katanya pelan.

“Pagi.”

Sesederhana itu.

Tapi tetap aja efeknya ngeselin buat jantung gue sendiri.

Zizah datang nggak lama kemudian sambil bawa roti dan langsung bikin suasana rame.

“Anjir lapar banget gue.”

“Jam segini emang waktunya lapar,” jawab Muti tanpa ngangkat kepala dari HP.

“Lo tuh hidup isinya HP sama oksigen doang ya.”

“Dan wifi,” tambah Muti datar.

Gue spontan ketawa kecil.

Kinan ikut ketawa pelan sambil duduk ngerapihin barang-barangnya. Dan lagi-lagi, suasana kantor yang tadinya biasa aja mendadak terasa lebih hidup.

Kadang gue heran sendiri.

Kok bisa ya, satu orang ngubah suasana secepat itu?

Kerjaan pagi berjalan normal sampai menjelang siang. Gue lagi fokus ngerjain laporan ketika tiba-tiba ada notifikasi chat internal kantor masuk.

Kinan:

Run, lo ngerti bagian data bulan kemarin gak? Gue agak bingung.

Gue langsung nengok refleks ke arah meja dia. Dan sialnya, dia juga lagi nengok ke arah gue.

Begitu mata kami ketemu, dia langsung senyum kecil sambil ngangkat sedikit tangannya, kayak orang ketahuan nyontek.

Gue balas chatnya.

Gue:Yang bagian mana? Beberapa detik kemudian file masuk.

Lihat selengkapnya