Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #9

Hal Kecil yang Mulai Dinanti

Ada sesuatu yang diam-diam berubah dalam hidup gue beberapa minggu terakhir: gue mulai punya hal kecil untuk ditunggu setiap hari. Dan lucunya, bukan sesuatu yang besar. Bukan pencapaian hidup. Bukan uang gajian. Bukan juga weekend.

Cuma obrolan-obrolan pendek.

Tatapan singkat.

Dan suara kecil seseorang yang sekarang mulai terlalu akrab di kepala gue.

Manusia ternyata sesederhana itu ya kalau mulai nyaman sama orang lain.

Pagi itu Jakarta macet lebih parah dari biasanya. Motor gue cuma jalan beberapa meter sebelum berhenti lagi. Klakson nyaut di mana-mana, suara pedagang sarapan bercampur asap kendaraan, dan langit masih kelabu walaupun hujan semalam sudah berhenti.

Di tengah kemacetan itu, gue malah kepikiran satu hal yang sebenarnya agak memalukan buat diakuin: Apa hari ini Kinan bakal duduk lagi di meja gue?

Gue langsung mendengus kecil sendiri setelah sadar isi pikiran gue.

“Parah sih,” gumam gue di balik helm.

Dulu hidup gue lurus-lurus aja. Kerja, pulang, nongkrong kalau sempat, tidur. Sesimpel itu. Tapi sekarang, otak gue mulai sibuk mikirin kemungkinan-kemungkinan receh yang bahkan nggak penting buat orang lain.

Dan yang paling nyebelin…gue menikmatinya.

Sampai kantor, gue langsung naik sambil ngelepas jaket. Suasana ruangan sudah mulai ramai, tapi belum terlalu berisik. Begitu masuk, refleks gue tetap sama.

Nyari dia.

Dan seperti beberapa hari terakhir, dia sudah ada di sana.

Hari ini Kinan pakai pashmina dusty pink yang dililit rapi sederhana. Kemeja putih longgar dengan cardigan abu tipis bikin penampilannya kelihatan tenang banget. Dia lagi fokus lihat layar laptop, tapi begitu sadar gue datang, dia langsung nengok.

“Pagi,” katanya sambil senyum kecil.

Dan sialnya…gue mulai terbiasa menyukai cara dia ngomong itu.

“Pagi.”

Gue duduk di meja sambil nyalain komputer. Tapi baru juga beberapa menit, Zizah sudah muncul sambil naruh roti di meja Kinan.

“Kin, nanti makan siang ikut gak?”

“Lihat nanti.”

“Muti pasti nggak ikut.”

Muti yang lagi main HP langsung jawab datar, “Keluar itu melelahkan.”

“Lo hidup kayak NPC.”

“Terima kasih.”

Gue spontan ketawa kecil.

Kinan juga ikut ketawa, lalu geleng pelan. “Kalian tiap pagi emang begini ya?”

“Ini masih versi sopan,” jawab gue.

“Yang asli lebih aneh,” tambah Zizah.

Dan lagi-lagi, suasana receh kayak gitu sekarang terasa hangat.

Padahal dulu gue nggak pernah peduli sama dinamika kantor.

Sekarang malah mulai hafal ritmenya.

Sekitar jam sepuluh, kantor mendadak agak sibuk karena ada revisi presentasi mendadak dari atasan. Semua orang mulai fokus sendiri-sendiri. Suara keyboard makin cepat, beberapa orang bolak-balik meja, dan printer nyaris nggak berhenti bunyi.

Gue lagi ngerapihin data ketika HP gue bunyi.

Kinan: Run, printer deket meja lo masih aman gak? Yang sini ngambek lagi.

Gue langsung senyum kecil sendiri. Yang sini ngambek lagi.

Lihat selengkapnya