Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #11

Hal yang Mulai Terlihat oleh Orang Lain

Semakin dekat hubungan dua orang, semakin sulit juga mereka menyembunyikannya dari sekitar. Bukan karena mereka berubah drastis, tapi karena manusia yang sedang nyaman biasanya punya kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa sadar terus berulang. Tatapan yang terlalu refleks. Nada suara yang sedikit beda. Atau cara seseorang mulai selalu punya waktu untuk orang tertentu, bahkan di tengah sibuknya hari.

Dan masalahnya, orang luar sering lebih cepat sadar dibanding orang yang menjalaninya sendiri.

Pagi itu Jakarta cerah setelah hampir seminggu hujan terus. Matahari muncul lebih terang, jalanan lebih panas, dan udara pagi mulai kembali penuh asap kendaraan. Gue berhenti di lampu merah sambil ngeliatin pantulan cahaya matahari di spion motor depan.

Aneh ya.

Cuaca bisa berubah cepat.

Tapi perasaan manusia sering lebih lambat buat nyusul kenyataan.

Semalam gue kepikiran ucapan Kinan sebelum pulang.

“Kadang justru hal yang nggak jujur itu yang paling gampang ketahuan.”

Kalimat itu muter terus di kepala gue.

Karena gue tahu persis maksudnya.

Dan lebih parah lagi, gue tahu dia sadar kalau gue ngerti maksudnya.

Itu yang bikin suasana di antara kami sekarang jadi berbeda. Bukan canggung. Tapi lebih seperti… dua orang yang sama-sama mulai hati-hati karena sudah terlalu mengerti arah semuanya berjalan.

* * *

Sampai kantor, gue masuk sambil ngebenerin lengan kemeja yang sedikit kegulung. Suasana ruangan masih santai. Beberapa orang baru datang, suara AC bercampur bunyi keyboard, dan aroma kopi instan mulai memenuhi ruangan.

Begitu gue masuk, Zizah langsung nengok.

“Nah tuh.”

Gue langsung curiga. “Apaan lagi?”

“Gak ada.”

“Kalau muka lo kayak gitu biasanya ada masalah.”

“Bukan masalah,” jawab Zizah sambil nyengir kecil. “Fenomena.”

Muti yang lagi duduk sambil makan ciki langsung nyeletuk datar, “Dia dari tadi nungguin lo dateng.”

Gue refleks nengok ke arah Kinan.

Dan sialnya—dia langsung salah tingkah sendiri.

“Muti,” protesnya pelan sambil mukul lengan temennya kecil.

“Apa? Gue jujur.”

Zizah langsung ngakak.

Sementara gue cuma berdiri beberapa detik sambil nahan senyum sendiri seperti orang goblok.

Karena entah kenapa… fakta bahwa dia nunggu gue datang terasa jauh lebih menyenangkan daripada yang seharusnya.

Gue akhirnya duduk di meja sambil nyalain komputer. Tapi fokus gue buyar waktu Kinan pelan-pelan ngomong dari mejanya.

“Jangan didengerin.”

Gue nengok. “Yang mana?”

“Mereka.”

“Oh.” Gue senyum kecil. “Berarti bener?”

Dia langsung diem.

Dan itu udah cukup jadi jawaban.

Kerjaan pagi berjalan cukup sibuk. Ada beberapa revisi data yang bikin satu ruangan mulai tegang kecil. Supervisor mondar-mandir lebih sering, beberapa orang mulai ngomel pelan, dan printer lagi-lagi jadi korban kemarahan banyak manusia.

“Ini printer kalau bisa nangis udah nangis kali ya,” gumam gue waktu mesin itu ngadat lagi.

Kinan yang kebetulan lagi berdiri dekat gue langsung ketawa kecil.

“Tiap hari dibentak orang.”

“Kasihan sebenernya.”

“Terus kenapa lo kemarin bilang mau lempar dia?”

“Niat doang.”

Lihat selengkapnya