Ada satu hal yang jarang disadari orang waktu mulai punya seseorang yang spesial di hidupnya: tempat-tempat biasa perlahan berubah rasa. Kantor yang tadinya cuma tempat cari gaji mulai terasa lebih ringan buat didatangi. Jalan pulang yang biasanya melelahkan jadi nggak terlalu menyebalkan. Bahkan hujan dan macet Jakarta yang dari dulu kerjanya bikin emosi, sekarang malah kadang terasa seperti alasan tambahan buat memperpanjang waktu.
Dan jujur aja, itu agak mengkhawatirkan.
Karena berarti perasaan gue sudah tumbuh cukup jauh.
Pagi itu gue bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena niat hidup gue mendadak membaik, tapi karena entah kenapa belakangan gue jadi lebih semangat berangkat kerja. Hal yang dulu rasanya mustahil banget buat diri gue versi beberapa bulan lalu.
Langit Jakarta masih pucat waktu gue keluar rumah. Udara pagi sedikit dingin sisa hujan semalam, jalanan belum terlalu ramai, dan suara tukang bubur di ujung gang masih kedengeran samar.
Gue duduk sebentar di atas motor sebelum nyalain mesin.
Lalu tanpa sadar malah senyum sendiri.
“Goblok,” gumam gue pelan.
Karena gue tahu persis kenapa mood gue lagi bagus pagi-pagi begini.
Dan itu bukan sesuatu yang bisa gue salahin ke kopi.
Perjalanan menuju kantor terasa lebih santai. Bahkan pas kena lampu merah panjang pun gue nggak terlalu kesel. Gue malah sempat ngeliatin langit yang hari itu warnanya biru pucat tertutup awan tipis. Jakarta jarang terlihat tenang, jadi kadang momen kecil kayak gitu cukup buat bikin kepala sedikit lebih ringan.
* * *
Sampai kantor, gue naik lift bareng beberapa orang dari divisi lain. Begitu pintu lift kebuka di lantai kantor gue, aroma kopi dan hawa AC langsung nyambut seperti biasa.
Dan refleks paling rutin gue sekarang langsung aktif sendiri.
Nyari Kinan.
Dia belum datang.
Aneh ya.
Padahal sebelumnya gue biasa aja kalau ada orang telat datang kantor. Tapi sekarang, ada rasa hampa kecil waktu meja dia masih kosong.
Gue duduk sambil nyalain komputer, lalu buka HP sekilas. Belum ada apa-apa.
Beberapa menit kemudian, Zizah datang duluan sambil napas ngos-ngosan.
“Panas banget astaga.”
“Jakarta emang niat bikin manusia matang,” jawab gue santai.
Muti datang di belakangnya dengan ekspresi datar seperti biasa. “Aku pengen jadi lumba-lumba aja.”
“Kenapa lumba-lumba?” tanya gue.
“Bisa hidup sambil senyum.”
“Lo kalau ngelawak mukanya jangan tetep sedih begitu,” kata Zizah.
Muti cuma ngangguk pelan. “Itu branding.”
Gue ketawa kecil.
Tapi di tengah obrolan itu, mata gue masih sesekali nengok ke arah pintu masuk ruangan.
Dan sialnya, Zizah sadar.
“Nungguin siapa sih?” tanyanya tiba-tiba.
Gue langsung nengok cepat. “Hah?”
“Refleks banget nengok pintu dari tadi.”
“Mana ada.”
“Run,” kata Zizah sambil nyengir. “Lo tuh sekarang gampang banget kebaca.”
Sebelum gue sempat bales, suara langkah kecil masuk ke ruangan bikin kami semua nengok.
Kinan datang.
Pashmina warna sage green yang dia pakai hari itu jatuh rapi sampai bahu. Kemeja putih oversized dipadu rok hitam sederhana bikin penampilannya tenang banget, dan kacamatanya sedikit turun di batang hidung seperti biasa waktu dia buru-buru.
Begitu lihat kami semua nengok, dia berhenti sebentar.
“Kenapa?” tanyanya bingung.
“Nggak apa-apa,” jawab Zizah cepat sambil nahan senyum jahat.
Gue langsung buang muka pura-pura fokus ke layar monitor.
Sial.
Beberapa menit kemudian, Kinan duduk di mejanya sambil ngerapihin barang. Lalu dia nengok ke arah gue.
“Pagi.”
“Pagi.”
“Macet banget tadi,” katanya sambil buka laptop.
“Nah kan. Gue bilang Jakarta lagi latihan jadi neraka.”
Dia ketawa kecil.
Dan lagi-lagi, sesederhana itu aja udah cukup bikin suasana hati gue membaik.
Pagi berjalan cukup normal sampai sekitar jam sepuluh, ketika listrik kantor sempat mati beberapa detik gara-gara gangguan kecil. Satu ruangan langsung bereaksi.