Semakin sering seseorang muncul di hidup kita, semakin sulit juga membedakan mana kebiasaan dan mana perasaan. Awalnya cuma ngobrol biasa. Lalu jadi saling nyari kalau satu hari nggak ketemu. Lama-lama, nama orang itu mulai muncul di sela aktivitas paling random sekalipun. Dan yang paling bahaya, semua itu terjadi pelan sampai kita nggak sadar kapan tepatnya hati mulai ikut terlibat terlalu jauh.
Gue ada di fase itu sekarang.
Pagi hari setelah hujan semalam, Jakarta kelihatan setengah bersih. Aspal masih sedikit basah, udara lebih adem dari biasanya, dan langit abu muda menggantung rendah di atas gedung-gedung. Gue berhenti di lampu merah sambil ngeliatin gerobak nasi uduk di pinggir jalan yang dikerubungin orang-orang kantoran.
Biasanya pagi gue cuma diisi playlist lagu random dan pikiran soal kerjaan.
Sekarang beda.
Sekarang ada satu kebiasaan baru yang mulai otomatis terjadi: mikirin kemungkinan hari ini bakal ngobrol apa sama Kinan.
Dan itu… agak memalukan kalau dipikir normal.
Gue sampai ketawa kecil sendiri di balik helm.
“Parah emang,” gumam gue pelan.
Tapi ya gimana.
Semakin hari, hubungan gue sama Kinan makin terasa seperti sesuatu yang tumbuh sendiri tanpa kami paksa. Nggak pernah ada momen besar. Nggak ada pengakuan dramatis. Cuma obrolan kecil yang terus berulang, lalu perlahan berubah jadi rasa nyaman yang makin susah diabaikan.
* * *
Sampai kantor, suasana masih cukup sepi. Gue masuk sambil ngelepas helm dan jaket, lalu langsung duduk di meja.
Dan refleks paling jujur gue langsung jalan lagi.
Nyari dia.
Kinan belum datang.
Gue buka komputer sambil berusaha kelihatan normal, tapi mata gue beberapa kali tetap nengok ke arah pintu masuk ruangan.
Sialnya, Zizah langsung sadar.
“Buset,” katanya sambil duduk di kursinya. “Pagi-pagi udah patroli.”
Gue nengok datar. “Ngomong apa sih?”
“Nyariin orang ya?”
“Nyari colokan.”
“Di pintu?”
Muti yang baru datang sambil bawa roti langsung nyeletuk datar, “Biarkan laki-laki jatuh cinta hidup dengan caranya.”
Gue langsung ngakak kecil sambil geleng.
“Lo semua kurang kerjaan banget.”
“Tapi kita nggak salah,” jawab Zizah cepat.
Sebelum obrolan makin panjang, suara langkah kecil masuk ke ruangan bikin suasana otomatis berubah.
Kinan datang.
Hari ini dia pakai pashmina warna moka yang dililit sederhana, dipadu blouse putih longgar dan rok hitam. Kacamata tipisnya masih sama, dan rambut bagian depan yang sedikit keluar dari kerudung bikin dia kelihatan lebih santai dibanding biasanya.
Begitu masuk, dia langsung nengok ke arah meja kami.
Dan pas mata kami ketemu, dia senyum kecil.
“Pagi.”
Gue balas senyum tipis. “Pagi.”
Entah kenapa, sekarang momen sesederhana itu aja udah cukup bikin hari gue terasa mulai dengan baik.
Kinan duduk di mejanya sambil buka laptop. Tapi beberapa detik kemudian, dia nengok lagi ke arah gue.
“Hari ini nggak telat,” katanya pelan.
Nah.
Kalimat itu langsung nyambung ke beberapa hari lalu waktu gue datang kesiangan dan dia notice gue belum sarapan karena nggak bawa kopi.
“Masih trauma kemarin,” jawab gue santai.
Dia ketawa kecil.
Dan lagi-lagi, gue mulai sadar kalau dia sekarang juga mengingat detail-detail kecil tentang gue.
* * *
Pagi berjalan lumayan sibuk. Supervisor lagi rajin muter ruangan, bikin semua orang pura-pura lebih fokus dari biasanya. Suara keyboard terdengar lebih cepat, printer kembali bekerja tanpa ampun, dan aroma kopi bercampur AC dingin bikin suasana kantor terasa khas banget.
Sekitar jam sepuluh, gue lagi berdiri di dekat dispenser isi air ketika Kinan datang sambil bawa tumbler.
“Antriannya panjang,” katanya sambil lihat dispenser.
“Jakarta aja kalah sama dispenser kantor.”
Dia ketawa kecil sambil berdiri di sebelah gue.
Kami diam beberapa detik sambil nunggu giliran. Tapi sekarang, diam di antara kami nggak pernah terasa aneh lagi. Justru kayak ada rasa tenang kecil yang susah dijelasin.
“Run,” katanya pelan.
“Hm?”