Ada perasaan-perasaan tertentu yang awalnya kita kira cuma numpang lewat, tapi ternyata diam-diam menetap. Datangnya nggak heboh. Nggak bikin hidup langsung berubah dramatis. Dia cuma muncul pelan, lalu makin lama makin terasa jadi bagian dari rutinitas. Sampai suatu hari, kita sadar kalau hari terasa aneh waktu perasaan itu nggak muncul.
Gue mulai ada di titik itu.
Dan jujur aja, agak serem.
Karena semakin nyaman seseorang hadir di hidup kita, semakin besar juga kemungkinan dia bisa ninggalin ruang kosong waktu nanti pergi.
* * *
Pagi itu Jakarta mendung lagi. Bukan mendung gelap yang bikin hujan deras, tapi mendung tipis yang bikin langit kelihatan capek. Jalanan tetap rame seperti biasa. Motor saling selip, suara klakson nyampur sama teriakan abang parkir, dan udara pagi terasa lembap sisa hujan semalam.
Gue berhenti di lampu merah sambil ngeliatin orang-orang di sekitar. Ada bapak-bapak yang makan lontong sambil berdiri, ada cewek kantor yang sibuk benerin makeup di spion motor, dan ada anak sekolah yang masih sempat ketawa walaupun mukanya jelas ngantuk.
Kadang gue iri sama orang-orang yang masih bisa ketawa tanpa banyak pikiran.
Karena makin gede, hidup tuh makin sering bikin kepala penuh.
Dan belakangan, isi kepala gue makin sempit.
Karena kebanyakan diisi satu orang.
* * *
Sampai kantor, gue parkir motor sambil narik napas pelan. Lift pagi itu penuh banget sampai gue harus nunggu dua kali. Begitu akhirnya sampai lantai kantor, suara AC dan bunyi keyboard langsung nyambut seperti biasa.
Dan refleks paling otomatis gue kembali kejadian.
Nyari Kinan.
Hari ini dia sudah datang duluan.
Dia lagi duduk sambil sedikit nunduk fokus lihat layar laptop. Pashmina warna hitamnya dibentuk sederhana, dan cardigan coklat muda yang dia pakai bikin tampilannya kelihatan hangat banget di tengah suasana kantor yang dingin karena AC kebangetan.
Begitu sadar gue datang, dia langsung nengok.
Senyum kecil itu muncul lagi.
“Pagi.”
“Pagi.”
Sesimpel itu.
Tapi tetap aja bikin suasana hati gue berubah lebih baik.
Gue baru duduk beberapa detik ketika Zizah muncul sambil bawa plastik sarapan.
“Kin, gue beli risol. Mau?”
“Mau.”
“Muti?”
“Kalau gratis iya.”
“Run?”
“Nggak dulu.”
Zizah langsung nyempitin mata. “Tumben.”
“Nanti aja.”
Kinan tiba-tiba nengok ke arah gue. “Belum lapar?”
Nah.
Lagi-lagi dia notice detail kecil.
“Masih ngantuk,” jawab gue santai.
Dia ngangguk kecil seolah ngerti.
Dan entah kenapa, hal-hal receh kayak gitu sekarang terasa jauh lebih berarti dibanding yang seharusnya.
Pagi berjalan cukup normal sampai sekitar jam sembilan lewat sedikit, ketika supervisor ngumumin kalau minggu depan bakal ada audit internal kecil. Satu ruangan langsung berubah suasana.
“Waduh.”
“Mati gue.”
“Fix lembur.”
Gue cuma nyender ke kursi sambil lihat reaksi orang-orang.
“Kalian kalau panik kompak banget,” komentar gue.
“Karena kita miskin dan butuh kerja,” jawab Zizah cepat.
“Motivasi hidup modern,” tambah Muti datar.
Kinan ketawa kecil sambil nutup mulut pakai tangan.
Dan lagi-lagi, mata gue otomatis berhenti beberapa detik di situ.
Gue mulai hafal kebiasaan kecilnya waktu ketawa.
Cara pipinya sedikit naik. Cara kacamatanya turun tipis. Cara dia kadang nahan ketawa sampai bahunya ikut bergerak kecil.
Bahaya banget.
Sekitar jam sepuluh, kerjaan mulai makin sibuk. Banyak file harus dirapihin buat persiapan audit. Semua orang fokus sendiri-sendiri. Suara klik mouse dan keyboard terdengar terus tanpa jeda.
Gue lagi ngetik laporan ketika suara kursi di samping gue ditarik pelan.
Kinan duduk sambil bawa laptop dan map seperti biasa.
“Nyewa tempat lagi,” katanya pelan.
Gue ketawa kecil. “Bulanan aja sekalian.”
Dia senyum kecil sambil buka laptopnya.
Dan jujur aja, sekarang keberadaan dia di kursi sebelah gue udah terasa terlalu natural. Sampai kadang gue lupa kalau dulu kami bahkan hampir nggak pernah ngobrol.
“Yang ini gue takut salah,” katanya sambil nunjuk layar.
Gue mendekat sedikit buat lihat.