Ada kesalahan yang sering dilakukan orang waktu mulai dekat dengan seseorang.
Mereka mengira sudah mengenal orang itu.
Padahal yang mereka kenal sering kali cuma versi yang kebetulan muncul di hadapan mereka.
Versi yang ramah.
Versi yang santai.
Versi yang nyaman.
Padahal setiap manusia punya ruang-ruang yang nggak selalu dibuka. Ada bagian yang disembunyikan bukan karena ingin berbohong, melainkan karena tidak semua luka nyaman diperlihatkan.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya sejak gue mengenal Kinan, gue melihat sedikit celah dari ruang yang selama ini dia tutup rapat.
* * *
Pagi Jakarta datang dengan cara yang khas: tidak benar-benar tenang, tapi juga belum cukup ramai untuk disebut kacau.
Gue berhenti di lampu merah dekat halte TransJakarta. Sebuah bus melintas pelan di depan, mengeluarkan suara desis rem yang sudah terlalu akrab buat orang Jakarta. Di pinggir jalan, seorang bapak sedang menyusun koran pagi yang mungkin lebih banyak dibaca secara digital sekarang. Seorang pengendara motor di samping gue sibuk membalas chat sambil sesekali mengangkat visor helmnya.
Lampu hijau menyala.
Arus kendaraan bergerak lagi.
Dan seperti beberapa minggu terakhir, pikiran gue otomatis menuju kantor.
Bukan karena kerjaannya.
Karena ada seseorang di sana.
Kalau beberapa bulan lalu ada yang bilang gue bakal semangat berangkat kerja gara-gara seorang cewek, mungkin gue bakal ketawa.
Sekarang? Hahahaha…
Ya... hidup memang kadang senang bikin manusia kelihatan bodoh.
Begitu sampai kantor, suasana ruangan terasa sedikit berbeda.
Tidak ramai.
Tidak juga sepi.
Tapi ada sesuatu yang terasa tidak pas.
Gue baru sadar apa itu beberapa detik kemudian.
Meja Kinan kosong.
Biasanya gue nggak akan terlalu memikirkan hal begitu. Orang telat datang itu normal. Orang izin juga normal.
Tapi sekarang kepala gue langsung mulai bikin kemungkinan-kemungkinan sendiri.
Macet?
Sakit?
Ada urusan?
Goblok memang.
Belum apa-apa sudah mikir macam-macam.
Gue duduk di meja sambil menyalakan komputer.
Beberapa menit kemudian Zizah datang.
Lalu Muti.
Tapi Kinan belum muncul.
"Nah," kata Zizah sambil meletakkan tasnya. "Mulai kelihatan."
"Apa?"
"Ekspresi orang yang lagi nyari seseorang."
"Lo tuh kenapa sih hidupnya fokus ke gue terus?"
"Karena hidup gue stabil. Hidup lo lebih menarik."
Muti yang sedang membuka bungkus roti langsung menimpali tanpa melihat ke arah kami.
"Objek penelitian."
"Terima kasih banyak."
Muti mengangguk.
"Sama-sama."
Anak ini memang aneh.
Jam menunjukkan hampir pukul sembilan ketika akhirnya Kinan datang.
Tapi sesuatu langsung terasa berbeda.
Biasanya dia datang sambil membawa senyum kecil.
Hari ini tidak.
Dia tetap memakai pashmina, hari ini warna navy gelap. Tetap memakai kacamata seperti biasa. Tetap terlihat rapi.
Tapi wajahnya terlihat lebih lelah.
Matanya sedikit sembab.
Dan senyumnya terasa dipaksakan.
"Morning," katanya pelan.
Bukan "pagi" seperti biasanya.
Bukan masalah bahasa.
Masalahnya ada di nada suaranya.
Gue langsung sadar.
Ada sesuatu.
Dan bukan sesuatu yang kecil.
Kinan duduk tanpa banyak bicara. Laptop dibuka. Tumbler diletakkan di samping meja. Lalu dia langsung fokus ke layar.
Terlalu fokus.
Orang yang sedang berusaha menghindari percakapan biasanya memang begitu.
Pagi berjalan pelan.
Beberapa kali gue melihat ke arahnya.
Beberapa kali juga dia tetap sibuk dengan pekerjaannya.
Biasanya minimal sekali dia bakal datang ke meja gue sebelum makan siang.
Hari ini tidak.
Sekitar jam sebelas, Zizah akhirnya ikut sadar.
"Kin."
"Hm?"
"Lo sakit?"
"Nggak."
"Bohong."
"Nggak."
"Itu muka lo kayak orang habis nonton lima episode drama sedih."
Kinan cuma tersenyum tipis.
"Capek aja."
Jawaban yang terlalu cepat.
Dan terlalu standar.
Orang yang benar-benar cuma capek biasanya nggak perlu buru-buru menjelaskan.
Setelah itu suasana kembali normal.