Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #17

Orang yang Tidak Selalu Baik-Baik Saja

Ada kebiasaan buruk yang sering dilakukan manusia ketika mulai menyukai seseorang: menganggap orang itu lebih sederhana daripada kenyataannya.

Kita melihat seseorang yang tenang, lalu menyimpulkan hidupnya tenang.

Kita melihat seseorang yang jarang mengeluh, lalu menganggap dia kuat.

Kita melihat seseorang yang sering tersenyum, lalu berpikir dia baik-baik saja.

Padahal kadang orang paling berisik justru paling jujur soal kesedihannya. Sebaliknya, orang yang terlihat paling stabil sering kali sedang sibuk menahan banyak hal sendirian.

Semalam, setelah obrolan di lobby soal pertengkarannya dengan sang ibu, pikiran gue terus balik ke Kinan. Bukan karena ceritanya luar biasa dramatis. Justru karena terdengar sangat biasa.

Masalah keluarga.

Perbedaan pendapat.

Harapan orang tua.

Kelelahan menjadi anak.

Hal-hal yang hampir dialami semua orang.

Tapi justru karena umum, banyak orang meremehkannya.

Padahal capek yang datang dari keluarga sering lebih rumit daripada capek karena pekerjaan.

Kalau kerjaan bikin pusing, kita bisa pulang.

Kalau rumah yang bikin pusing, mau pulang ke mana?

Pikiran itu masih ikut sampai pagi.

Jakarta hari itu mendung lagi. Bukan mendung yang gelap, melainkan mendung yang menggantung malas di langit seperti orang yang belum rela bangun tidur. Udara sedikit lengket. Aspal masih menyimpan sisa air hujan semalam. Beberapa genangan kecil di pinggir jalan memantulkan warna abu-abu langit yang sama suramnya.

Gue berhenti di lampu merah sambil memperhatikan sebuah angkot yang cat belakangnya hampir mengelupas seluruhnya. Tulisan "BISMILLAH" di kaca belakangnya sudah setengah hilang dimakan usia.

Entah kenapa gue langsung kepikiran Arga.

Anak juragan angkot yang hidupnya sekarang lebih sering berurusan sama barang haram daripada armada angkot bapaknya sendiri.

Dulu waktu SMA, Arga termasuk orang yang paling santai. Kalau guru marah, dia ketawa. Kalau nilai jelek, dia ketawa. Kalau diputusin pacar, dia juga ketawa.

Sekarang ketawanya masih ada.

Tapi kosong.

Kadang hidup memang aneh. Orang yang terlihat paling kuat di usia muda justru bisa jadi yang paling rapuh ketika dewasa.

Lampu hijau menyala.

Arus kendaraan bergerak lagi.

Gue melanjutkan perjalanan ke kantor.

Begitu sampai, suasana kantor sudah cukup ramai. Aroma kopi sachet bercampur pendingin ruangan menyambut seperti biasa. Dari kejauhan terdengar suara printer yang lagi-lagi bekerja tanpa penghargaan dari umat manusia.

Meja Kinan sudah terisi.

Dia datang lebih pagi hari ini.

Tapi yang pertama gue perhatikan bukan itu.

Melainkan fakta bahwa wajahnya terlihat jauh lebih baik dibanding kemarin.

Tidak segar.

Tapi lebih ringan.

Begitu melihat gue masuk, dia mengangkat tangan sedikit.

"Badrun."

Nah.

Gue langsung berhenti.

Biasanya dia manggil gue "Run".

Jarang sekali memakai nama lengkap.

"Kenapa?"

"Titipan."

Dia menggeser sebuah kotak kecil ke atas meja gue.

Gue mengernyit.

"Apa nih?"

"Buka aja."

Ternyata isinya beberapa potong brownies.

"Apaan?"

"Kemarin aku bikin."

"Kok gue dapet?"

Dia langsung mengangkat bahu.

"Nggak boleh?"

"Boleh sih."

"Dah. Berarti aman."

Lalu dia kembali fokus ke laptopnya.

Sementara gue masih memandangi brownies itu seperti orang yang sedang mencoba memahami logika dunia.

Zizah yang baru datang langsung melihat.

"Nah."

Gue langsung menunjuk dia.

"Jangan mulai."

"Aku belum ngomong apa-apa."

"Mukanya udah ngomong."

Muti yang sedang membuka aplikasi catatan di HP langsung berkomentar tanpa mengangkat kepala. "Barang bukti."

"Lo berdua serius deh cari hobi lain."

Kinan malah terlihat sedang menahan tawa.

Dan itu melegakan.

Karena kemarin dia terlihat benar-benar tertekan.

Setidaknya pagi ini ada sedikit warna kembali di wajahnya.

* * *

Rutinitas kantor berjalan normal selama beberapa jam berikutnya. Audit internal semakin dekat sehingga semua orang masih sibuk merapikan dokumen. Supervisor beberapa kali lewat mengecek pekerjaan tim. Tidak ada kejadian besar.

Tapi ada sesuatu yang berubah.

Kinan lebih sering diam dibanding biasanya.

Bukan diam yang canggung.

Lebih seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.

Beberapa kali gue melihat dia menatap layar laptop tanpa benar-benar mengetik apa-apa.

Beberapa kali juga dia terlihat sedang mengetik chat panjang di ponsel lalu menghapusnya lagi.

Orang yang sedang berantem dengan keluarga memang sering begitu.

Lihat selengkapnya