Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #18

Jarak yang Tidak Terlihat

Ada satu hal yang jarang dibicarakan orang ketika hubungan mulai tumbuh.

Bukan soal rasa suka.

Bukan soal cemburu.

Bukan soal keberanian menyatakan perasaan.

Melainkan soal jarak.

Bukan jarak kilometer. Bukan jarak rumah ke kantor. Bukan jarak yang bisa dihitung Google Maps.

Tapi jarak antara kehidupan dua orang yang perlahan mulai saling mendekat.

Karena semakin dekat kita mengenal seseorang, semakin banyak pula dunia miliknya yang mulai terlihat. Dan sering kali, dunia itu tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Malam setelah obrolan di lobby soal "capek jadi anak baik", gue pulang dengan kepala yang lebih penuh dibanding biasanya.

Jalanan Jakarta masih basah. Lampu kendaraan memantul di aspal seperti garis-garis cahaya yang pecah. Motor gue melaju pelan di antara antrean mobil yang seolah tidak pernah habis jumlahnya. Di lampu merah dekat sebuah flyover, seorang pengamen kecil berjalan dari kendaraan ke kendaraan sambil membawa ukulele yang suaranya nyaris tenggelam oleh knalpot dan klakson.

Jakarta itu aneh.

Jutaan orang hidup berdempetan.

Tapi kesepian tetap laku keras.

Gue sampai rumah sekitar pukul sembilan malam. Ibu sudah selesai mengaji dan sedang melipat pakaian di ruang tengah. Televisi menyala dengan volume kecil, menampilkan sinetron yang entah sudah episode berapa ribu.

"Nduk..." kata Ibu reflek, lalu langsung membetulkan diri. "Eh, Run."

"Kenapa malah jadi nduk?"

"Ya habis tetangga sebelah tadi ngobrol sama anaknya."

Gue langsung ketawa kecil sambil meletakkan tas.

Nama ibu gue, Raden Ayu Suminten. Orang Jawa tulen yang masih percaya banyak hal yang buat generasi sekarang sering dianggap kuno. Tapi satu hal yang tidak pernah bisa gue bantah: beliau sayang keluarga dengan cara yang mungkin tidak selalu mudah dipahami.

"Kerja aman?" tanyanya.

"Aman."

"Makan?"

"Udah."

Bohong.

Tapi kalau gue jawab belum, lima menit kemudian dapur bisa berubah jadi proyek nasional.

Ibu mengangguk lalu kembali melipat pakaian.

Obrolan berhenti di situ.

Bukan karena hubungan kami tidak dekat. Memang dari dulu begitu. Gue dan Ibu bukan tipe yang mengobrol panjang setiap hari. Tapi ada semacam pemahaman diam-diam yang terbangun bertahun-tahun.

Kadang justru keluarga yang paling dekat tidak membutuhkan terlalu banyak kata.

Malam itu gue masuk kamar dan rebahan sambil menatap langit-langit.

Lalu seperti orang tolol pada umumnya, gue membuka chat.

Nama Kinan ada di sana.

Terakhir online beberapa menit lalu.

Gue sempat mengetik:

"Udah baikan sama mama?"

Lalu menghapusnya.

Ngetik lagi.

Hapus lagi.

Akhirnya HP gue lempar ke samping.

"Goblok."

Kalau ada lomba overthinking nasional, manusia yang mulai jatuh cinta pasti masuk semifinal minimal.

Pagi harinya Jakarta kembali menunjukkan gejala cuaca yang tidak punya pendirian. Langit cerah, tapi awan hitam sudah berkumpul di kejauhan seperti tim futsal yang sedang pemanasan sebelum pertandingan.

Di perjalanan menuju kantor, Repan menelepon.

Gue pasang headset.

"Apaan?"

"Masih hidup?"

"Sayangnya iya."

"Alhamdulillah."

"Ada apa?"

Suara mesin kompresor bengkel terdengar dari seberang.

Repan memang hampir selalu ada di bengkelnya kalau pagi.

"Nongkrong Jumat malam."

"Nanti lihat."

"Jangan nanti lihat terus."

"Kerja gue bukan bengkel. Besok audit."

"Yaelah."

"Lagian lu ngapain?"

"Ngopi."

"Pagi-pagi?"

"Pemilik usaha bebas."

"Songong."

Repan ketawa.

Lalu tiba-tiba bilang, "Lu lagi suka cewek ya?"

Gue hampir menabrak motor depan.

"Anjing."

"Nah bener."

"Logikanya mana?"

"Dari dulu kalau kepala lu penuh, cara ngomong lu beda."

Gue langsung memutus telepon.

Karena sahabat kadang memang makhluk yang terlalu mengenal kita.

* * *

Begitu sampai kantor, suasana langsung terasa lebih sibuk dari biasanya. Audit internal tinggal hitungan hari. Bahkan supervisor yang biasanya masih sempat bercanda sekarang mulai terlihat serius.

Meja Kinan sudah terisi lagi.

Lihat selengkapnya