Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #19

Hal yang Tidak Sengaja Dibandingkan

Ada satu kebiasaan manusia yang menurut gue agak kurang ajar.

Kita sering bilang setiap orang itu unik, setiap hubungan itu berbeda, setiap kehidupan punya jalannya masing-masing.

Tapi di dalam kepala, diam-diam kita tetap membandingkan.

Membandingkan diri sendiri dengan teman yang lebih sukses.

Membandingkan keluarga sendiri dengan keluarga orang lain.

Membandingkan hubungan yang sedang dijalani dengan hubungan yang terlihat lebih bahagia.

Lucunya, perbandingan itu hampir selalu tidak adil. Kita membandingkan isi hidup kita yang kita tahu luar dalam dengan permukaan hidup orang lain yang cuma kita lihat sekilas.

Lalu kita heran kenapa jadi tidak tenang.

Pagi setelah obrolan di lobby soal pilihan hidup dan keluarga, kepala gue masih sedikit berat. Bukan karena kerjaan. Audit internal kantor justru berjalan cukup baik sejauh ini. Yang mengganggu justru kalimat Kinan kemarin. "Kalau suatu hari nanti gue memilih sesuatu yang nggak disukai keluarga..."

Kalimat itu terus muter seperti lagu yang tidak selesai.

Bukan karena jawabannya.

Tapi karena pertanyaannya.

Orang biasanya tidak bertanya begitu kalau tidak sedang memikirkan sesuatu yang nyata.

Dan entah kenapa, ada bagian kecil dalam diri gue yang mulai merasa bahwa apa pun yang sedang dia hadapi, masalah itu lebih besar daripada yang selama ini dia ceritakan.

Jakarta pagi itu panas.

Akhirnya.

Setelah berminggu-minggu hujan seperti punya kontrak eksklusif dengan langit ibu kota, matahari muncul dengan penuh percaya diri. Aspal memantulkan panas sejak pagi. Pedagang bubur depan kantor bahkan sudah berkeringat padahal jam belum menunjukkan pukul delapan.

Gue memarkir motor sambil mengeluh dalam hati.

Manusia memang tidak pernah puas.

Kemarin hujan dikeluhkan.

Sekarang panas juga dikeluhkan.

Mungkin yang salah bukan cuacanya.

Mungkin memang manusianya.

Begitu masuk kantor, suasana terasa sedikit lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Audit tinggal beberapa langkah lagi selesai. Orang-orang mulai bisa bernapas normal.

Zizah bahkan sudah kembali ke bentuk aslinya.

Artinya banyak ngomong.

"Kalau audit kelar gue mau cuti."

Supervisor yang kebetulan lewat langsung menyahut.

"Cuti buat apa?"

"Tidur."

"Itu bukan alasan cuti."

"Itu kebutuhan biologis."

Satu ruangan langsung tertawa.

Gue menggeleng sambil duduk di kursi.

Lalu refleks melihat ke arah meja Kinan.

Sudah datang.

Sedang mengetik sesuatu dengan ekspresi serius.

Hari ini dia memakai pashmina warna dusty pink yang dipadukan dengan kemeja putih sederhana. Kacamata tipisnya masih bertengger rapi. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding beberapa hari terakhir, tapi belum sepenuhnya kembali seperti sebelumnya.

Ada sesuatu yang masih tertinggal.

Orang mungkin menyebutnya beban pikiran.

Atau mungkin hanya kelelahan yang belum selesai.

Beberapa menit kemudian, sebuah kertas kecil mendarat di meja gue.

Gue mengangkat kepala.

Kinan langsung pura-pura melihat monitor.

Gue membuka kertas itu.

Tulisan tangannya kecil dan rapi.

"Brownies kemarin jujur nilainya berapa?"

Gue langsung menahan tawa.

Lalu menulis balasan.

"Sebagai makanan: 8/10."

Gue lipat lagi lalu geser ke mejanya.

Beberapa detik kemudian dia membaca.

Lalu menoleh.

Tatapannya datar.

Tidak puas.

Kertas itu kembali ke meja gue.

"Kenapa nggak 10?"

Gue hampir tertawa keras.

"Karena gue masih hidup. Berarti nggak sempurna."

Kali ini dia benar-benar memutar kursinya sedikit dan menatap gue.

Tatapan yang biasanya tenang sekarang terlihat sedikit kesal.

Dan anehnya, gue justru senang melihatnya.

Karena sejak beberapa hari lalu, Kinan tidak lagi selalu muncul sebagai sosok yang kalem dan lembut sepanjang waktu.

Ada sisi lain yang mulai keluar.

Sisi yang bisa kesal.

Bisa ngotot.

Bisa tidak setuju.

Dan justru itu membuatnya terasa jauh lebih nyata.

Manusia yang terlalu sempurna biasanya cuma ada di iklan skincare.

Sekitar pukul sepuluh pagi, pekerjaan kembali menyita perhatian semua orang. File demi file diperiksa. Data dicocokkan. Supervisor berkeliling seperti satpam yang baru menemukan tujuan hidup.

Di tengah kesibukan itu, ponsel gue bergetar.

Repan.

Gue langsung tahu kalau ini bukan urusan penting.

Kalau penting biasanya dia chat.

Kalau telepon berarti kemungkinan besar omong kosong.

Dan benar saja.

Lihat selengkapnya