Ada perbedaan besar antara tidak tahu dan pura-pura tidak tahu.
Tidak tahu itu sederhana. Otak belum punya informasi.
Tapi pura-pura tidak tahu jauh lebih rumit. Karena sebenarnya kita sudah melihat petunjuknya, sudah mendengar nadanya, sudah merasakan ada sesuatu yang berubah, tetapi memilih untuk tidak menyentuhnya karena takut menemukan jawaban yang tidak kita suka.
Dan belakangan, gue mulai curiga gue sedang melakukan yang kedua.
Setelah obrolan-obrolan beberapa hari terakhir, setelah cerita soal ibunya, soal rasa capek menjadi anak baik, soal hidup yang terasa sesak oleh harapan orang lain, gue tahu ada sesuatu yang sedang terjadi dalam hidup Kinan.
Sesuatu yang belum selesai.
Sesuatu yang belum sepenuhnya dia ceritakan.
Tapi sejauh ini gue memilih tidak menggali lebih jauh.
Alasannya terdengar dewasa.
Menghargai privasi.
Memberi ruang.
Tidak memaksa.
Padahal kalau jujur, sebagian alasannya jauh lebih pengecut.
Karena kalau gue tahu masalah sebenarnya, mungkin gue juga harus menerima kenyataan yang datang bersamanya.
Dan tidak semua kenyataan menyenangkan.
Pagi itu Jakarta kembali menjalankan profesinya sebagai kota yang membuat manusia mempertanyakan pilihan hidup mereka. Matahari belum terlalu tinggi, tapi panasnya sudah cukup untuk membuat punggung terasa lengket di balik jaket motor. Sebuah truk besar mengeluarkan asap hitam di depan gue. Seorang pengendara lain dengan santainya menerobos lampu kuning yang secara hukum sudah hampir merah. Klakson bersahutan seperti orkestra yang tidak pernah latihan.
Entah kenapa gue jadi ingat ucapan Dapi beberapa bulan lalu.
"Kalau ada lomba nasional bikin stres orang, Jakarta masuk tiga besar."
Waktu itu kami sedang nongkrong di warung kopi dekat stasiun. Dapi baru pulang dari kursus bahasa Jerman dan terlihat frustrasi karena gagal ujian simulasi.
Lucunya sekarang dia mungkin sedang belajar kata-kata Jerman yang rumit, sementara gue justru kalah pusing oleh seorang perempuan berkacamata yang sering membawa laptop ke meja gue.
Manusia memang tidak adil dalam memilih sumber masalah.
Begitu sampai kantor, suasana terasa jauh lebih santai dibanding minggu sebelumnya. Audit yang membuat semua orang seperti zombie korporat akhirnya hampir selesai. Orang-orang mulai tertawa lagi. Bahkan printer yang biasanya terdengar seperti mesin perang sekarang terasa lebih bersahabat.
Kinan sudah datang.
Hari ini pashminanya berwarna abu muda. Kacamata yang sama. Tumbler yang sama. Cara duduk yang sama.
Tapi suasananya tidak sama.
Gue tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Kadang perubahan tidak muncul dalam bentuk yang jelas. Tidak ada tangisan. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada ledakan emosi.
Hanya ada perasaan bahwa seseorang sedang sedikit menjauh ke dalam dirinya sendiri.
Dan pagi itu gue merasakan itu.
Ketika gue duduk di meja, dia tetap menyapa.
Tetap tersenyum.
Tetap berbicara ketika perlu.
Tapi ada jeda-jeda kecil yang sebelumnya tidak ada.
Dan anehnya, justru jeda itulah yang paling terasa.
* * *
Menjelang pukul sepuluh pagi, Zizah datang ke area meja kami sambil membawa segelas es kopi.
"Breaking news."
"Tidak ada yang pernah suka kalau lo buka kalimat pakai breaking news," kata gue.
"Diam."
"Lanjut."
Zizah menunjuk Kinan.
"Kemarin dia nolak diajak keluar."
Kinan langsung menutup mata.
"Masa sih?" kata gue.
"Serius."
"Diajak siapa?"
"Aku."
"Oalah."
Zizah mendengus.
"Tolong hargai perjuangan saya."
Kinan memutar kursinya sedikit.
"Aku capek."
"Itu alasan standar."
"Karena memang capek."
"Atau karena lagi mikirin sesuatu."
Kinan tidak menjawab.
Nah.
Kalau beberapa bulan lalu gue mungkin tidak akan memperhatikan detail seperti itu. Tapi sekarang gue sadar. Diamnya Kinan tidak selalu punya arti yang sama.
Ada diam yang nyaman.
Ada diam yang malu.
Ada diam yang bingung.
Dan ada diam yang digunakan untuk menghindari pembicaraan.
Yang barusan termasuk kategori terakhir.
Untungnya Zizah tidak melanjutkan.
Mungkin dia juga sadar.
Atau mungkin dia sedang haus.
Sulit menebak prioritas hidup Zizah.
* * *
Siang harinya, sesuatu yang sebenarnya kecil mulai mengganggu gue.
Kinan lebih sering memegang ponselnya.
Bukan main media sosial.
Bukan tertawa-tawa membaca chat.
Lebih seperti seseorang yang sedang menunggu kabar.
Beberapa kali layar menyala.
Beberapa kali dia membaca.
Beberapa kali ekspresinya berubah.
Lalu ponsel itu kembali diletakkan.
Awalnya gue tidak terlalu memikirkan.
Sampai sekitar jam satu siang.
Ketika sebuah nama muncul sekilas di layar yang belum sempat terkunci.
Gue tidak sengaja melihat.
Dan benar-benar tidak sengaja.
Nama laki-laki.
Cuma itu.
Tidak lebih.
Tidak ada foto yang jelas.