Ada satu hal yang baru gue sadari setelah umur lewat dua puluh lima.
Rumah ternyata bukan cuma tempat pulang.
Rumah adalah tempat yang diam-diam menyimpan versi diri kita yang tidak diketahui orang lain.
Di kantor, gue bisa jadi karyawan.
Di tongkrongan, gue bisa jadi orang yang paling banyak bercanda.
Di jalanan, gue cuma pengendara motor yang ikut terjebak macet bersama jutaan orang lain.
Tapi di rumah, semua itu rontok.
Di rumah, gue tetap anaknya Ibu Suminten.
Sesederhana itu.
Dan kadang sesulit itu.
Malam setelah obrolan di lobby dengan Kinan, gue pulang lebih lambat dari biasanya. Bukan karena lembur. Cuma sengaja muter sedikit melewati jalan-jalan yang sebenarnya tidak perlu dilewati. Entah kenapa kepala gue masih penuh oleh percakapan sore tadi. Tentang rasa capek. Tentang menjelaskan diri sendiri. Tentang manusia yang perlahan mulai menunjukkan sisi yang tidak selalu enak dilihat.
Lampu-lampu Jakarta memantul di aspal yang masih menyimpan panas siang hari. Sebuah bus TransJakarta melintas di jalur khusus dengan suara mesin berat yang sudah akrab di telinga. Di trotoar, beberapa pedagang kaki lima mulai membuka lapak. Aroma sate bercampur asap kendaraan. Seorang kurir berhenti di lampu merah sambil memeriksa alamat di ponselnya. Seorang bapak tua mendorong gerobak kopi keliling dengan langkah yang terlihat lelah tetapi tetap konsisten.
Kadang gue berpikir kota ini berjalan bukan karena gedung-gedung tinggi.
Tapi karena jutaan orang biasa yang bangun setiap pagi dan memutuskan untuk terus hidup.
Sesampainya di rumah, motor gue baru saja masuk halaman ketika suara televisi terdengar dari ruang tamu. Rumah kami bukan rumah besar. Rumah sederhana di gang perumahan yang sudah gue tinggali sejak kecil. Cat temboknya pernah beberapa kali diperbarui. Pagar depannya sudah mulai menunjukkan umur. Tapi ada sesuatu yang selalu terasa sama.
Perasaan bahwa tempat ini mengenal gue lebih baik daripada siapa pun.
Begitu membuka pintu, aroma sayur lodeh langsung menyambut.
"Baru pulang?"
Suara Ibu Suminten terdengar dari ruang makan.
"Iya, Bu."
"Makan dulu."
Kalau dipikir-pikir, mungkin itu salah satu kalimat yang paling sering diucapkan ibu-ibu Indonesia.
Makan dulu.
Bukan apa kabar.
Bukan gimana kerjaan.
Bukan lagi mikirin apa.
Tapi makan dulu.
Seolah semua masalah hidup bisa ditunda selama perut masih terisi.
Dan kadang memang begitu.
Gue mencuci tangan lalu duduk di meja makan. Ibu sedang merapikan beberapa piring. Rambutnya yang mulai banyak memutih diikat sederhana. Wajahnya terlihat lelah, tapi seperti biasa, beliau selalu terlihat lebih sibuk mengurus orang lain daripada dirinya sendiri.
"Kerjaan udah mendingan?" tanyanya.
"Udah. Audit hampir selesai."
"Alhamdulillah."
Lalu percakapan berhenti sejenak.
Bukan karena kehabisan topik.
Memang begitulah hubungan gue dan ibu.
Tidak banyak kata-kata besar.
Tapi ada kenyamanan yang sudah terbentuk bertahun-tahun.
Beliau duduk di kursi seberang sambil mengupas buah.
"Tadi siang Bu Sarmi ke sini."
"Nagih utang?"
Ibu langsung melotot.
"Mulutmu."
Gue tertawa.
Rumah mendadak terasa lebih ringan.
"Tanya kabar aja."
"Kirain pinjol."
"Kalau pinjol, yang dicari kamu."
"Fitnah."
Ibu menggeleng sambil tersenyum tipis.
Momen-momen seperti ini sering terasa biasa ketika dijalani. Tapi entah kenapa beberapa tahun belakangan gue mulai menyadari bahwa yang paling cepat hilang dari hidup sering kali justru hal-hal yang terlihat biasa.
Makan malam.
Suara televisi.
Obrolan pendek.
Teguran kecil.
Semua itu terlihat remeh sampai suatu hari tidak ada lagi.
* * *
Keesokan harinya kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Kantor mulai memasuki fase normal setelah audit. Orang-orang kembali mengeluh soal pekerjaan harian. Artinya keadaan sudah benar-benar pulih.
Manusia memang unik.
Kalau terlalu sibuk mengeluh.
Kalau terlalu santai juga mengeluh.
Sekitar pukul sembilan pagi, Kinan datang ke meja gue.
Bukan membawa laptop.
Bukan membawa file.
Dia cuma berdiri.
"Kamu masih ngambek?"
Gue hampir tersedak kopi.
"Hah?"
"Kemarin."
"Oh."
Ternyata dia langsung menembak topik itu.
Tidak muter-muter.
Tidak pakai basa-basi.
Cukup khas Kinan ketika sudah memutuskan sesuatu harus dibahas.
"Nggak ngambek."
"Kelihatannya iya."
"Kelihatannya doang."
Dia mengamati wajah gue beberapa detik.
Lalu duduk di kursi kosong sebelah meja.
"Aku juga minta maaf."