Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #22

Orang-Orang yang Mulai Berubah

Waktu punya cara yang aneh untuk menunjukkan dirinya.

Saat masih sekolah, satu tahun terasa panjang sekali. Ujian akhir terasa seperti sesuatu yang datang dari masa depan yang sangat jauh. Libur semester terasa abadi. Menunggu jam pulang sekolah terasa seperti hukuman.

Lalu entah sejak kapan semuanya berubah.

Sekarang satu bulan bisa lewat begitu saja.

Tiba-tiba kalender sudah berganti.

Tiba-tiba teman sebaya sudah menikah.

Tiba-tiba orang tua terlihat lebih tua.

Tiba-tiba ada orang yang dulu selalu hadir, lalu perlahan menghilang dari lingkaran hidup tanpa pernah ada perpisahan resmi.

Dan yang paling menakutkan bukan perubahan itu sendiri.

Melainkan kenyataan bahwa kita sering baru menyadarinya setelah semuanya terjadi.

Pagi itu gue berangkat kerja lebih awal dari biasanya. Bukan karena rajin. Jangan memfitnah karakter utama novel ini. Penyebabnya jauh lebih sederhana. Jalan depan kompleks sedang dibongkar sehingga kalau berangkat terlalu siang, peluang terjebak macet naik drastis.

Jakarta memang kota yang kreatif dalam menciptakan penderitaan kecil.

Begitu satu masalah selesai, masalah baru muncul menggantikannya. Bahkan seringkali masalah sebelumnya belum selesai, masalah baru sudah tidak sabar untuk hadir.

Motor gue melintasi jalan tikus yang biasanya dipakai warga sekitar. Di depan sebuah warung nasi uduk, beberapa pengemudi ojek online sedang sarapan sambil menatap layar ponsel masing-masing. Seorang bapak menyapu halaman rumah. Di ujung gang terdengar suara azan Subuh yang terlambat diputar dari rekaman masjid kecil. Langit masih berwarna pucat, belum sepenuhnya terang.

Ada sesuatu yang menenangkan dari Jakarta di jam-jam seperti itu.

Kota ini belum sepenuhnya bangun.

Belum terlalu bising.

Belum terlalu marah.

Sesampainya di kantor, suasana masih lengang. Hanya beberapa orang yang sudah datang. AC sentral baru dinyalakan sehingga udara masih terasa setengah dingin setengah pengap. Aroma kopi sachet bercampur dengan bau karpet kantor yang entah kenapa selalu sama di mana-mana.

Kinan belum datang.

Dan anehnya gue sadar gue langsung memperhatikan itu.

Menyebalkan.

Karena semakin hari, semakin banyak kebiasaan yang tanpa sadar mulai bergantung pada keberadaannya.

Gue menyalakan komputer lalu mulai membuka email. Sekitar lima belas menit kemudian, kursi di sebelah meja gue bergerak.

Bukan Kinan.

Zizah.

"Kecewa?"

"Hah?"

"Bukan Kinan."

Gue langsung menghela napas.

"Lo ini terlalu banyak waktu luang."

"Aku observatif."

"Kepo."

"Itu juga benar."

Zizah tertawa sendiri lalu membuka bekal sarapan yang dibawanya dari rumah.

Beberapa menit kemudian Kinan datang.

Pashmina warna krem muda.

Kemeja biru muda.

Kacamata yang sama.

Tumbler yang sama.

Tapi hari ini wajahnya terlihat kurang tidur.

Bukan pucat.

Lebih seperti seseorang yang semalaman terlalu banyak berpikir.

Ia menyapa beberapa orang lalu duduk di mejanya.

Tidak lama kemudian ponselnya bergetar.

Ia membaca sesuatu.

Dan untuk sepersekian detik, ekspresinya berubah.

Kesal.

Bukan sedih.

Bukan cemas.

Kesal.

Lalu ponsel itu diletakkan sedikit lebih keras dari biasanya.

Nah.

Ada sesuatu lagi.

Dan entah kenapa, gue mulai membenci kemampuan otak gue dalam memperhatikan detail-detail yang sebenarnya bukan urusan gue.

* * *

Jam makan siang tiba lebih cepat daripada biasanya. Mungkin karena pekerjaan sedang tidak terlalu padat.

Atau mungkin karena manusia memang selalu merasa waktu berjalan lambat ketika bekerja dan cepat ketika menunggu makan.

Gue, Kinan, Zizah, dan Muti akhirnya makan di warteg dekat kantor yang sudah jadi langganan setengah gedung.

Tempatnya sederhana. Kursi plastik. Meja aluminium. Kipas angin tua yang bunyinya seperti sedang berjuang mempertahankan eksistensi.

Tapi masakannya enak.

Dan dalam ekonomi Indonesia, itu sudah cukup.

Muti yang biasanya paling pendiam tiba-tiba bertanya.

"Kak Kinan."

"Hm?"

"Kalau ada orang nyebelin terus ngechat tiap hari itu artinya apa?"

Zizah langsung tertawa.

"Kenapa? Ada yang ngedeketin?"

Muti mengangguk.

"Kayaknya."

"Terus?"

"Aku nggak suka."

"Ya bilang."

"Aku nggak enakan."

Gue hampir tersedak es teh.

Masalah terbesar banyak orang Indonesia memang bukan kekurangan keberanian.

Tapi kelebihan rasa nggak enakan.

Kinan yang sedari tadi diam akhirnya bicara.

"Kalau nggak suka ya bilang."

"Nggak enak."

"Kalau diterusin juga nggak enak."

Muti terlihat berpikir keras.

Lalu mengangguk pelan.

Sementara itu gue memperhatikan sesuatu.

Nada suara Kinan.

Agak berbeda.

Lebih tegas.

Lebih personal.

Seolah topik itu menyentuh sesuatu yang dekat dengannya.

Dan dugaan gue semakin kuat ketika beberapa menit kemudian ponselnya kembali bergetar.

Lihat selengkapnya