Ada masa dalam hidup ketika kita mulai sadar bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan niat baik.
Waktu kecil, dunia terasa sederhana. Kalau teman sedih, hibur. Kalau ada yang jatuh, bantu berdiri. Kalau ada yang bertengkar, minta maaf lalu selesai.
Semakin dewasa, semakin kelihatan kalau hidup tidak bekerja seperti itu.
Ada orang yang sudah dibantu berkali-kali tapi tetap jatuh.
Ada orang yang sudah diperingatkan berkali-kali tapi tetap memilih jalan yang sama.
Ada orang yang sebenarnya ingin ditolong, tetapi tidak cukup kuat untuk menerima pertolongan.
Dan ada juga yang lebih rumit.
Orang yang tidak merasa dirinya sedang tenggelam.
Padahal semua orang di sekitarnya sudah melihat air mencapai leher.
Pagi itu pesan Repan semalam masih ada di kepala gue.
"Arga muncul tadi."
"Nggak baik."
Hanya dua kalimat pendek.
Tapi cukup membuat tidur gue tidak terlalu nyenyak.
Bukan karena kaget.
Kalau jujur, beberapa bulan terakhir kami semua sudah melihat tanda-tandanya.
Arga makin jarang muncul.
Nomornya sering tidak aktif.
Kadang menghilang berminggu-minggu lalu muncul seperti tidak terjadi apa-apa.
Awalnya masih bisa ditutupi dengan alasan sibuk.
Lalu perlahan semua orang berhenti berbohong kepada diri sendiri.
Masalahnya bukan lagi apakah Arga sedang baik-baik saja.
Masalahnya adalah seberapa buruk kondisinya sekarang.
Jakarta pagi itu mendung. Jalanan masih basah oleh hujan semalam. Di bawah flyover, beberapa pedagang bubur sudah ramai didatangi pelanggan. Bus TransJakarta melintas di jalurnya dengan suara rem angin yang khas. Seorang pengendara motor di depan gue membawa galon air sambil tetap bermain ponsel ketika berhenti di lampu merah.
Ada banyak alasan kenapa angka stres warga kota besar tinggi.
Salah satunya karena kita harus berbagi jalan dengan manusia-manusia seperti itu.
Sesampainya di kantor, suasana berjalan normal. Terlalu normal malah.
Kadang kehidupan memang punya selera humor yang aneh.
Di satu sisi seseorang sedang kehilangan arah hidup.
Di sisi lain dunia tetap berjalan seperti biasa.
Mesin absensi tetap berbunyi.
Email tetap berdatangan.
Printer tetap macet pada waktu yang paling tidak tepat.
Dan Zizah tetap berisik.
"Kalian tahu nggak?" katanya tiba-tiba dari seberang meja.
"Nggak," jawab gue.
"Belum ngomong apa-apa."
"Nggak dulu."
Muti langsung tertawa.
Kinan yang sedang mengetik hanya menggeleng kecil.
Sudah terbiasa.
Mungkin seluruh lantai kantor ini sudah terbiasa.
Beberapa menit kemudian Zizah tetap bercerita meskipun tidak ada yang meminta.
Ternyata tentang drama artis.
Sesuatu yang menurut gue luar biasa.
Manusia bisa hafal perceraian orang yang tidak dikenalnya, tapi lupa bayar listrik sendiri.
* * *
Menjelang siang, ponsel gue bergetar.
Repan.
"Malam ini ke bengkel."
"Penting?"
"Iya."
Jeda beberapa detik.
Lalu muncul pesan baru.
"Arga datang lagi."
Gue langsung menatap layar.
Perut mendadak terasa tidak nyaman.
Karena gue tahu.
Kalau Repan sampai mengirim pesan seperti itu saat jam kerja, berarti ada sesuatu yang memang tidak bisa dianggap remeh.
* * *
Hari itu Kinan beberapa kali memperhatikan gue.
Mungkin karena gue lebih diam dari biasanya.
Biasanya kalau Zizah mulai membuat teori konspirasi tentang kehidupan artis, gue masih ikut bercanda.
Hari ini tidak terlalu.
Sekitar jam makan siang, saat kami sedang berjalan menuju warteg langganan, Kinan akhirnya bertanya.
"Kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Kamu kalau bohong kelihatan."
Gue menoleh.
"Lah emang ada cirinya?"
"Ada."
"Apa?"
"Kamu jadi banyak mikir."
"Itu bukan ciri."
"Itu ciri."
Perdebatan absurd yang tidak akan menghasilkan pemenang.
Tapi setelah beberapa saat, gue akhirnya cerita.
Sedikit.
Tentang Arga.
Tentang kondisi yang makin mengkhawatirkan.
Tentang rasa tidak enak karena sebagai teman, gue merasa seharusnya bisa melakukan sesuatu.
Kinan mendengarkan tanpa memotong.
Salah satu hal yang gue suka darinya.
Dia tidak selalu merasa harus punya jawaban.
Banyak orang mendengarkan hanya untuk menunggu giliran bicara.
Kinan tidak.
"Kalau menurut aku..." katanya pelan setelah beberapa saat.
"Hm."
"Kamu nggak bisa nyalahin diri sendiri atas semua keputusan orang lain."
Gue mengaduk es teh.
"Tahu."