Ada jenis kelelahan yang tidak terlihat.
Bukan kelelahan karena kurang tidur.
Bukan karena lembur.
Bukan karena jalanan macet atau pekerjaan yang menumpuk.
Kelelahan itu muncul ketika seseorang terlalu lama berpura-pura baik-baik saja.
Masalahnya, manusia cukup hebat dalam berpura-pura.
Senyum tetap bisa muncul.
Candaan tetap bisa keluar.
Aktivitas tetap berjalan.
Dari luar, semuanya terlihat normal.
Padahal di dalam, ada sesuatu yang perlahan retak.
Dan yang paling berbahaya dari retakan kecil adalah kenyataan bahwa sering kali tidak ada yang menyadarinya sampai semuanya terlambat.
Pagi itu gue terbangun lebih cepat dari alarm. Langit masih gelap kebiruan. Dari mushola ujung gang terdengar suara azan Subuh yang menggema pelan di antara rumah-rumah. Angin pagi masuk melalui jendela ruang tengah yang sengaja dibiarkan terbuka semalaman. Rumah terasa tenang.
Terlalu tenang.
Gue duduk beberapa saat di tepi kasur sebelum akhirnya keluar kamar.
Ibu Suminten sudah bangun.
Tentu saja.
Kadang gue curiga ibu-ibu generasi beliau memiliki perjanjian rahasia dengan waktu.
Mereka selalu bangun lebih pagi dari siapa pun.
Beliau sedang menyapu halaman depan ketika gue keluar.
"Subuh dulu, baru bengong."
"Saya belum bengong."
"Itu muka apa kalau bukan bengong?"
Gue menyerah.
Sulit memenangkan perdebatan dengan orang yang sudah mengenal wajah kita sejak umur nol tahun.
Setelah salat, gue membantu mengangkat beberapa pot tanaman yang semalam kehujanan. Sebenarnya tidak perlu dibantu. Tapi entah kenapa beberapa bulan terakhir gue mulai menikmati pekerjaan-pekerjaan kecil di rumah.
Dulu waktu masih lebih muda, gue selalu merasa rumah itu tempat singgah sementara sebelum kembali ke dunia luar.
Sekarang gue mulai sadar.
Dunia luar ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang gue kira.
Dan rumah adalah satu-satunya tempat yang tidak meminta gue menjadi siapa-siapa.
"Coba lihat ini."
Ibu menunjuk tanaman cabai di depan rumah.
"Kenapa?"
"Buahnya mulai tumbuh."
Gue mendekat.
Benar.
Beberapa cabai kecil mulai muncul.
Lalu tanpa diduga beliau tersenyum seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah.
Dan saat itu gue kembali melihat sesuatu yang sering dilupakan anak-anak tentang orang tua mereka.
Bahwa kebahagiaan mereka sering kali sederhana.
Jauh lebih sederhana daripada yang kita bayangkan.
* * *
Perjalanan menuju kantor pagi itu cukup lancar. Jakarta sedang dalam suasana yang jarang terjadi. Tidak terlalu macet. Tidak terlalu panas. Tidak terlalu marah.
Di lampu merah dekat halte TransJakarta, gue melihat seorang petugas kebersihan sedang menyapu trotoar. Beberapa pegawai kantoran berjalan cepat sambil memegang kopi kemasan. Seorang pedagang gorengan sedang sibuk melayani pembeli.
Kota ini penuh oleh orang-orang yang kehidupannya tidak pernah masuk berita.
Tapi justru mereka yang membuat semuanya tetap berjalan.
Sesampainya di kantor, suasana masih biasa.
Tapi ada sesuatu yang langsung gue sadari.
Kinan belum datang.
Padahal biasanya dia hampir selalu tepat waktu.
Gue tidak terlalu memikirkannya sampai satu jam kemudian.
Masih belum datang.
Baru sekitar pukul sembilan lewat, dia muncul.
Dan wajahnya terlihat berbeda.
Bukan karena kurang tidur seperti beberapa hari lalu.
Lebih dari itu.
Matanya sembap.
Pashmina warna abu-abu muda yang dikenakannya terlihat sedikit berantakan, seolah dipakai terburu-buru. Kacamata yang biasanya selalu pas kini beberapa kali harus dibetulkan posisinya.
Dia tetap menyapa orang-orang.
Tetap tersenyum.
Tetap bekerja.
Kalau tidak benar-benar memperhatikan, mungkin tidak akan terlihat ada yang salah.
Tapi gue memperhatikan.
Dan sepertinya bukan cuma gue.
Zizah juga.
Muti juga.
Namun tidak ada yang langsung bertanya.
Karena kadang perhatian terbaik bukanlah rasa ingin tahu.
Melainkan memberi ruang.
* * *
Sekitar jam makan siang, Kinan akhirnya mengajak gue keluar sebentar.
Bukan ke warteg.
Bukan ke kantin.
Hanya ke area belakang gedung yang cukup sepi.
Angin siang bertiup pelan. Langit mendung tipis. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan dan klakson yang saling bersahutan.
"Kamu sibuk?"
"Nggak."
Dia mengangguk pelan.
Lalu diam.
Beberapa detik.
Beberapa puluh detik.
Dan gue membiarkan diam itu ada.
Karena tidak semua orang bisa langsung mengeluarkan apa yang sedang mengganggu pikirannya.
"Aku berantem sama mama."