Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #25

Kabar yang Tidak Nyaman

Semakin dewasa, semakin gue percaya bahwa hidup jarang berubah karena satu kejadian besar.

Kebanyakan perubahan datang diam-diam.

Pelan.

Hampir tidak terdengar.

Seperti retakan kecil di dinding rumah.

Awalnya cuma garis tipis yang bahkan tidak diperhatikan. Lalu minggu berikutnya sedikit lebih panjang. Bulan berikutnya mulai terlihat jelas. Sampai suatu hari orang-orang berdiri di depannya dan bertanya sejak kapan retakan itu ada.

Padahal jawabannya sederhana.

Retakan itu sudah ada dari lama.

Hanya saja tidak ada yang benar-benar melihat.

Pagi setelah Dapi datang ke rumah, suasana hati gue agak aneh. Tidak buruk. Tidak juga bagus. Lebih seperti seseorang yang sedang membawa banyak pikiran sekaligus.

Motor gue melaju melewati jalan yang sama. Lampu merah yang sama. Halte TransJakarta yang sama. Pedagang bubur yang sama.

Tapi mungkin memang benar.

Yang berubah bukan kota.

Yang berubah adalah isi kepala orang yang melihatnya.

Di salah satu persimpangan, gue melihat seorang bapak sedang mengajari anaknya naik sepeda. Bocah itu jatuh. Menangis sebentar. Berdiri lagi. Mencoba lagi.

Pemandangan sederhana.

Tapi entah kenapa membuat gue teringat sesuatu.

Dulu waktu kecil, kegagalan terasa ringan.

Karena selalu ada orang yang meyakinkan bahwa kita bisa mencoba lagi.

Masalahnya ketika dewasa, sering kali kita harus menjadi orang itu untuk diri sendiri.

Dan ternyata jauh lebih sulit.

* * *

Di kantor, Kinan sudah datang lebih dulu.

Ia sedang mengetik sesuatu dengan cukup serius. Pashmina hitam yang dikenakannya hari itu membuat kulit putihnya terlihat semakin kontras. Kacamata yang biasa bertengger di hidungnya sedikit turun sehingga beberapa kali harus dibetulkan.

Gue baru saja duduk ketika dia melirik.

"Dapi gimana?"

Nah.

Pertanyaan itu langsung mengingatkan gue bahwa semalam gue sempat bercerita soal Dapi.

"Masih kecewa."

"Wajar."

"Hm."

"Kamu juga kepikiran."

"Bisa baca pikiran sekarang?"

"Bukan."

Dia menatap wajah gue beberapa detik.

"Keliatan."

Menyebalkan memang.

Tapi belakangan Kinan semakin sering benar.

Dan gue semakin tidak suka mengakuinya.

Pagi itu pekerjaan berjalan cukup normal sampai sekitar pukul sepuluh.

Lalu ponsel gue bergetar.

Nama yang muncul membuat perut gue langsung terasa tidak nyaman.

Repan.

Jarang sekali dia menelepon saat jam kerja.

Gue langsung keluar ke area tangga darurat.

"Kenapa?"

"Run."

Nada suaranya tidak biasa.

"Arga."

Jantung gue langsung turun setengah meter.

"Kenapa Arga?"

"Habis berantem sama bapaknya."

Gue memejamkan mata.

Sial.

"Parah?"

"Parah."

Suara Repan terdengar berat.

"Gue sekarang di rumahnya."

"Ada apa sebenarnya?"

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu akhirnya keluar.

"Bapaknya nemuin barang."

Gue langsung mengerti.

Tidak perlu dijelaskan lebih jauh.

Dan tiba-tiba semua potongan yang selama ini bertebaran mulai menyatu menjadi gambar yang lebih jelas.

Arga memang tidak baik-baik saja.

Jauh lebih tidak baik daripada yang selama ini kami kira.

* * *

Sepanjang sisa pagi itu gue tidak benar-benar fokus bekerja.

Pikiran gue terus kembali ke Arga.

Ke bapaknya.

Ke rumah mereka.

Ke pertengkaran yang mungkin terjadi.

Dan yang paling mengganggu adalah rasa bersalah yang tidak jelas bentuknya.

Karena kalau dipikir-pikir, beberapa bulan terakhir gue memang menjauh.

Kami semua menjauh.

Bukan karena tidak peduli.

Tapi karena tidak tahu harus berbuat apa.

Masalahnya, kadang ketidaktahuan itu hasilnya tetap sama.

Orang yang sedang jatuh tetap merasa sendirian.

Saat jam makan siang tiba, gue memilih makan lebih cepat.

Kinan akhirnya ikut duduk berhadapan dengan gue di warteg.

Tempat itu sedang ramai. Kipas angin berputar malas di langit-langit. Aroma sambal, ayam goreng, dan sayur lodeh bercampur menjadi satu. Di televisi kecil pojok ruangan, presenter berita sedang membahas sesuatu yang sepertinya penting, tapi tidak ada yang memperhatikan.

Lihat selengkapnya