Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #26

Orang-Orang yang Mulai Kehilangan Arah

Ada masa dalam hidup ketika kita mulai menyadari bahwa usia tidak selalu berjalan seiring dengan kedewasaan.

Waktu memang bergerak ke depan.

Umur bertambah.

Rambut mulai rontok.

Tagihan mulai datang.

Tanggung jawab mulai menumpuk.

Tapi di dalam kepala, sering kali kita masih orang yang sama.

Masih bingung.

Masih takut.

Masih mencoba menebak-nebak apa yang sebenarnya sedang kita lakukan.

Waktu kecil, gue kira orang dewasa tahu semua jawaban.

Lalu gue tumbuh besar.

Dan ternyata orang dewasa hanya lebih pandai menyembunyikan kebingungan.

Pagi itu Jakarta kembali seperti biasanya.

Macet.

Bising.

Panas.

Menyebalkan.

Sempurna.

Motor gue merayap pelan di antara deretan kendaraan yang seperti tidak pernah habis. Di sebelah kanan, sebuah bus TransJakarta berhenti di halte. Orang-orang keluar masuk dengan wajah yang hampir seragam. Wajah yang tidak marah, tidak senang, tidak sedih. Hanya wajah orang yang sedang menjalankan hidup.

Kadang gue suka memperhatikan wajah-wajah asing seperti itu.

Bukan karena kepo.

Lebih karena penasaran.

Mereka sedang memikirkan apa?

Sedang mengejar siapa?

Sedang kehilangan apa?

Karena semakin dewasa, gue sadar satu hal.

Semua orang sedang membawa sesuatu.

Dan sering kali beban terberat justru yang tidak terlihat.

* * *

Hari itu kantor berjalan cukup normal sampai menjelang makan siang.

Gue sedang menyelesaikan pekerjaan ketika ponsel bergetar.

Repan.

Lagi.

Kali ini gue langsung mengangkat.

"Gimana Arga?"

"Hilang."

"..."

"Gue serius."

Gue langsung berdiri dari kursi.

"Hilang gimana?"

"Nggak pulang dari kemarin malam."

Perasaan tidak enak yang selama beberapa hari terakhir mengendap di dada tiba-tiba membesar.

"Gue udah coba hubungin."

"Nggak aktif?"

"Iya."

Gue mengusap wajah.

Sial.

Sial.

Sial.

Kalau ini beberapa tahun lalu, mungkin gue masih menganggapnya biasa.

Arga memang tipe orang yang sering menghilang.

Tapi sekarang situasinya berbeda.

Ada terlalu banyak masalah yang sedang menumpuk di hidupnya.

Dan orang yang sedang terpojok sering melakukan hal-hal yang tidak bisa ditebak.

"Nanti malam kumpul."

"Oke."

Telepon ditutup.

Namun pikiran gue tidak ikut selesai.

* * *

Siang harinya, sesuatu yang cukup kecil terjadi.

Tapi cukup membuat hubungan gue dan Kinan sedikit bergeser.

Bukan ke arah buruk.

Tapi ke arah yang lebih nyata.

Lebih manusia.

Lebih rumit.

Awalnya sederhana.

Kami sedang makan di warteg langganan.

Zizah dan Muti kebetulan ikut.

Pembicaraan mengalir ke mana-mana sampai akhirnya membahas rencana akhir pekan.

Muti seperti biasa lebih banyak mendengarkan.

Zizah lebih banyak mengomentari hidup orang lain.

Lalu tiba-tiba Kinan bilang bahwa akhir pekan nanti dia kemungkinan pergi menghadiri acara keluarga.

"Acara apa?"

"Sepupu aku tunangan."

"Oh."

Normal.

Sangat normal.

Sampai Zizah nyeletuk.

"Yang datang itu calon dokter juga ya?"

Kinan mengangguk.

"Iya."

"Lumayan."

"Lumayan apanya?"

"Ya keluarga besar kalian isinya orang pinter semua."

Kinan memutar mata.

Tanda bahwa dia mulai kesal.

Tapi yang membuat gue memperhatikan adalah kalimat berikutnya.

"Mama juga lagi semangat nyariin kenalan."

Gue berhenti makan.

Bukan karena kalimat itu aneh.

Tapi karena entah kenapa perut gue langsung terasa sedikit tidak nyaman.

"Kenalan?"

"Iya."

"Kenalan apa?"

Kinan menyesal sepersekian detik setelah mengucapkannya.

Lihat selengkapnya