Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #27

Rumah yang Tidak Selalu Tenang

Orang sering bilang rumah adalah tempat pulang.

Kalimat itu terdengar hangat.

Menenangkan.

Mudah disukai.

Masalahnya, semakin bertambah usia, gue mulai sadar bahwa rumah tidak selalu sesederhana itu.

Kadang rumah memang tempat pulang.

Kadang rumah adalah tempat berlindung.

Kadang rumah adalah alasan seseorang bertahan.

Tapi kadang rumah juga menjadi sumber luka yang paling sulit dijelaskan.

Karena tidak seperti luka dari orang asing, luka dari rumah selalu datang bersama cinta.

Dan kombinasi itu membuat semuanya jauh lebih rumit.

Pulang dari Bogor malam itu, gue baru sampai rumah hampir pukul dua dini hari. Gang perumahan sudah sepi. Hanya ada satu warung kelontong yang masih setengah buka dan suara televisi samar dari rumah seseorang yang mungkin ketiduran di depan layar.

Motor gue masuk pelan ke halaman.

Lampu teras masih menyala.

Seperti biasa.

Ibu Suminten selalu melakukan itu kalau tahu gue pulang malam.

Padahal berkali-kali gue bilang tidak perlu.

Tapi ibu-ibu punya kemampuan luar biasa untuk mengabaikan saran anaknya sendiri.

Saat gue membuka pintu, ruang tamu sudah gelap. Namun di meja makan ada tudung saji yang sengaja ditinggalkan.

Gue membukanya.

Nasi.

Telur balado.

Tempe goreng.

Sambal.

Sederhana.

Tapi entah kenapa selalu terasa berbeda ketika seseorang sengaja menyiapkannya untuk kita.

Gue duduk sendiri di meja makan.

Makan pelan-pelan.

Dan untuk beberapa saat, pikiran tentang Arga kembali datang.

Wajahnya di rumah sakit.

Tatapannya.

Kalimatnya.

"Gue nggak tahu caranya berhenti."

Kadang manusia tidak hancur dalam satu malam.

Mereka hancur sedikit demi sedikit.

Dan yang paling menyedihkan adalah sering kali orang-orang terdekat baru sadar setelah kerusakannya terlalu besar.

* * *

Pagi harinya gue bangun lebih siang dari biasanya.

Hari Sabtu.

Tidak ada kantor.

Salah satu sedikit anugerah yang masih dimiliki pekerja kantoran.

Dari dapur terdengar suara minyak panas dan siaran radio jadul kesukaan ibu. Aroma bawang goreng memenuhi rumah.

Gue keluar kamar.

Ibu sedang memasak sayur lodeh.

"Kamu pucat."

"Belum cuci muka."

"Bukan itu."

Gue duduk.

Beliau melirik sekilas.

"Lagi mikirin temanmu?"

Kadang gue curiga ibu bisa membaca pikiran.

Atau mungkin memang ekspresi gue terlalu mudah ditebak.

"Iya."

Beliau mengangguk pelan.

Tidak langsung bicara lagi.

Hanya melanjutkan memasak.

Ada sesuatu yang gue sukai dari cara ibu menghadapi masalah orang lain.

Beliau tidak terburu-buru memberikan ceramah.

Tidak semua hal harus langsung diberi solusi.

Kadang orang hanya perlu ditemani memikirkan sesuatu.

Setelah beberapa menit, beliau akhirnya berkata, "Dulu waktu kamu SMA, Arga yang sering ke sini ya?"

"Iya."

"Yang tinggi itu?"

"Iya."

"Yang suka nambah makan tiga kali?"

Gue tertawa.

"Iya."

"Itu anak sebenarnya baik."

Kalimat sederhana.

Tapi terasa berat.

Karena sering kali orang baik tetap bisa tersesat.

Dan dunia tidak selalu memisahkan manusia menjadi kategori baik dan buruk dengan jelas.

* * *

Menjelang siang, gue memutuskan datang ke bengkel Repan.

Bengkel itu jauh lebih ramai daripada biasanya.

Suara kompresor menderu tanpa henti. Aroma cat memenuhi udara. Seorang karyawan sedang mengamplas bodi motor. Yang lain sibuk mencampur warna.

Repan terlihat sedang berbicara dengan pelanggan.

Baru setelah sekitar lima belas menit dia menghampiri gue.

Wajahnya lelah.

Lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas.

"Belum tidur?"

tanya gue.

"Sedikit."

"Kelihatan."

"Terima kasih atas dukungannya."

Kami tertawa kecil.

Namun tawa itu tidak bertahan lama.

Karena masalah yang sedang kami hadapi masih ada.

"Arga gimana?"

"Masih di rumah."

"Rumah sakit?"

Lihat selengkapnya