Ada masa dalam hidup ketika kita mengira persahabatan itu sesederhana nongkrong sampai larut malam, ketawa karena hal-hal bodoh, lalu pulang tanpa memikirkan apa pun.
Masa ketika masalah terbesar adalah bensin motor habis atau dompet ketinggalan.
Masa ketika masa depan terasa seperti sesuatu yang masih sangat jauh.
Padahal sebenarnya masa depan itu diam-diam berjalan ke arah kita.
Pelan.
Tidak berisik.
Tidak memberi aba-aba.
Sampai suatu hari kita sadar bahwa tongkrongan yang dulu penuh tawa sekarang mulai dipenuhi cerita tentang cicilan, pekerjaan, keluarga, kesehatan orang tua, dan kesalahan-kesalahan yang tidak bisa lagi dianggap bercanda.
Senin pagi datang seperti biasa.
Dan seperti biasa juga, Jakarta tidak pernah benar-benar memberi kesempatan orang untuk bangun dengan santai.
Jam enam lewat sedikit gue sudah berada di atas motor. Udara pagi masih cukup dingin, tetapi jalanan mulai ramai. Angkot, bus, motor, mobil, semuanya bergerak seperti arus yang dipaksa mengalir melalui pipa yang terlalu sempit.
Lampu merah dekat perempatan dipenuhi suara knalpot dan klakson.
Seorang bapak penjual koran berdiri di pinggir jalan.
Seorang anak sekolah menguap di atas motor yang dikendarai ayahnya.
Di halte TransJakarta, antrean sudah mengular.
Entah kenapa pagi itu gue langsung teringat Kodil.
Dari semua sahabat gue, mungkin dialah yang paling jarang mengeluh. Padahal kalau dipikir-pikir, pekerjaannya termasuk yang paling melelahkan.
Orang sering melihat bus datang dan pergi.
Tapi jarang memikirkan orang-orang yang harus berdiri berjam-jam menghadapi ribuan penumpang setiap hari.
Ponsel gue bergetar saat lampu merah.
Pesan dari Kodil.
"Shift pagi. Udah ada penumpang marah jam lima subuh. Rekor baru."
Gue langsung tertawa.
Balasannya cepat.
"Kenapa?"
"Katanya gue penyebab macet Jakarta."
Gue sampai harus menahan tawa di lampu merah.
Kadang memang ada pekerjaan yang mengharuskan seseorang menerima kemarahan orang lain atas hal yang bahkan bukan salahnya.
* * *
Hari kantor berjalan relatif normal.
Relatif.
Karena di kantor, kata normal punya definisi yang aneh.
Normal bisa berarti printer rusak.
Normal bisa berarti jaringan internet mati.
Normal bisa berarti seseorang menangis diam-diam di toilet karena deadline.
Menjelang siang, gue bertemu Kinan di pantry.
Dia sedang menuang air panas ke gelas.
Pashmina krem yang dikenakannya jatuh rapi di bahu. Kacamata tipisnya sedikit turun karena uap panas. Pipi chubby-nya terlihat lebih jelas ketika dia sedang fokus memperhatikan air yang naik perlahan di dalam gelas.
"Aman dari tante-tante?"
tanya gue.
Dia langsung melotot.
"Jangan dibahas."
"Ternyata traumanya dalam."
"Kamu nggak ngerti."
"Nggak ngerti apa?"
Kinan menghela napas.
Lalu duduk.
"Aku capek kalau semua orang selalu mikir hidup perempuan harus berakhir di pernikahan."
Nada suaranya lebih tajam dari biasanya.
Bukan marah ke gue.
Lebih ke sesuatu yang sudah lama mengganggu pikirannya.
Gue ikut duduk.
"Keluarga besar?"
"Iya."
"Parah?"
"Parah."
Dia mengaduk minumannya pelan.
"Aku kerja ditanya kapan nikah."
"Hm."
"Aku lanjut kuliah ditanya kapan nikah."
"Hm."
"Aku makan bakso juga bisa ditanya kapan nikah."
Gue tertawa.
Tapi Kinan tidak.
Dan saat itulah gue sadar dia benar-benar kesal.
"Aku kadang bingung," katanya pelan. "Kenapa orang lain selalu merasa punya hak menentukan timeline hidup orang."
Kalimat itu membuat gue diam.
Karena sebenarnya bukan cuma perempuan yang mengalaminya.
Laki-laki juga.
Kerja ditanya gaji.
Belum nikah ditanya kapan nikah.
Sudah nikah ditanya kapan punya anak.
Punya satu anak ditanya kapan nambah.
Seolah hidup manusia adalah checklist yang harus dicentang sesuai jadwal.
Dan kalau telat sedikit, dunia merasa berhak mengomentari.
Untuk beberapa saat kami hanya duduk.
Lalu gue berkata, "Kalau semua orang berhenti ikut campur urusan hidup orang lain, mungkin setengah masalah negara selesai."
Kinan akhirnya tertawa.
"Kamu lebay."
"Mungkin."
"Tapi ada benarnya."
Dan suasana yang sempat tegang perlahan mencair.
* * *
Sore harinya, saat perjalanan pulang, gue mendapat telepon dari Dapi.
Jarang.
Sangat jarang.