Waktu kecil, gue pikir menjadi dewasa itu seperti naik level dalam permainan.
Begitu sampai umur tertentu, semua jawaban akan muncul sendiri.
Kita akan tahu harus bekerja di mana.
Harus menikah dengan siapa.
Harus tinggal di mana.
Harus menjadi orang seperti apa.
Ternyata tidak.
Semakin dewasa, justru semakin banyak pertanyaan yang tidak punya jawaban pasti. Dan itu mungkin itu adalah satu-satunya hal yang bisa kita samakan sesama manusia.
Yang berubah hanya cara kita menyembunyikan kebingungan.
Orang dewasa terlihat tenang bukan karena mereka tahu semuanya.
Kadang mereka cuma sudah terbiasa panik dalam diam.
Pagi itu Jakarta sedang dalam mode paling Jakarta.
Mendung menggantung sejak subuh, tetapi hujan tidak turun. Udara lengket. Jalanan macet. Klakson terdengar dari berbagai arah seperti orkestra yang dipimpin orang mabuk.
Gue sedang berhenti di lampu merah ketika melihat seorang bapak di atas motor tua membawa galon, tabung gas, dan anak kecil sekaligus.
Entah bagaimana semuanya tetap seimbang.
Kadang kemampuan bertahan hidup orang Indonesia memang melampaui logika fisika.
Lampu berubah hijau.
Arus kendaraan bergerak lagi.
Dan hidup terus berjalan seolah semua orang tahu ke mana mereka sedang menuju.
Padahal belum tentu.
* * *
Hari itu kantor cukup sibuk.
Bukan karena pekerjaan mendadak.
Justru karena semua orang sedang mencoba menyelesaikan pekerjaan yang sudah mereka tunda sejak minggu lalu.
Ada perbedaan besar antara produktif dan panik.
Sayangnya banyak kantor menganggap keduanya sama.
Menjelang siang, Kinan terlihat tidak seperti biasanya.
Dia memang tidak pernah menjadi orang yang terlalu ekspresif. Sejak awal gue mengenalnya, sebagian besar emosinya disimpan rapi di balik wajah tenang, pashmina yang selalu tertata, dan kacamata yang kadang sedikit turun saat dia fokus bekerja.
Tapi beberapa minggu terakhir gue mulai bisa membaca hal-hal kecil.
Cara dia mengetik.
Cara dia menarik napas.
Cara dia menjawab pertanyaan.
Hari itu dia sedang kesal.
Dan dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.
"Kenapa?" tanya gue saat kami bertemu di pantry.
"Nggak kenapa-kenapa."
"Kalau orang bilang nggak kenapa-kenapa sambil mukanya begitu, biasanya justru ada apa-apa."
"Aku lagi males."
"Nah."
"Aku lagi males ngobrol."
"Nah."
Dia melotot.
Gue tertawa.
Biasanya dia ikut tertawa.
Kali ini tidak.
Oke.
Berarti memang ada sesuatu.
Beberapa detik berlalu.
Lalu akhirnya dia menghela napas.
"Ibuku."
"Gimana?"
"Tadi pagi ribut."
Gue mengangguk.
Tidak langsung bertanya lebih jauh.
Karena gue tahu ada orang yang kalau ditanya terus malah makin diam.
Dan Kinan termasuk tipe itu.
"Aku capek."
Kalimat itu keluar pelan.
Tulus.
Tidak dramatis.
Justru karena itulah terdengar berat.
"Masalah apa?"
"Aku nggak tahu."
"Lho?"
Kinan tertawa hambar.
"Aneh ya?"
"Sangat."
Dia menatap gelasnya.
"Lagi ngerasa kalau apa pun yang aku lakukan selalu kurang."
Nah.
Akhirnya sampai juga ke inti masalah.
Kadang pertengkaran keluarga bukan tentang apa yang diucapkan.
Tapi tentang apa yang selama ini dipendam.
* * *
Malam sebelumnya ternyata ibunya Kinan sempat menegur soal beberapa hal.
Bukan hal besar.