Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #30

Orang-Orang yang Terlihat Baik-Baik Saja

Ada masa ketika gue percaya bahwa masalah itu punya bentuk yang jelas.

Kalau seseorang sedang kesulitan, dia akan terlihat sedih.

Kalau seseorang sedang patah hati, dia akan menangis.

Kalau seseorang sedang terpuruk, dia akan meminta bantuan.

Semakin bertambah umur, semakin gue sadar bahwa kenyataannya tidak seperti itu.

Banyak orang tetap bercanda saat hidupnya berantakan.

Banyak orang tetap datang tepat waktu saat dunia di dalam kepalanya sedang runtuh.

Dan banyak orang terlihat baik-baik saja justru ketika mereka paling membutuhkan pertolongan.

Pagi itu langit Jakarta masih berwarna abu-abu. Bukan abu-abu gelap yang mengancam hujan, melainkan abu-abu yang menggantung malas seperti seseorang yang belum siap memulai hari. Jalanan sudah ramai bahkan sebelum jam kerja benar-benar dimulai. Motor berdesakan di sela mobil. Klakson bersahutan. Pedagang bubur mendorong gerobaknya di pinggir jalan. Dari sebuah musala kecil di gang sempit masih terdengar lantunan murattal yang diputar pelan melalui pengeras suara.

Gue teringat pesan Repan semalam.

"Mau ngobrol."

Dua kata yang sederhana.

Tapi cukup membuat gue penasaran.

Karena Repan bukan tipe orang yang suka berbicara serius.

Kalau ada sepuluh topik pembicaraan, sembilan di antaranya pasti berakhir jadi candaan.

Maka ketika dia mengajak ngobrol secara khusus, biasanya ada sesuatu yang memang sedang mengganjal.

Karena itu pagi itu, sebelum berangkat ke kantor, gue memutuskan mengambil cuti setengah hari.

Keputusan yang sebenarnya cukup jarang gue lakukan.

Setelah mengirim pesan ke atasan dan memastikan tidak ada pekerjaan mendesak, gue langsung mengarahkan motor menuju bengkel cat milik Repan.

Lokasinya berada di jalan kecil yang diapit ruko-ruko tua dan gudang logistik. Semakin mendekat, aroma thinner dan cat mulai tercium bahkan sebelum papan nama bengkel terlihat.

Beberapa mobil sedang terparkir di depan.

Sebuah sedan hitam dengan bagian pintu yang penyok.

Sebuah mobil keluarga berwarna silver yang kap mesinnya terbuka.

Dan sebuah pickup tua yang catnya terkelupas hampir di seluruh badan kendaraan.

Repan sedang jongkok di dekat sebuah mobil ketika gue datang.

Kaosnya penuh bercak cat.

Tangannya hitam oleh debu amplas.

Kalau tidak kenal, orang mungkin tidak akan menyangka bahwa dia pemilik bengkel.

Lebih mirip pekerja harian yang baru mulai masuk kerja.

"Dateng juga lo."

"Katanya mau ngobrol."

"Iya."

"Tapi lo malah kerja."

"Kalau nggak kerja, ngobrolnya sambil makan angin?"

Gue mengangguk.

Nah.

Ini Repan yang gue kenal.

Kami masuk ke area belakang bengkel. Di sana ada ruangan kecil dengan kipas angin tua yang berputar sambil mengeluarkan suara seperti sedang mengeluh kepada kehidupan.

Di atas meja terdapat gelas kopi hitam, bungkus rokok, nota-nota pembayaran, dan kalkulator.

Banyak sekali kalkulator.

Gue baru sadar sebagian besar pemilik usaha kecil ternyata lebih akrab dengan kalkulator dibanding laptop.

Repan menuangkan kopi ke gelas plastik lalu menyodorkannya.

"Gimana kantor?"

"Hidup."

"Tipis?"

"Tipis."

Kami tertawa.

Lalu hening.

Dan justru keheningan itulah yang membuat gue sadar bahwa dia memang sedang memikirkan sesuatu.

Repan memandang keluar jendela.

Ke arah para pekerja yang sedang mengamplas bodi mobil.

"Ada tiga orang mau keluar bulan depan."

"Hah?"

"Tukang."

Gue mengernyit.

"Itu setengah tim lo."

"Iya."

"Kenapa?"

"Dapet tawaran di tempat lain."

"Gaji lebih gede?"

"Iya."

Gue mengangguk pelan.

Masalah klasik.

Dan mungkin salah satu masalah paling menyebalkan bagi pemilik usaha.

Saat usaha mulai berkembang, biaya juga ikut berkembang.

Saat pemasukan naik, pengeluaran ikut naik.

Saat pelanggan bertambah, kebutuhan bertambah.

Tidak ada garis finis.

Hanya lingkaran yang terus berputar.

"Lo nggak bisa naikin gaji?"

"Bisa."

"Tapi?"

Repan tertawa pendek.

"Tapi kalau semuanya gue naikin sekarang, bengkel ini yang mati."

Jawaban itu keluar santai.

Terlalu santai.

Justru karena itu terdengar jujur.

Gue melihat nota-nota yang berserakan di meja.

Tagihan cat.

Tagihan spare part.

Listrik.

Sewa.

Upah.

Hal-hal yang tidak pernah dipikirkan pelanggan ketika datang memperbaiki mobil.

Lihat selengkapnya