Ada satu kebohongan yang hampir semua manusia pernah percaya.
Bukan kebohongan dari orang lain.
Melainkan kebohongan yang kita ciptakan sendiri.
Nanti saja.
Nanti telepon ibu.
Nanti minta maaf.
Nanti main ke rumah teman.
Nanti mulai hidup sehat.
Nanti memperbaiki hubungan yang rusak.
Nanti.
Seolah-olah waktu adalah benda yang bisa disimpan di lemari.
Seolah-olah besok selalu tersedia.
Padahal sebagian besar penyesalan lahir dari satu kalimat sederhana:
"Gue kira masih ada waktu."
Pagi itu langit Jakarta akhirnya menurunkan hujan yang sejak beberapa hari lalu cuma menggantung seperti ancaman.
Tidak deras.
Hanya gerimis panjang yang membuat jalanan mengilap.
Motor-motor melaju lebih pelan.
Pedagang kaki lima menutupi dagangannya dengan terpal.
Orang-orang berlari kecil sambil menenteng tas di atas kepala.
Kota ini selalu terlihat sedikit lebih manusiawi saat hujan turun.
Mungkin karena semua orang terlihat sama-sama kerepotan.
Gue berangkat lebih pagi dari biasanya.
Bukan ke kantor.
Melainkan ke klinik tempat Arga dirawat.
Di grup semalam, lokasi sudah dibagikan.
Dan sejak membaca pesan tentang overdosis itu, tidur gue tidak benar-benar nyenyak.
Bukan karena takut.
Lebih karena pikiran yang terus berjalan.
Kadang ada kabar yang membuat kita sadar bahwa seseorang yang selama ini terlihat baik-baik saja ternyata sedang tenggelam.
Dan kita tidak menyadarinya.
Atau mungkin... kita menyadarinya.
Tapi memilih percaya semuanya masih bisa ditunda.
Masih ada waktu.
Ternyata belum tentu.
* * *
Klinik itu tidak terlalu besar.
Bangunannya sederhana.
Cat putihnya mulai kusam.
Beberapa kursi plastik berjajar di ruang tunggu.
Aroma obat-obatan bercampur dengan bau cairan pembersih lantai.
Televisi kecil di sudut ruangan menyala tanpa ada yang benar-benar menonton.
Saat gue datang, Kodil sudah lebih dulu tiba.
Duduk diam sambil memainkan tutup botol air mineral.
Wajahnya terlihat lelah.
Mungkin habis shift malam.
Mungkin juga karena memikirkan hal yang sama.
"Gimana?"
Dia mengangkat bahu.
"Belum masuk."
"Masih nggak boleh?"
"Iya."
Kami kembali diam.
Tidak lama kemudian Repan datang.
Lalu Dapi.
Yang terakhir muncul adalah Embeng.
Penampilannya sedikit berbeda dari biasanya.
Mata sembab.
Wajah kusut.
Seperti orang yang kurang tidur.
Atau terlalu banyak pikiran.
Tapi tidak ada yang mengomentari.
Karena semua orang sedang fokus pada hal lain.
Lima sahabat duduk berjajar di ruang tunggu.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidak ada yang melontarkan candaan.
Tidak ada yang mengirim meme.
Tidak ada yang tertawa.
Kadang hidup memang tahu cara membuat manusia diam.
* * *
Sekitar setengah jam kemudian, seorang pria tua keluar dari lorong perawatan.
Gue mengenalnya.
Ayah Arga.
Pemilik puluhan angkot yang dulu cukup terkenal di daerah mereka.
Namun pagi itu, beliau terlihat jauh lebih tua daripada yang gue ingat.
Bahu membungkuk.
Mata merah.
Langkah lambat.
Beliau melihat kami.
Lalu mengangguk pelan.
"Teman-temannya Arga?"
"Iya, Pak."
Beliau tersenyum.
Tetapi senyum yang muncul hanya sebentar.
Kemudian hilang lagi.
"Terima kasih udah datang."
Entah kenapa kalimat itu membuat dada gue terasa berat.
Karena orang tua biasanya berterima kasih saat ada sesuatu yang sudah tidak mampu mereka tangani sendiri.
Dan itu menyakitkan.