Waktu kecil, gue selalu berpikir rumah adalah tempat paling sederhana di dunia.
Tempat kita berangkat.
Tempat kita kembali.
Selesai.
Sesederhana itu.
Namun semakin dewasa, definisi rumah mulai berubah.
Ada orang yang tinggal di rumah besar tetapi tidak pernah merasa pulang.
Ada orang yang tinggal di kontrakan sempit tetapi merasa paling aman di sana.
Ada orang yang setiap hari pulang ke rumah yang sama, tetapi hubungan di dalamnya sudah lama hilang.
Dan ada orang-orang yang diam-diam takut pulang.
Bukan karena rumahnya buruk.
Melainkan karena ada sesuatu di dalam rumah yang tidak mampu mereka hadapi.
Kadang rumah bukan tentang bangunan.
Kadang rumah adalah hubungan.
Dan hubungan bisa retak jauh sebelum temboknya roboh.
Pagi itu Jakarta kembali sibuk.
Bus TransJakarta meluncur penuh penumpang.
Suara pengereman terdengar dari kejauhan.
Pedagang nasi uduk mulai diserbu pembeli.
Warung kopi pinggir jalan mengeluarkan aroma robusta murahan yang entah kenapa selalu terasa lebih nikmat saat diminum sebelum berangkat kerja.
Langit cerah.
Namun entah kenapa perasaan gue tidak.
Mungkin karena Arga.
Mungkin karena semua hal yang sedang terjadi.
Atau mungkin karena semakin hari gue semakin sadar bahwa hidup tidak sesederhana beberapa tahun lalu.
Dulu masalah terbesar gue adalah nilai kuliah.
Sekarang?
Daftarnya panjang.
Dan anehnya, daftar itu terus bertambah.
* * *
Hari itu kantor berjalan normal.
Terlalu normal.
Sampai terasa aneh.
Karena setelah beberapa hari terakhir dipenuhi kabar buruk, ketenangan justru terasa mencurigakan.
Saat jam makan siang, Kinan tidak ikut turun ke kantin.
Dia tetap di meja.
Menatap layar komputer.
Namun jelas tidak sedang fokus bekerja.
Gue mengenalnya cukup lama untuk tahu kapan seseorang sedang berpura-pura sibuk.
Dan Kinan sedang melakukannya.
"Ada apa?"
"Nggak ada."
"Bohong."
"Nggak bohong."
"Bohong."
"Aku males debat."
"Berarti ada apa-apa."
Dia langsung memejamkan mata.
Kesal.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, gue melihat sisi Kinan yang jarang muncul.
Bukan Kinan yang tenang.
Bukan Kinan yang sabar.
Melainkan Kinan yang sedang benar-benar lelah.
"Aku capek."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tidak ada persiapan.
Tidak ada senyum.
Tidak ada usaha menyembunyikan.
Hanya kejujuran.
Dan sering kali kejujuran terdengar jauh lebih berat daripada tangisan.
* * *
Ternyata semalam Kinan kembali bertengkar dengan ibunya.
Bukan pertengkaran besar.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada pintu dibanting.
Justru itulah yang membuatnya lebih menyakitkan.
Karena pertengkaran orang dewasa sering kali terjadi dengan suara pelan.
Dengan kalimat yang sopan.
Tetapi meninggalkan luka yang lebih dalam.
"Aku ngerasa Mama nggak pernah puas."
"Apa yang bikin kamu ngerasa begitu?"
"Semuanya."
Dia menghela napas.
Lalu menatap keluar jendela.
"Aku kerja salah."
"Aku pulang telat salah."
"Aku terlalu fokus kerja salah."
"Aku di rumah juga tetap kurang."
Gue diam.
Karena kadang seseorang yang bercerita tidak membutuhkan solusi.
Mereka cuma butuh ruang untuk mengeluarkan isi kepala.
Dan isi kepala yang terlalu lama disimpan biasanya berubah menjadi racun.
* * *
Di rumahnya sendiri, malam sebelumnya memang tidak berjalan baik.
Ibunya sedang memasak saat Kinan pulang.
Sudah hampir pukul sembilan malam.
Tubuh lelah.
Kepala penuh.
Dan ketika kondisi seperti itu bertemu kritik kecil, hasilnya sering tidak bagus.