Ada banyak kalimat yang tidak pernah diucapkan orang tua kepada anaknya.
Bukan karena mereka tidak ingin mengatakannya.
Tapi karena mereka berasal dari generasi yang tumbuh dalam dunia berbeda.
Generasi yang diajarkan bahwa cinta harus dibuktikan dengan kerja keras.
Bukan dengan kata-kata.
Generasi yang menganggap membeli beras lebih penting daripada mengucapkan "aku sayang kamu."
Generasi yang merasa pelukan tidak akan membayar tagihan listrik.
Karena itu banyak orang tua terlihat kaku.
Terlihat dingin.
Terlihat terlalu banyak mengkritik.
Padahal sering kali, jauh di dalam hati mereka, ada ribuan kalimat yang tidak pernah berhasil keluar.
Dan mungkin itulah salah satu tragedi paling sunyi dalam sebuah keluarga.
Kita hidup bertahun-tahun dengan seseorang yang sangat mencintai kita.
Tetapi tidak pernah benar-benar mendengarnya mengatakannya.
* * *
Pagi itu Jakarta bangun dengan langit pucat.
Tidak hujan.
Tidak cerah.
Seperti seseorang yang baru bangun tidur dan belum memutuskan ingin bahagia atau sedih.
Suara motor berseliweran di gang.
Pedagang bubur mulai mendorong gerobaknya.
Dari kejauhan terdengar suara azan Subuh yang baru saja selesai.
Gue sedang duduk di teras rumah ketika melihat ibu menyapu halaman.
Sudah bertahun-tahun.
Mungkin puluhan tahun.
Dan kebiasaan itu tidak pernah berubah.
Padahal sekarang halaman rumah tidak seluas dulu.
Tidak seramai dulu.
Tidak banyak daun yang harus dibersihkan.
Tetapi setiap pagi ibu tetap menyapu.
Seolah rumah tidak benar-benar bangun sebelum halaman dibersihkan.
Gue memperhatikan beliau dari kejauhan.
Rambut yang semakin banyak uban.
Punggung yang tidak setegak dulu.
Gerakan yang sedikit lebih lambat.
Hal-hal yang tidak pernah gue sadari saat masih kecil.
Mungkin karena waktu bergerak terlalu pelan.
Sampai suatu hari kita baru sadar bahwa orang tua kita ternyata juga menua.
Dan saat kesadaran itu datang, rasanya selalu terlambat.
"Ngapain bengong?"
Suara ibu membuat gue tersadar.
"Nggak ngapa-ngapain."
"Pasti ada maunya."
"Kenapa kalau anak diem pasti dicurigain?"
"Karena pengalaman."
Gue tertawa.
Beliau juga ikut tertawa.
Pagi itu terasa biasa.
Tetapi entah kenapa hati gue terasa hangat.
Mungkin karena semakin dewasa, definisi kebahagiaan memang berubah.
Dulu bahagia berarti mendapatkan sesuatu.
Sekarang kadang bahagia hanya berarti orang-orang yang kita sayangi masih ada di tempat yang sama.
Masih bisa diajak bercanda.
Masih bisa mendengar suara mereka.
* * *
Di sisi lain Jakarta, Kinan sedang mengalami pagi yang berbeda.
Rumahnya terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Ibunya sedang memasak di dapur.
Suara minyak yang mendesis memenuhi ruangan.
Aroma bawang goreng menyebar ke seluruh rumah.
Tetapi suasana di antara mereka masih menyisakan sisa ketegangan dari beberapa hari terakhir.
Bukan marah.
Bukan juga benci.
Hanya ada jarak kecil yang muncul ketika dua orang sama-sama keras kepala.
Kinan sedang membantu memotong sayur ketika ibunya tiba-tiba berkata,
"Kamu capek ya?"
Pisau di tangan Kinan berhenti sesaat.
Pertanyaan sederhana.
Tetapi terasa mengejutkan.
Karena selama beberapa minggu terakhir yang mereka lakukan hanya saling mempertahankan sudut pandang masing-masing.
"Aku baik-baik aja."
Ibunya mengangguk.
Namun tidak terlihat percaya.
"Kamu dari kecil kalau capek jawabannya selalu begitu."
Kinan tidak menjawab.
Karena itu benar.
"Aku cuma khawatir."
Kalimat itu keluar pelan.
Nyaris tenggelam oleh suara penggorengan.
Tetapi Kinan mendengarnya.
Jelas.
Sangat jelas.
Dan tiba-tiba ia merasa bersalah.
Bukan karena ibunya salah.
Bukan karena dirinya salah.
Tetapi karena ternyata mereka berdua sedang sama-sama kelelahan.
Dan kelelahan sering membuat manusia lupa bahwa lawan bicaranya juga sedang berjuang.
* * *
Siang harinya gue mendapat kabar dari Dapi.
Dia mengajak bertemu di sebuah warteg dekat stasiun.