Ada luka yang datang seperti kecelakaan.
Tiba-tiba.
Keras.
Menghantam tanpa peringatan.
Tapi ada juga luka yang berbeda.
Luka yang tumbuh perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Hampir tidak terasa.
Sampai suatu hari kita sadar bahwa ternyata ia sudah menjadi bagian dari hidup.
Yang paling berbahaya sering kali bukan luka yang membuat kita menangis.
Melainkan luka yang membuat kita terbiasa.
Karena saat manusia mulai terbiasa dengan rasa sakit, ia sering lupa bahwa dirinya sebenarnya sedang terluka.
Dan beberapa minggu terakhir, gue mulai melihat luka-luka itu.
Bukan cuma pada diri sendiri.
Tapi juga pada orang-orang di sekitar gue.
* * *
Jakarta memasuki musim yang membingungkan.
Pagi panas.
Siang mendung.
Sore hujan.
Malam gerah.
Seolah langit sendiri tidak yakin ingin menjadi apa.
Gue berangkat kerja lebih pagi dari biasanya.
Bukan karena rajin.
Lebih karena semalam sulit tidur.
Pikiran berisik.
Dan pikiran yang berisik selalu membuat kasur terasa tidak nyaman.
Di lampu merah dekat Pasar Minggu, motor-motor berjejer rapat seperti ikan sarden.
Seorang pengemudi ojek online menguap lebar.
Di sebelahnya seorang ibu membawa anak kecil yang masih mengenakan seragam TK.
Di belakang mereka sebuah truk pengangkut galon mengeluarkan suara mesin yang terdengar seperti orang tua yang dipaksa lari maraton.
Kota ini selalu bergerak.
Selalu terburu-buru.
Kadang gue bertanya-tanya.
Kalau semua orang sedang berlari, sebenarnya siapa yang sedang mengejar siapa?
* * *
Kinan datang terlambat hari itu.
Tidak terlalu lama.
Hanya sekitar dua puluh menit.
Tapi cukup membuat gue sadar ada sesuatu yang berbeda.
Biasanya ia selalu datang tepat waktu.
Kadang bahkan lebih dulu daripada sebagian besar karyawan lain.
Saat akhirnya masuk ke ruangan, wajahnya terlihat lelah.
Bukan lelah karena kurang tidur.
Ada jenis kelelahan lain yang sulit dijelaskan.
Kelelahan yang berasal dari pikiran.
Dari sesuatu yang terus dipikirkan tetapi tidak pernah selesai.
Siang hari saat makan bersama, ia lebih banyak diam.
Bahkan ketika gue melontarkan beberapa candaan yang biasanya membuatnya tertawa.
"Kenapa?" tanya gue.
"Nggak kenapa-kenapa."
Jawaban paling mencurigakan dalam sejarah umat manusia.
"Kamu lagi kesel."
"Nggak."
"Lagi sedih."
"Nggak."
"Lagi marah."
"Nggak."
"Lagi lapar?"
Kinan akhirnya tertawa.
Sedikit.
Tapi setidaknya tertawa.
"Lumayan nyebelin ya kamu."
"Nah, berarti udah mendingan."
Ia menggeleng.
Lalu menatap gelas minumnya.
Beberapa detik berlalu.
"Aku capek."
Gue tidak menjawab.
Karena kadang orang tidak membutuhkan solusi.
Mereka hanya ingin ada seseorang yang mendengar.
"Aku ngerasa akhir-akhir ini semuanya berat."
"Kantor?"
"Bukan."
"Rumah?"
Ia mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, gue melihat matanya terlihat benar-benar lelah.
* * *
Malam sebelumnya Kinan kembali bertengkar dengan ibunya.