Semakin bertambah umur, gue mulai sadar bahwa sebagian besar manusia sebenarnya tidak sedang hidup.
Mereka sedang bertahan.
Ada perbedaan di antara keduanya.
Hidup terdengar seperti sesuatu yang indah.
Bertahan terdengar seperti pekerjaan.
Dan kenyataannya, banyak orang bangun pagi bukan karena mereka bersemangat menyambut hari baru.
Mereka bangun karena tagihan tidak bisa menunggu.
Karena orang tua harus makan.
Karena anak harus sekolah.
Karena hidup tetap berjalan bahkan ketika hati sedang tidak ingin melangkah.
Mungkin itu sebabnya semakin dewasa, gue semakin menghormati orang-orang biasa.
Orang-orang yang tidak masuk berita.
Tidak terkenal.
Tidak punya pencapaian luar biasa.
Tetapi tetap bangun setiap pagi dan menjalani hidup sebaik yang mereka bisa.
Karena ternyata itu tidak semudah yang terlihat.
* * *
Sabtu pagi.
Jakarta belum sepenuhnya bangun.
Langit masih pucat.
Udara terasa lebih ramah dibanding hari kerja.
Di gang depan rumah, suara sapu lidi bersahutan dari beberapa halaman.
Ibu sudah bangun lebih dulu.
Seperti biasa.
Entah sejak kapan gue menerima kenyataan bahwa ibu memiliki kemampuan misterius untuk bangun sebelum matahari.
Saat gue keluar kamar, aroma bawang goreng dan nasi hangat sudah memenuhi rumah.
Radio kecil di dapur memutar lagu campursari pelan-pelan.
Ibu sedang memotong kangkung di meja makan.
"Kok bangun pagi?"
Beliau menoleh.
"Lho, ini udah jam tujuh."
"Masih pagi."
"Kalau petani dengar kamu ngomong begitu bisa dilempar cangkul."
Gue tertawa.
Lalu duduk di kursi.
Rumah terasa tenang.
Bukan tenang yang menyedihkan.
Melainkan tenang yang nyaman.
Tenang yang membuat seseorang ingin berlama-lama.
Ibu menuangkan teh panas ke gelas.
"Aslinya kamu capek ya?"
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Gue mengangkat kepala.
"Hah?"
"Belakangan kelihatannya capek."
Kadang ibu memang menyeramkan.
Mereka bisa mengetahui sesuatu bahkan ketika kita sendiri belum mengakuinya.
"Gak juga."
Beliau mendengus kecil.
Jawaban paling tidak meyakinkan yang pernah ada.
"Kamu kalau bohong masih sama kayak waktu SD."
"Nggak bohong."
"Yaudah."
Beliau tidak melanjutkan.
Tetapi senyumnya membuat gue tahu bahwa beliau sama sekali tidak percaya.
* * *
Menjelang siang gue pergi ke bengkel Repan.
Sudah cukup lama sejak terakhir kali gue datang.
Bengkel cat itu berdiri di pinggir jalan kecil yang selalu ramai oleh motor dan mobil tua.
Aroma thinner langsung menyambut begitu gue masuk.
Suara kompresor berdengung.
Debu halus beterbangan.
Radio menggantung di sudut ruangan.
Memutar dangdut lawas yang sesekali kalah oleh suara mesin.
Repan sedang jongkok di samping sebuah mobil Avanza yang setengah badannya belum selesai dicat.
Kaosnya penuh noda.
Wajahnya terlihat lebih tua dibanding beberapa tahun lalu.
Padahal usia kami tidak berbeda jauh.
"Gila."
Ia berdiri sambil tertawa.