Ada satu kebohongan yang sering dipercaya manusia saat masih muda.
Bahwa nanti semuanya akan baik-baik saja.
Nanti ada waktu untuk memperbaiki hubungan.
Nanti ada waktu untuk meminta maaf.
Nanti ada waktu untuk menemui teman lama.
Nanti ada waktu untuk membahagiakan orang tua.
Nanti ada waktu untuk beristirahat.
Masalahnya, hidup tidak pernah benar-benar menjanjikan kata nanti.
Hidup hanya memberi hari ini.
Dan bahkan hari ini pun sering datang dengan isi yang tidak pernah kita pesan.
Pagi itu Jakarta terasa kusam.
Langit abu-abu menggantung rendah seperti atap raksasa yang menekan seluruh kota. Jalanan masih basah oleh hujan semalam. Genangan kecil berkumpul di tepi trotoar. Suara motor bersahutan sejak subuh. Klakson terdengar di berbagai arah. Bus TransJakarta meluncur di jalurnya sambil mengeluarkan suara khas pintu pneumatik yang membuka dan menutup tanpa henti.
Kota ini selalu bergerak.
Kadang terlalu cepat.
Sampai-sampai orang tidak punya waktu untuk menyadari bahwa dirinya sedang lelah.
Gue berangkat kerja seperti biasa.
Melewati jalan yang sama.
Warung yang sama.
Lampu merah yang sama.
Tetapi entah kenapa beberapa minggu terakhir semuanya terasa berbeda.
Mungkin karena usia.
Mungkin karena keadaan.
Atau mungkin karena semakin banyak orang di sekitar gue yang sedang berjuang menghadapi hidup mereka masing-masing.
Repan dengan bengkelnya.
Dapi dengan mimpinya ke Jerman.
Kodil dengan pekerjaannya.
Embeng dengan masalah judinya.
Arga dengan kehancurannya.
Kinan dengan keluarganya.
Dan gue sendiri yang mulai menyadari bahwa menjadi dewasa ternyata lebih dekat dengan bertahan hidup daripada mengejar mimpi.
* * *
Siang hari, saat jam istirahat makan siang hampir selesai, ponsel gue bergetar.
Pesan dari Dapi.
"Ada waktu malam ini?"
"Ada."
"Gue mau cerita sesuatu."
"Lolos?"
Beberapa detik kemudian muncul balasan.
"Anjing."
Gue tertawa sendiri.
Karena hanya ada dua kemungkinan.
Kalau bukan gagal, berarti berhasil.
Dan kata "anjing" yang dikirim Dapi biasanya berarti gue benar.
Malamnya kami bertemu di warung kopi sederhana dekat stasiun.
Tempat yang sudah lama menjadi lokasi rapat tidak resmi kehidupan kami.
Kursi plastik.
Asbak penuh puntung rokok.
Lampu putih terang yang membuat semua orang terlihat lebih lelah daripada aslinya.
Dapi datang dengan wajah yang aneh.
Bukan wajah orang sedih.
Bukan juga wajah orang senang.
Lebih mirip seseorang yang baru saja menerima hadiah besar lalu sadar bahwa hadiah itu akan mengubah seluruh hidupnya.
"Gimana?" tanya gue.
Dia mengembuskan napas panjang.
"Lolos."
Akhirnya keluar juga.
Gue langsung tersenyum.
"Alhamdulillah."
"Iya."
"Kok muka lu kayak orang kehilangan motor?"
Dia tertawa.
Tapi tawanya pendek.
"Takut, Run."
Kalimat itu membuat gue diam.
Karena selama ini Dapi adalah orang yang paling keras kepala soal mimpinya.
Paling yakin.
Paling tidak mau menyerah.
Ternyata setelah pintu terbuka, ketakutan justru muncul.
"Apa yang ditakutin?"
"Ibu gue."
Nah.
Akhirnya keluar juga.
"Aku berangkat kalau semua proses lancar."
Gue mengangguk.
"Terus?"
"Ibu tinggal sendiri."
Suara Dapi pelan.
Dan untuk pertama kalinya gue melihat bahwa mimpinya selama ini ternyata tidak hanya menuntut keberanian.
Tetapi juga pengorbanan.