Tidak semua perubahan datang dengan suara keras.
Tidak semua perubahan diawali oleh pertengkaran besar.
Tidak semua perubahan ditandai oleh perpisahan.
Kadang perubahan datang diam-diam.
Seperti cat tembok yang perlahan memudar.
Seperti rambut yang perlahan memutih.
Seperti rumah yang tetap terlihat sama dari luar, tetapi terasa berbeda ketika kita tinggal di dalamnya setiap hari.
Kita sering baru menyadarinya ketika semuanya sudah berubah cukup jauh.
Dan saat itu biasanya sudah terlambat untuk kembali ke keadaan semula.
Pagi itu gue terbangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena alarm.
Bukan karena pekerjaan.
Melainkan karena suara sapu lidi yang bergesekan dengan semen halaman depan.
Suara yang sudah gue dengar sejak kecil.
Suara yang selalu ada.
Dan mungkin terlalu sering ada sampai gue lupa menghargainya.
Gue membuka pintu rumah.
Udara pagi masih dingin.
Langit belum benar-benar terang.
Di depan rumah, ibu sedang menyapu halaman.
Gerakannya pelan.
Teratur.
Seperti orang yang sudah melakukan hal yang sama selama puluhan tahun.
"Tumben bangun pagi."
Beliau bahkan tidak menoleh.
Seperti biasa.
Entah bagaimana ibu selalu tahu siapa yang berada di belakangnya.
"Gak bisa tidur."
"Sakit?"
"Gak."
Beliau mengangguk kecil.
Lalu kembali menyapu.
Dulu gue sering menganggap kegiatan seperti ini membosankan.
Terlalu biasa.
Terlalu sederhana.
Tetapi semakin bertambah usia, semakin gue sadar bahwa hidup sebenarnya lebih banyak diisi oleh rutinitas daripada kejadian besar.
Kebanyakan kenangan tidak lahir dari momen luar biasa.
Melainkan dari hal-hal kecil yang terus berulang.
Sarapan.
Obrolan pagi.
Suara pintu dibuka.
Suara orang tua memanggil dari dapur.
Hal-hal yang terasa biasa sampai suatu hari menghilang.
Dan saat itu baru terasa betapa berharganya mereka.
* * *
Saat sarapan, ibu membuat telur dadar dan tempe goreng.
Menu sederhana.
Menu yang sudah gue makan ratusan kali.
Tetapi entah kenapa tetap terasa enak.
Mungkin karena beberapa makanan memang tidak bergantung pada rasa.
Melainkan pada siapa yang membuatnya.
"Ibunya Arga gimana?"
Beliau bertanya sambil menuang teh panas.
Gue mengangkat kepala.
"Ibunya?"
"Iya."
"Kurang tahu."
"Kasihan."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Sederhana.
Tulus.
Tanpa drama.
Dan gue tahu beliau benar-benar memikirkannya.
Kadang ibu selalu seperti itu.
Lebih khawatir pada orang lain daripada dirinya sendiri.
"Kemarin ayahnya di rumah sakit."
Beliau diam sebentar.
Lalu menghela napas.
"Berat."
"Iya."
"Orang tua itu kalau anaknya sakit rasanya beda."
Gue menatap beliau.
Entah kenapa kalimat itu terasa lebih dalam daripada yang terlihat.
Karena untuk pertama kalinya gue bertanya-tanya.
Berapa banyak hal yang selama ini beliau khawatirkan tentang gue tetapi tidak pernah diucapkan?
* * *
Hari itu kantor berjalan normal.
Terlalu normal.
Sampai terasa aneh.
Kinan terlihat lebih segar dibanding beberapa minggu terakhir.
Meski tetap ada sesuatu yang mengganjal di wajahnya.
Seperti seseorang yang sedang berusaha terlihat baik-baik saja.
Kami makan siang bersama di luar kantor.