Ada masa dalam hidup ketika kita merasa semuanya sedang berjalan biasa saja. Kita bangun pagi, berangkat kerja, pulang malam, makan, tidur, lalu mengulangnya lagi keesokan hari. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada keputusan penting. Tidak ada pertanda apa pun. Namun diam-diam, di balik rutinitas yang tampak tenang itu, sesuatu sedang bergerak.
Masalahnya, manusia hampir tidak pernah menyadari pergeseran besar saat pergeseran itu sedang terjadi.
Kita baru menyadarinya setelah semuanya berubah.
Pagi itu Jakarta terasa lebih panas dari biasanya. Matahari bahkan belum benar-benar tinggi, tetapi hawa dari aspal sudah mulai naik dan bercampur dengan asap kendaraan. Di sepanjang jalan, motor saling menyelip di antara mobil-mobil yang bergerak lambat. Klakson terdengar dari berbagai arah. Pedagang sarapan berteriak menawarkan dagangannya. Seorang petugas kebersihan menyapu trotoar yang lima menit kemudian kembali dipenuhi sampah daun dan bungkus plastik.
Kota ini tidak pernah benar-benar diam.
Dan mungkin itulah alasan banyak orang bertahan di dalamnya.
Karena selama kota masih bergerak, mereka merasa hidup juga masih bergerak.
Di kantor, suasana tidak jauh berbeda. Pekerjaan datang silih berganti. Telepon berdering. Printer bekerja tanpa henti. Aroma kopi sachet bercampur dengan udara dingin pendingin ruangan. Orang-orang berjalan membawa map, membawa laptop, membawa wajah lelah yang berusaha terlihat profesional.
Gue sedang memeriksa beberapa dokumen ketika Kinan datang membawa setumpuk berkas.
"Kamu belum makan?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tetapi entah kenapa beberapa hari terakhir nada bicaranya terasa berbeda.
Bukan dingin.
Bukan juga hangat.
Seperti seseorang yang sedang memikirkan banyak hal sekaligus.
"Belum."
"Jam segini?"
"Lupa."
"Lupa atau males?"
"Dua-duanya."
Kinan menghela napas kecil.
"Makanya maag gampang kambuh."
Biasanya gue akan menjawab dengan candaan.
Tetapi kali ini gue justru memperhatikan wajahnya.
Ada sesuatu yang berubah.
Mungkin karena beberapa minggu terakhir kami sama-sama sibuk.
Mungkin karena urusan keluarga yang mulai memenuhi kepala masing-masing.
Atau mungkin karena hubungan yang semakin dekat memang selalu membawa tantangan baru.
Semakin dekat kita mengenal seseorang, semakin banyak sisi dirinya yang terlihat.
Termasuk sisi yang tidak selalu menyenangkan.
"Ada apa?" tanya gue.
"Apa?"
"Kamu kelihatan capek."
Kinan tersenyum tipis.
"Semua orang juga capek."
"Iya, tapi kamu kelihatan lebih capek."
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia duduk di kursi dekat meja gue.
"Aku lagi banyak pikiran."
"Gara-gara rumah?"
Ia mengangguk.
Jawaban yang sebenarnya sudah gue duga.
Beberapa minggu terakhir, pembicaraan tentang rumah semakin sering muncul. Bukan karena ada pertengkaran besar. Justru karena hal-hal kecil yang terus menumpuk. Harapan. Kekhawatiran. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Kadang keluarga memang seperti itu.
Bukan badai besar yang membuat kita lelah.
Tetapi gerimis yang turun setiap hari.
* * *
Malam harinya, setelah pulang kerja, gue mendapati Ibu sedang duduk di teras rumah sambil memilah daun singkong yang baru dibeli dari tukang sayur keliling. Lampu teras berwarna kuning redup. Dari rumah tetangga terdengar suara televisi yang terlalu keras. Anak-anak masih bermain sepeda di ujung gang meskipun waktu menunjukkan hampir pukul delapan malam.
"Ibu belum tidur?"
"Lha wong masih jam segini."
Gue tertawa.
Bagi ibu, pukul delapan malam memang masih terlalu sore untuk disebut larut.