Ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai menyadari bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan niat baik.
Waktu kecil, dunia terasa sederhana.
Kalau ada teman jatuh, kita bantu berdiri.
Kalau ada barang rusak, kita perbaiki.
Kalau ada orang sedih, kita hibur.
Seolah semua persoalan memiliki hubungan sebab akibat yang jelas.
Namun semakin dewasa, hidup mulai memperkenalkan jenis masalah yang berbeda.
Masalah yang tidak bisa diselesaikan karena orang yang sedang tenggelam justru menolak meraih tangan yang mencoba menolongnya.
Dan tidak ada pelajaran sekolah yang mengajarkan bagaimana menghadapi hal semacam itu.
Pagi itu Jakarta kembali sibuk seperti biasa. Bus TransJakarta melintas penuh penumpang. Klakson kendaraan saling bersahutan di perempatan. Pedagang nasi uduk masih melayani antrean sarapan di pinggir jalan. Orang-orang berjalan cepat menuju kantor seolah terlambat lima menit bisa menghancurkan masa depan mereka.
Kota ini memang aneh.
Di satu sisi, jutaan orang hidup berdampingan.
Di sisi lain, sebagian besar dari mereka sedang berjuang sendirian.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran gue terus tertahan pada pesan Kodil semalam.
Arga belum pulang.
Sudah dua hari.
Tidak ada kabar.
Tidak ada yang tahu dia berada di mana.
Dan semakin lama seseorang menghilang, semakin liar imajinasi orang-orang yang mencarinya.
Kadang kenyataan ternyata tidak seburuk yang dibayangkan.
Masalahnya, kadang justru lebih buruk.
* * *
Sekitar pukul sepuluh pagi, ponsel gue bergetar.
Pesan baru masuk di grup.
Dari Repan.
"Ketemu."
Hanya satu kata.
Tetapi cukup membuat dada gue menegang.
Kodil langsung membalas.
"Di mana?"
Beberapa detik kemudian muncul jawaban.
"Di daerah Bekasi."
Lalu pesan berikutnya.
"Lagi gue jemput."
Tidak ada yang mengetik selama beberapa saat.
Seolah semua orang sedang mencoba mencerna informasi itu.
Ketika akhirnya gue menghubungi Repan secara pribadi, suara sahabat gue itu terdengar jauh lebih berat dibanding biasanya.
"Ketemu di mana?"
"Salah satu kontrakan."
"Sendirian?"
"Nggak."
Jawaban singkat itu justru membuat perasaan gue semakin tidak enak.
Karena gue tahu lingkungan seperti apa yang sedang dibicarakan.
Tempat-tempat yang selama ini coba dijauhi Arga.
Tempat-tempat yang pada akhirnya berhasil menariknya kembali.
"Gimana kondisinya?"
"Lagi sadar."
"Luka?"
"Nggak."
Repan berhenti sebentar.