Ada satu kebohongan yang sering dipercayai orang baik.
Bahwa kalau kita cukup peduli kepada seseorang, maka kita bisa menyelamatkannya.
Padahal tidak selalu begitu.
Kadang kita datang membawa bantuan.
Membawa waktu.
Membawa tenaga.
Membawa doa.
Membawa kesabaran yang hampir habis.
Tetapi orang yang ingin kita selamatkan tetap berjalan ke arah jurang.
Dan yang paling menyakitkan bukan melihat mereka jatuh.
Melainkan menyadari bahwa tangan kita tidak pernah benar-benar mampu menahan mereka.
Pagi itu Jakarta terlihat lebih pucat dari biasanya. Matahari tertutup lapisan awan tipis yang menggantung sejak subuh. Jalanan tetap macet seperti biasa. Motor-motor menyelip di antara mobil. Klakson terdengar dari kejauhan. Pedagang gorengan mulai mengipas minyak panas di pinggir jalan. Bus TransJakarta datang dan pergi membawa ribuan orang yang sama-sama sedang mengejar sesuatu. Entah gaji. Entah mimpi. Entah sekadar bertahan hidup sampai akhir bulan.
Namun sejak beberapa hari terakhir, pikiran gue tidak benar-benar berada di kantor.
Sebagian besar tertinggal pada Arga.
Tidak ada kabar.
Tidak ada pesan.
Tidak ada unggahan media sosial.
Tidak ada balasan.
Seolah-olah manusia itu menghilang begitu saja.
Dan pengalaman mengajarkan satu hal.
Kalau seseorang seperti Arga mendadak menghilang, itu hampir tidak pernah menjadi pertanda baik.
Saat jam makan siang, gue mencoba menghubungi Repan.
"Masih belum ada kabar?"
"Tetap nggak bisa dihubungi."
"Gue nggak enak hati."
"Gue juga."
Suara mesin kompresor terdengar dari belakang telepon. Suara khas bengkel yang sudah terlalu sering gue dengar selama bertahun-tahun.
"Lagian gue heran," lanjut Repan. "Waktu itu, padahal dia sempat keliatan lumayan."
"Iya."
"Ternyata cuma sebentar."
Gue tidak menjawab.
Karena kenyataannya memang begitu.
Perubahan terbesar sering kali tidak terlihat saat seseorang sedang berusaha bangkit.
Melainkan saat mereka sedang sendirian.
Saat tidak ada yang melihat.
Saat tidak ada yang mengawasi.
Saat mereka kembali bertemu dirinya sendiri.
Dan sering kali, pertarungan paling berat memang terjadi di sana.
Di tempat yang tidak bisa dimasuki siapa pun selain dirinya.
Malam harinya kami akhirnya berkumpul lagi di warung kopi dekat gang lama. Tempat yang dulu hampir setiap malam menjadi markas kecil kami sebelum hidup mulai memecah semua orang ke arah masing-masing.
Kodil datang terlambat karena shift sore.
Repan baru selesai menutup bengkel.
Dapi datang dengan wajah yang terlihat lebih kurus dibanding beberapa bulan lalu.
Belakangan dia memang sedang sibuk mengejar proses seleksi kerja ke Jerman yang tak kunjung selesai.
Orang-orang sering mengira mimpi besar itu menyenangkan.
Padahal sebagian besar waktu, mimpi besar justru melelahkan.
Karena kita harus terus percaya pada sesuatu yang belum tentu terjadi.
"Kabar Arga masih nihil?" tanya Kodil.
Gue mengangguk.
"Nihil."
Dapi mengusap wajahnya pelan.
"Gue takut dia balik lagi."
Tidak ada yang bertanya maksud kalimat itu.
Karena semua orang tahu.
Dan semua orang memikirkan hal yang sama.
Hening turun beberapa saat.
Suara sendok beradu dengan gelas.
Suara motor lewat.
Suara televisi kecil milik pemilik warung yang sedang menyiarkan pertandingan sepak bola.
Kehidupan berjalan seperti biasa.
Lucunya, dunia memang tidak pernah berhenti hanya karena seseorang sedang hancur.
Beberapa kilometer dari tempat kami duduk, mungkin ada orang yang sedang merayakan kelahiran anak.
Ada yang baru diterima kerja.
Ada yang baru menikah.