Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #41

Alamat yang Masih Sama

Semakin bertambah umur, gue mulai menyadari satu hal yang aneh. Banyak orang mengira perubahan besar dalam hidup selalu ditandai dengan sesuatu yang besar juga. Pindah rumah. Menikah. Kehilangan pekerjaan. Kematian. Padahal sebagian besar perubahan justru datang diam-diam. Pelan. Nyaris tidak terlihat. Sampai suatu hari kita menoleh ke belakang dan sadar bahwa kita sudah menjadi orang yang berbeda dari beberapa tahun lalu. Yang lebih aneh lagi, sering kali bukan hidup kita yang berubah lebih dulu. Melainkan orang-orang di sekitar kita.

Dua hari setelah obrolan dengan Ibu Suminten, gue, Repan, dan Kodil akhirnya memutuskan mendatangi rumah Arga lagi. Bukan karena kami punya petunjuk baru. Justru karena kami kehabisan petunjuk. Kadang saat tidak tahu harus mencari ke mana, manusia memilih kembali ke tempat terakhir yang masih terasa familiar. Dan bagi Arga, rumahnya tetap menjadi titik awal dari segala kemungkinan.

Pagi itu Jakarta sedang panas-panasnya. Matahari baru naik beberapa jam tetapi udara sudah terasa lengket. Jalanan dipenuhi motor yang bergerak seperti aliran air mencari celah. Pedagang bubur masih melayani pelanggan terakhir. Warung kopi pinggir jalan mulai dipenuhi sopir angkot dan pekerja bangunan yang sedang sarapan sebelum memulai hari. Dari kejauhan terdengar suara bus TransJakarta berhenti di halte. Suara rem angin bercampur dengan suara pedagang yang menawarkan minuman dingin. Kota ini selalu bergerak, seolah takut kehilangan waktu.

Rumah Arga berada di gang yang sama seperti dulu. Tidak banyak berubah. Cat pagarnya mulai memudar. Pohon mangga di depan rumah masih berdiri di tempat yang sama. Bahkan pot bunga yang sudah retak sejak zaman kami SMA pun masih ada. Yang berbeda hanya suasananya.

Dulu rumah itu selalu ramai.

Sekarang terasa seperti rumah yang sedang menahan napas.

Ibunya Arga yang membuka pintu.

Wajah beliau terlihat lebih kurus dibanding beberapa bulan lalu.

Namun tetap berusaha tersenyum.

"Kalian datang lagi."

"Iya, Bu."

"Gak bosan?"

"Gak."

Beliau tersenyum kecil.

Tetapi senyum itu tidak pernah sampai ke matanya.

Kami dipersilakan masuk. Ruang tamu terlihat rapi. Terlalu rapi. Seperti rumah yang sudah lama tidak menerima tamu. Foto keluarga masih berjajar di atas lemari kaca. Di salah satu foto, Arga berdiri sambil tertawa lebar di samping ayah dan ibunya. Umurnya mungkin sekitar tujuh belas tahun waktu itu. Wajahnya masih bersih. Matanya masih hidup. Sulit membayangkan bahwa anak di foto itu adalah orang yang sekarang sedang dicari ke mana-mana.

"Ibu masih belum dengar kabar?" tanya gue hati-hati.

Beliau menggeleng.

"Tidak ada."

"Gak ada yang menghubungi?"

"Tidak."

Hening turun beberapa detik.

Lalu beliau berkata pelan.

"Kadang Ibu berpikir mungkin dia malu pulang."

Kalimat itu membuat tidak ada seorang pun yang langsung menjawab.

Karena mungkin benar.

Dan kalau memang benar, itu justru lebih menyedihkan.

Banyak orang berpikir rumah adalah tempat paling mudah untuk kembali. Padahal tidak selalu begitu. Kadang yang membuat seseorang sulit pulang bukan jarak. Bukan uang. Bukan kendaraan. Melainkan rasa bersalah yang sudah terlalu besar.

Sebelum pulang, ibunya Arga memberikan satu informasi yang selama ini belum pernah kami dengar.

"Ada satu tempat."

Kami langsung menoleh.

"Tempat apa, Bu?"

"Dulu waktu kecil kalau lagi ada masalah, Arga sering pergi ke rumah almarhum kakeknya."

"Di mana?"

"Cibubur."

Gue dan Repan saling pandang.

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, kami punya sesuatu yang menyerupai petunjuk.

* * *

Sementara itu, kehidupan orang-orang lain tetap berjalan dengan masalah masing-masing.

Di bengkel, Repan sedang menghadapi bulan yang berat. Beberapa pelanggan menunda pembayaran. Harga bahan naik lagi. Salah satu pekerjanya mengundurkan diri karena pindah ke luar kota. Setiap hari ia harus membuka bengkel lebih pagi dan pulang lebih malam.

Namun yang paling berat bukan pekerjaan.

Melainkan ketakutan.

Ketakutan kalau usaha yang dibangun bertahun-tahun perlahan mulai kehilangan napas.

Siang itu gue sempat mampir ke bengkelnya.

Suara mesin poles terdengar nyaring.

Lihat selengkapnya