Semakin lama hidup berjalan, semakin gue sadar bahwa manusia memiliki kebiasaan yang aneh. Saat keadaan sedang baik-baik saja, kita selalu ingin pergi jauh. Mencari tempat baru. Mencari pengalaman baru. Mencari kehidupan yang lebih besar dari yang sedang kita jalani. Tetapi saat hidup mulai berantakan, saat semuanya terasa terlalu berat untuk dipikul, sebagian besar dari kita justru ingin kembali. Kembali ke tempat yang dulu membuat kita merasa aman. Kembali ke orang-orang yang pernah membuat kita percaya bahwa dunia tidak seburuk itu. Kembali ke versi diri sendiri yang belum terlalu banyak terluka.
Mungkin itu sebabnya petunjuk dari ibunya Arga terus terngiang di kepala gue sejak kemarin.
Rumah kakeknya di Cibubur.
Tempat yang katanya sering didatangi Arga saat masih kecil.
Tempat yang mungkin masih tersimpan di bagian paling dalam ingatannya.
Tempat yang mungkin ia cari lagi saat hidupnya mulai kehilangan arah.
Sabtu pagi, gue, Repan, dan Kodil berangkat lebih awal. Jalanan Jakarta belum terlalu padat ketika kami berangkat, meskipun tetap saja tidak pernah benar-benar sepi. Pedagang sarapan mulai memenuhi trotoar. Aroma nasi uduk, lontong sayur, dan gorengan bercampur dengan asap knalpot yang sudah menjadi parfum tidak resmi kota ini. Di beberapa halte, antrean penumpang TransJakarta mulai terbentuk. Orang-orang berdiri sambil memegang ponsel, menunggu kendaraan yang akan membawa mereka menuju rutinitas masing-masing. Kadang gue suka memperhatikan wajah-wajah asing seperti itu. Ribuan orang berangkat setiap pagi dengan cerita yang tidak pernah kita ketahui. Ada yang sedang jatuh cinta. Ada yang sedang patah hati. Ada yang sedang menunggu hasil tes kerja. Ada yang mungkin baru kehilangan seseorang semalam. Namun dari luar, semuanya terlihat sama-sama sedang menunggu bus.
Perjalanan menuju Cibubur memakan waktu lebih lama dari yang kami kira. Jakarta memang selalu punya kemampuan untuk membuat jarak dekat terasa jauh. Saat akhirnya kami memasuki kawasan yang dimaksud, suasananya mulai berbeda. Jalanan tidak sepadat pusat kota. Rumah-rumah berdiri lebih renggang. Pohon-pohon besar masih cukup banyak terlihat. Udara terasa sedikit lebih ringan.
Alamat yang diberikan ibunya Arga membawa kami ke sebuah rumah tua yang sudah lama tidak ditempati. Cat temboknya mulai kusam. Halaman depan dipenuhi rumput liar. Beberapa genteng terlihat menghitam dimakan usia. Dari luar, rumah itu tampak seperti bangunan yang perlahan sedang dilupakan waktu.
"Gue gak yakin ada orang di sini," kata Kodil.
"Gue juga," sahut Repan.
Tetapi entah kenapa, gue tetap melangkah mendekat.
Pagar depan tidak terkunci.
Kami masuk pelan-pelan.
Dan saat itulah gue melihat sesuatu.
Jejak baru.
Bukan sesuatu yang dramatis.
Hanya beberapa bekas pijakan di tanah yang masih terlihat cukup segar.
Lalu beberapa bungkus makanan instan di dekat teras samping.
Dan sebotol, bekas air mineral kosong.
Rumah itu memang tua.
Tetapi jelas ada seseorang yang datang ke sana belum lama ini.
Kami saling berpandangan.
Jantung gue berdetak sedikit lebih cepat.
"Arga?" panggil gue.
Tidak ada jawaban.
"Arga!"
Tetap tidak ada jawaban.
Kami memeriksa bagian belakang rumah.
Kosong.
Masuk ke teras samping.
Kosong.
Melihat ke jendela.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun ada tanda-tanda kehidupan.
Dan itu sudah cukup untuk membuat kami yakin bahwa petunjuk ini bukan jalan buntu.
Di sudut teras belakang, gue menemukan sesuatu yang membuat tenggorokan gue mendadak terasa kering.
Sebatang rokok.
Merek yang sama dengan yang biasa dihisap Arga sejak kami masih kuliah.
Mungkin itu kebetulan.
Mungkin juga bukan.
Tapi setelah berminggu-minggu tidak memiliki arah, bahkan kemungkinan kecil pun terasa seperti harapan besar.