Ada satu hal yang baru gue pahami setelah melihat hidup teman-teman gue berantakan satu per satu.
Tidak semua beban bisa dibagi rata.
Dulu waktu masih sekolah, gue pikir persahabatan itu seperti gotong royong. Kalau satu orang membawa beban sepuluh kilogram dan ada lima teman di sekitarnya, maka masing-masing cukup mengangkat dua kilogram.
Ternyata hidup tidak bekerja seperti itu.
Ada beban yang bisa dibantu.
Ada beban yang bisa ditemani.
Tapi ada juga beban yang tetap harus dipikul sendiri oleh pemiliknya.
Dan mungkin itulah bagian paling menyedihkan dari menjadi dewasa.
Pagi itu Jakarta terlihat lebih cerah dibanding beberapa minggu terakhir. Langit biru muncul di sela gedung-gedung tinggi. Matahari terasa hangat tanpa berlebihan. Jalanan tetap macet seperti biasa. Suara klakson masih terdengar dari berbagai arah. Pedagang sarapan masih memenuhi pinggir jalan. Motor-motor masih menyelip di antara mobil dengan tingkat kepercayaan diri yang kadang membuat gue heran bagaimana mereka bisa selamat sampai rumah.
Hidup tetap berjalan.
Bahkan ketika seseorang sedang hancur.
Bahkan ketika seseorang sedang kehilangan arah.
Dunia tidak pernah benar-benar berhenti.
Sesampainya di kantor, gue melihat Kinan sudah lebih dulu datang. Dia sedang menatap layar komputer dengan ekspresi serius. Ada beberapa lembar dokumen di mejanya. Hijab yang biasanya tertata rapi sedikit berantakan di bagian samping. Mungkin karena terburu-buru pagi tadi.
Entah kenapa akhir-akhir ini gue mulai bisa melihat tanda-tanda kecil kelelahan pada dirinya. Bukan kelelahan fisik. Tapi kelelahan menjadi orang yang selalu berusaha kuat.
Saat istirahat siang kami makan di warteg dekat kantor. Warteg yang sudah beberapa kali menjadi tempat pelarian karyawan ketika bosan dengan makanan kantin. Tempat yang kipas anginnya berisik. Tempat yang meja-mejanya tidak pernah benar-benar stabil. Tempat yang selalu ramai oleh suara sendok beradu dengan piring.
Kinan terlihat lebih diam dari biasanya.
"Ada apa?" tanya gue.
"Nggak apa-apa."
"Gue udah sering denger kalimat itu."
Dia tersenyum tipis lalu mengaduk es teh yang bahkan belum disentuhnya.
"Ibu lagi sering ngomongin masa depan."
"Masa depan siapa?"
"Aku."
"Oh."
"Itu masalahnya."
Gue mengangguk pelan.
Kadang orang tua memang memiliki bakat khusus untuk membuat anak-anaknya cemas hanya dengan satu pertanyaan sederhana. Mau sampai kapan kerja di sana? Mau lanjut kuliah lagi? Mau nikah kapan? Mau tinggal di mana? Pertanyaan yang sebenarnya lahir dari rasa sayang, tetapi sering terdengar seperti tekanan.
"Aku tahu ibu cuma khawatir."
"Tapi?"
"Aku capek ditanya terus."
Gue tidak langsung menjawab. Karena gue juga pernah merasakan hal yang sama. Dan mungkin masih merasakannya sampai sekarang.
"Kamu pernah nggak sih," lanjutnya pelan, "ngerasa hidupmu lagi jalan, tapi orang-orang di sekitar selalu pengen tahu kapan kamu sampai tujuan?"
Kalimat itu membuat gue tertawa kecil.
Karena terlalu akurat.