Ada masa dalam hidup ketika pertanyaan-pertanyaan besar masih bisa ditunda. Saat kita masih sekolah, selalu ada tahun berikutnya. Saat kita baru lulus, selalu ada alasan untuk berkata bahwa kita masih mencari jalan. Bahkan ketika memasuki dunia kerja, kita masih bisa bersembunyi di balik kalimat bahwa semuanya sedang diproses. Namun semakin bertambah usia, hidup perlahan mulai kehilangan kesabarannya. Ia mulai meminta jawaban. Bukan besok. Bukan tahun depan. Tapi sekarang.
Minggu-minggu setelah kondisi Arga mulai membaik berjalan dengan aneh. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada kabar buruk yang mengejutkan. Tidak ada tragedi baru yang datang mengetuk pintu. Tetapi justru karena itulah semuanya terasa ganjil. Seperti laut yang mendadak tenang setelah badai panjang. Indah dilihat dari kejauhan, tetapi membuat orang yang pernah berlayar curiga karena tahu ketenangan tidak selalu berarti keamanan.
Pagi itu gue berangkat kerja lebih awal dari biasanya. Udara Jakarta masih menyimpan sedikit kesejukan yang biasanya menghilang setelah pukul tujuh. Warung nasi uduk di dekat gang sudah ramai. Suara sendok beradu dengan piring terdengar bersahutan. Pedagang gorengan sedang mengangkat bakwan dari wajan besar. Asap tipis bercampur aroma minyak panas memenuhi udara. Beberapa pegawai kantoran berdiri sambil sarapan terburu-buru. Sebagian besar menatap layar ponsel sambil makan. Seolah dunia digital lebih penting daripada rasa makanan yang masuk ke mulut mereka.
Gue berhenti sebentar membeli kopi sachet yang diseduh langsung di warung kecil dekat pangkalan ojek. Rasanya biasa saja. Bahkan cenderung terlalu manis. Tapi ada sesuatu tentang kopi murah di pagi hari yang selalu terasa jujur. Tidak mencoba menjadi apa-apa selain dirinya sendiri.
Sesampainya di kantor, suasana masih sepi. Beberapa meja belum terisi. Lampu-lampu neon masih menyala pucat. Suara pendingin ruangan mendominasi ruangan yang sebagian besar masih kosong. Gue baru saja menyalakan komputer ketika melihat Kinan datang.
Biasanya dia akan tersenyum atau sekadar mengangguk.
Hari itu tidak.
Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Sesuatu yang cukup berat sampai membuatnya lupa menyapa.
Baru setelah duduk dan menyimpan tas, dia menyadari gue memperhatikannya.
"Pagi."
"Pagi."
"Kamu sakit?"
"Nggak."
"Banyak pikiran?"
Dia terdiam beberapa detik.
"Lumayan."
Jawaban yang terlalu singkat.
Dan justru karena itu terasa jujur.
Gue tidak memaksa.
Beberapa hal memang perlu waktu untuk keluar sendiri.
Baru saat jam makan siang akhirnya dia bercerita.
Ibunya kembali membicarakan masa depan.
Tetapi kali ini lebih spesifik.
Bukan lagi soal pekerjaan.
Bukan lagi soal kesehatan.
Bukan lagi soal pulang malam.
Melainkan soal pernikahan.
"Aku tahu ini pasti bakal datang suatu hari nanti," katanya sambil menatap piring makan yang hampir tidak disentuh. "Tapi ternyata pas datang tetap aja rasanya beda."
"Gimana maksudnya?"
"Aku kira aku siap."
"Ternyata?"
"Ternyata nggak."
Suara kipas angin warteg berputar pelan di atas kepala kami. Di meja sebelah, beberapa sopir ekspedisi sedang tertawa keras membicarakan sesuatu yang tidak kami dengar jelas.
Dunia tetap berjalan.
Sementara seseorang sedang mencoba memahami hidupnya sendiri.
"Ibumu minta kamu nikah cepat?"
"Nggak."
"Lalu?"
"Kata beliau kalau memang ada orang yang serius, jangan terlalu lama."
Kalimat itu terdengar sederhana.