Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #45

Ketika Jalan Mulai Bercabang

Ada banyak sekali hal yang baru gue pahami setelah melihat semakin banyak orang di sekitar gue berjuang dengan hidup mereka masing-masing.

Kita sering mengira hidup berubah karena satu kejadian besar.

Padahal tidak selalu begitu.

Kadang hidup berubah karena akumulasi dari banyak hal kecil.

Percakapan pendek.

Kekhawatiran yang tidak diucapkan.

Kelelahan yang dipendam.

Keputusan yang terus ditunda.

Lalu suatu hari semuanya bertemu di satu titik.

Dan kita sadar bahwa jalan yang selama ini kita lalui ternyata sudah mulai bercabang sejak lama.

Pagi itu Jakarta terasa lebih panas dari biasanya. Matahari baru naik beberapa jam, tetapi udara sudah terasa menempel di kulit. Dari atas motor, gue melihat antrean kendaraan mengular di jalan utama. Bus TransJakarta melintas di jalurnya sendiri dengan suara mesin yang berat. Di trotoar, orang-orang berjalan cepat sambil sesekali melihat jam tangan atau layar ponsel. Semua terlihat terburu-buru. Seolah keterlambatan lima menit bisa mengubah nasib seseorang.

Padahal kenyataannya, nasib sering berubah justru saat kita sedang tidak siap.

Beberapa minggu terakhir terasa aneh.

Arga masih menjalani proses pemulihan.

Embeng mulai berusaha membangun kembali hidupnya.

Repan terus bertarung dengan keadaan bengkel yang belum sepenuhnya stabil.

Kodil tetap bekerja dari pagi sampai malam.

Dan gue sendiri sedang berdiri di tengah sesuatu yang belum memiliki nama.

Hubungan gue dan Kinan berjalan baik.

Setidaknya dari luar terlihat begitu.

Tetapi semakin lama, semakin terasa bahwa hubungan serius tidak bisa selamanya hidup hanya dari rasa nyaman.

Cepat atau lambat akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang lebih besar.

Pertanyaan tentang masa depan.

Tentang keluarga.

Tentang pilihan hidup.

Tentang siapa yang harus mengalah dan siapa yang harus bertahan.

Dan justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang mulai muncul satu per satu.

Menjelang siang, sebuah pesan masuk dari Dapi.

"Malam kumpul?"

Gue membaca pesan itu sambil menatap layar komputer.

Sudah lama kami tidak benar-benar berkumpul lengkap.

Beberapa bulan terakhir hidup terasa seperti menarik kami ke arah yang berbeda.

"Ada apa?"

Tidak sampai satu menit balasan muncul.

"Ada kabar."

Gue tersenyum.

Biasanya kalimat "ada kabar" memiliki dua kemungkinan.

Kabar baik.

Atau kabar yang membuat hidup semakin rumit.

Malam harinya kami berkumpul di warung kopi sederhana yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat pelarian. Tempat yang bahkan mungkin lebih mengenal cerita hidup kami dibanding sebagian anggota keluarga sendiri.

Lampu neon putih menggantung di atas kepala. Suara motor berlalu-lalang dari jalan depan. Aroma kopi hitam bercampur asap rokok memenuhi udara.

Semuanya terasa familiar.

Seperti masa muda yang belum sepenuhnya pergi.

Dapi datang paling akhir.

Wajahnya terlihat berbeda.

Bukan karena lebih ganteng.

Itu mustahil.

Tetapi karena ada sesuatu yang lebih ringan di matanya.

Sesuatu yang sudah lama tidak terlihat.

Begitu duduk, dia langsung meletakkan sebuah map bening di atas meja.

"Gue lolos."

Tidak ada yang langsung mengerti.

Lihat selengkapnya