Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #46

Sebelum Keputusan Diambil

Ada fase tertentu dalam hidup ketika masalah terbesar bukan lagi memilih antara benar dan salah.

Melainkan memilih antara dua hal yang sama-sama penting.

Karena kalau salah satu jelas buruk, keputusan menjadi mudah.

Kalau salah satu jelas benar, keputusan juga menjadi mudah.

Yang sulit adalah ketika kita harus memilih antara dua hal yang sama-sama ingin dipertahankan.

Dan semakin dewasa seseorang, semakin sering ia berada di situasi seperti itu.

Beberapa hari setelah kabar keberangkatan Dapi, hidup kembali berjalan seperti biasa. Atau setidaknya terlihat biasa dari luar. Jakarta tetap macet setiap pagi. Suara klakson masih menjadi soundtrack tidak resmi kota ini. Warteg dekat kantor masih dipenuhi pekerja yang makan siang sambil mengeluh soal pekerjaan. Bus TransJakarta tetap melintas dengan penumpang yang berdiri berdesakan. Orang-orang masih berangkat pagi dan pulang malam. Seolah tidak ada yang berubah. Padahal banyak hal sedang bergerak diam-diam di bawah permukaan.

Di kantor, Kinan terlihat lebih tenang dibanding beberapa minggu lalu. Tetapi gue sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa tenang dan baik-baik saja adalah dua hal yang berbeda. Ada kalanya seseorang terlihat tenang justru karena terlalu banyak hal yang sedang dipikirkannya.

Saat jam makan siang, kami keluar bersama menuju warteg yang berada di gang belakang gedung kantor. Tempat itu sederhana. Meja plastik. Kipas angin yang berputar malas di langit-langit. Televisi kecil yang menggantung di pojok ruangan. Aroma gorengan, sambal, dan kuah sayur bercampur menjadi satu. Tempat yang mungkin tidak pernah masuk media sosial siapa pun, tetapi selalu penuh setiap hari.

Kinan lebih banyak diam saat makan.

Bukan diam yang canggung.

Diam yang lelah.

"Ada apa?" tanya gue.

"Nggak ada."

"Kamu kalau jawab nggak ada biasanya justru ada."

Dia menghela napas pelan.

Kemudian menaruh sendoknya.

"Aku lagi mikir."

"Nah. Akhirnya jujur."

"Males aku."

"Gue belum ngapa-ngapain."

"Aku tahu."

"Lalu?"

Dia menatap piringnya beberapa saat.

Kemudian berkata pelan.

"Ibuku mulai sering nanya soal masa depan."

Gue tidak langsung menjawab.

Karena gue tahu arah pembicaraan ini.

Dan jujur saja, gue sendiri belum siap mendengarnya.

"Bukan cuma soal kerja."

"Hm."

"Bukan cuma soal tabungan."

"Hm."

"Tapi soal semuanya."

Kalimat terakhir menggantung cukup lama.

Dan gue paham maksudnya.

Semuanya.

Kadang satu kata itu sudah cukup menjelaskan banyak hal.

Hubungan.

Pernikahan.

Keluarga.

Masa depan.

Rencana hidup.

Semua hal yang selama ini masih berada jauh di depan kini perlahan mulai mendekat.

"Ayah sama ibu cuma khawatir."

"Aku tahu."

"Mereka sayang sama kamu."

"Aku juga tahu."

"Nah."

"Itu yang bikin susah."

Gue tertawa kecil.

Lihat selengkapnya