Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #47

Ketakutan yang Mulai Memiliki Nama

Ada masa dalam hidup ketika ketakutan tidak lagi datang sebagai bayangan samar yang berdiri jauh di belakang kita. Awalnya ia hanya berupa firasat. Perasaan tidak nyaman yang muncul sesekali lalu menghilang lagi. Kita masih bisa berpura-pura tidak melihatnya. Masih bisa menertawakannya. Masih bisa mengalihkan perhatian dengan pekerjaan, dengan kesibukan, dengan rutinitas. Namun ada satu titik ketika ketakutan itu perlahan berubah bentuk. Ia mulai memiliki wajah. Mulai memiliki alasan. Mulai memiliki nama. Dan saat itulah semuanya terasa jauh lebih berat. Karena manusia biasanya lebih takut pada sesuatu yang jelas dibanding sesuatu yang tidak diketahui.

Hubungan kami berjalan seperti biasa di permukaan. Kami masih berangkat kerja. Masih saling mengirim pesan. Masih bercanda saat jam makan siang. Masih membicarakan hal-hal kecil yang bahkan tidak penting. Namun di bawah semua itu, ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang sama-sama kami sadari tetapi belum pernah benar-benar kami ucapkan.

Masa depan.

Kata itu terdengar sederhana. Padahal semakin dewasa seseorang, semakin rumit maknanya.

Dulu waktu sekolah, masa depan berarti lulus ujian.

Saat kuliah, masa depan berarti mencari pekerjaan.

Setelah bekerja, masa depan berubah lagi.    

Menjadi rumah.

Menjadi keluarga.

Menjadi orang tua.

Menjadi keputusan-keputusan yang tidak bisa dibatalkan dengan mudah.

Sore itu kantor sedang cukup lengang. Sebagian besar pekerjaan sudah selesai. Beberapa rekan kerja mulai membicarakan rencana akhir pekan. Ada yang ingin pulang kampung. Ada yang ingin liburan. Ada yang hanya ingin tidur seharian.

Gue sedang menyelesaikan laporan ketika ponsel bergetar.

Pesan dari Kinan.

"Pulang jangan langsung pulang."

Gue tersenyum sendiri membaca kalimat itu.

"Terus?"

"Mau ngobrol."

Dua kata yang belakangan semakin sering terdengar dalam hidup gue.

Dan anehnya, hampir tidak pernah membawa kabar ringan.

Kami bertemu di sebuah taman kecil dekat kantor setelah jam kerja. Tempat itu sebenarnya tidak istimewa. Hanya beberapa bangku, pohon-pohon tua yang tumbuh di antara gedung-gedung tinggi, dan jalur pejalan kaki yang ramai menjelang malam. Namun ada sesuatu yang menenangkan dari tempat itu. Mungkin karena di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang selalu terburu-buru, taman kecil itu seperti lupa ikut berlari.

Kinan duduk di bangku kayu sambil memegang botol air mineral.

Wajahnya terlihat lelah.

Bukan lelah karena pekerjaan.           

Lelah karena pikiran.

Aku sudah mulai nggak nyaman di rumah, katanya pelan.

Kalimat itu membuat gue langsung menoleh.

"Bukan karena berantem?"

Dia menggeleng.

"Bukan."

"Lalu?"

Kinan menatap orang-orang yang berlalu lalang di depan kami.

"Aku mulai merasa setiap hari ada pertanyaan yang sama."

Tentang?

"Kapan nikah."

Gue diam.

Karena jujur saja, gue sudah menduga arah pembicaraan ini.

"Bukan cuma ibu."

"Sekarang keluarga besar juga."

Dia tertawa kecil.

Tawa yang tidak benar-benar lucu.

"Aku baru datang ke acara keluarga lima menit. Belum sempat ambil makan. Belum sempat duduk. Belum sempat nyapa semua orang."

"Lalu?"

"Sudah ditanya."

Gue menghela napas panjang.

Karena budaya seperti itu terlalu akrab.

Terlalu sering terjadi.

Dan terlalu sulit dilawan.

"Kamu jawab apa?"

"Aku senyum."

"Terus?"

"Terus senyum lagi."

Gue tertawa kecil.

Dia ikut tertawa.

Namun hanya beberapa detik.

Setelah itu wajahnya kembali serius.

"Aku capek, Drun."

Kalimat itu terdengar jauh lebih berat daripada yang terlihat.

Karena bukan pertanyaan orang-orang yang membuatnya lelah.

Melainkan tekanan yang datang terus-menerus tanpa henti.

Seperti tetesan air.

Satu tetes tidak berarti apa-apa.

Seribu tetes bisa melubangi batu.

Malam itu saat pulang ke rumah, kata-kata Kinan terus terngiang di kepala gue.

Lihat selengkapnya