Sebelum Menjadi Rumah

Rizky Ade Putra
Chapter #48

Hari Ketika Semua Mulai Berubah

Ada hari-hari yang terlihat biasa saat sedang dijalani, tetapi bertahun-tahun kemudian kita akan mengingatnya sebagai titik belok. Hari ketika sesuatu bergeser tanpa suara. Tidak ada ledakan. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada peristiwa dramatis seperti dalam film. Hanya satu keputusan kecil, satu percakapan pendek, atau satu kalimat sederhana yang diam-diam mengubah arah hidup seseorang. Masalahnya, saat sedang berada di dalam hari itu, kita hampir tidak pernah menyadarinya.

Minggu pagi Jakarta terlihat lebih ramah dibanding biasanya. Jalanan tidak semacet hari kerja. Warung bubur di ujung gang sudah penuh sejak matahari baru naik. Suara sapu lidi terdengar dari halaman rumah tetangga. Di kejauhan terdengar anak-anak bermain sepeda. Bahkan udara terasa sedikit lebih ringan.

Gue sedang membantu Ibu menyiram tanaman di depan rumah ketika beliau tiba-tiba berkata, "Besok-besok kalau sudah punya rumah sendiri jangan lupa tanam pohon."

Gue tertawa.

"Lho, kenapa harus pohon?"

"Supaya rumah terasa hidup."

"Kalau ada Wi-Fi?"

"Itu bikin rumah ramai, bukan hidup."

Jawaban itu membuat gue tersenyum sendiri.

Ibu memang sering mengucapkan kalimat-kalimat sederhana yang terdengar biasa saat didengar pertama kali, tetapi baru terasa maknanya beberapa hari kemudian.

Beliau kembali menyiram tanaman cabai di pot kecil dekat pagar.

"Dulu bapakmu suka nanam apa saja."

Aku mengangguk pelan.

Nama bapak masih sesekali muncul dalam percakapan kami. Tidak terlalu sering. Tidak terlalu jarang. Seperti seseorang yang sudah lama pergi tetapi tetap tinggal di beberapa sudut rumah.

"Katanya kalau orang bisa merawat tanaman berarti masih punya harapan."

"Lalu kalau tanamannya mati?"

"Berarti tanam lagi."

Aku tertawa.

Beliau ikut tertawa.

Momen itu sederhana sekali.

Tapi, begitu sangat terasa hangat.

Mungkin karena semakin bertambah usia, gue mulai mengerti bahwa kebahagiaan keluarga sering kali tidak datang dari hal besar. Ia muncul dari pagi yang tenang. Dari percakapan pendek. Dari seseorang yang masih ada di rumah saat kita pulang.

Menjelang siang, ponsel gue bergetar.

Pesan dari Kinan.

"Aku lagi di rumah. Lagi nggak pengen ke mana-mana."

Biasanya pesan seperti itu tidak berarti apa-apa.

Tetapi setelah beberapa minggu terakhir, gue tahu ada sesuatu yang sedang dipikirkan Kinan.

"Kenapa?"

Balasannya datang beberapa menit kemudian.

"Capek."

Hanya satu kata.

Tetapi cukup membuat gue mengerti.

Sore harinya kami melakukan panggilan video.

Kinan terlihat duduk di kamarnya. Rambutnya tidak serapi saat di kantor. Kacamata yang biasa membuatnya terlihat formal kini justru membuatnya terlihat lebih lelah.

"Ada apa?"

Dia menghela napas panjang.

"Kemarin ada acara keluarga."

Aku langsung mengerti arah pembicaraan itu.

"Ditanya lagi?"

Dia tertawa hambar.

"Ditanya lagi."

"Berapa kali?"

"Banyak."

"Lima?"

"Lebih."

"Sepuluh?"

"Lebih."

Aku menyerah.

Kinan menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan.

"Aku mulai merasa hidupku kayak proyek keluarga."

Kalimat itu membuatku diam.

Karena ada rasa jujur yang tidak bisa ditertawakan di sana.

"Mereka sayang sama aku."

"Aku tahu."

"Mereka peduli."

"Aku tahu."

"Tapi capek juga kalau semua orang merasa berhak menentukan kapan aku harus menikah."

Aku mengangguk.

Karena memang itulah masalahnya.

Lihat selengkapnya