Ada beberapa pertanyaan dalam hidup yang semakin lama dihindari justru semakin besar ukurannya. Awalnya hanya muncul sesekali, seperti suara kecil di dalam kepala yang bisa ditenggelamkan oleh kesibukan. Kita menundanya dengan pekerjaan, dengan rutinitas, dengan alasan bahwa sekarang belum waktunya. Namun waktu memiliki sifat yang aneh. Ia tidak pernah berhenti hanya karena kita belum siap. Dan suatu hari, pertanyaan yang dulu terasa jauh itu akan duduk tepat di depan kita, menatap tanpa berkedip, menunggu jawaban yang tidak bisa lagi ditunda.
Sejak malam ketika Kinan mengirim pesan singkat itu, suasana di antara kami berubah secara halus. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada jarak yang sengaja dibuat. Bahkan secara teknis tidak ada masalah apa pun. Kami masih bertukar kabar setiap hari. Masih saling mengingatkan makan. Masih membahas hal-hal kecil yang tidak penting. Namun ada sesuatu yang kini selalu hadir di sela setiap percakapan. Sesuatu yang tidak diucapkan, tetapi sama-sama kami pikirkan. Masa depan yang selama ini terasa seperti garis tipis di kejauhan kini perlahan berdiri di depan mata.
Hari-hari di kantor tetap berjalan seperti biasa. Jakarta tetap menjadi Jakarta. Bus TransJakarta tetap penuh setiap pagi. Suara klakson tetap saling bersahutan seperti orang-orang yang berlomba menunjukkan siapa yang paling tidak sabar. Warteg dekat kantor tetap ramai menjelang makan siang. Kopi sachet tetap menjadi penyelamat banyak karyawan yang kurang tidur. Dunia tidak berubah hanya karena seseorang sedang menghadapi dilema hidup. Itulah salah satu hal yang kadang terasa kejam sekaligus menenangkan. Hidup pribadi boleh berantakan, tetapi matahari tetap terbit dan jalanan tetap macet.
Suatu sore, saat jam kerja hampir selesai, Kinan tiba-tiba datang ke meja gue membawa beberapa berkas yang sebenarnya bisa dikirim lewat email.
"Ada yang mau dibahas?" tanya gue.
Dia menggeleng.
"Nggak."
"Terus?"
"Mau lihat aja."
"Lihat apa?"
"Lihat orang yang bikin aku pusing."
Gue tertawa.
Biasanya kalimat seperti itu akan langsung dibalas dengan candaan panjang. Namun kali ini tawa kami hanya bertahan beberapa detik sebelum suasana kembali tenang.
Kinan menarik kursi lalu duduk.
"Kalau aku tanya sesuatu, jawab jujur ya."
"Ngeri amat pembukaannya."
"Serius."
"Oke."
Dia diam beberapa saat.
Cukup lama sampai gue mulai merasa gugup sendiri.
"Kamu pernah mikir nggak soal kita?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tetapi gue tahu maksud sebenarnya.
Dan karena itu justru terasa berat.
"Pernah."
"Sering?"
"Iya."
Dia mengangguk pelan.
Lalu kembali diam.
"Aku juga."
Kami saling menatap beberapa detik tanpa tahu harus melanjutkan dari mana.
Karena masalah terbesar orang dewasa bukan kurangnya jawaban.
Melainkan terlalu banyak kemungkinan.
Malam itu gue pulang dengan kepala yang lebih ramai daripada biasanya. Di perjalanan, motor bergerak pelan melewati jalan-jalan kecil yang mulai dipenuhi pedagang malam. Aroma sate bercampur asap kendaraan memenuhi udara. Lampu minimarket memantul di genangan bekas hujan siang tadi. Seorang bapak penjual gorengan sedang membereskan dagangannya. Seorang anak kecil berlari membawa layang-layang rusak yang entah kenapa masih terlihat sangat berharga di matanya.
Kadang hidup terasa jauh lebih sederhana saat kita masih kecil.
Karena sebagian besar keputusan dibuat oleh orang lain.
Lalu suatu hari kita dewasa.
Dan tiba-tiba semua keputusan besar diserahkan kepada kita sendiri.
Itulah bagian yang tidak pernah diajarkan siapa pun.
Saat sampai rumah, Ibu Suminten sedang menonton acara pengajian di televisi. Kacamata bacanya sedikit melorot di ujung hidung. Pemandangan yang belakangan semakin sering gue lihat.