Semakin bertambah usia, gue mulai sadar bahwa sebagian besar perubahan besar dalam hidup tidak datang bersama suara petir atau musik dramatis seperti di film. Mereka datang diam-diam. Kadang dalam bentuk kalimat sederhana yang diucapkan saat makan malam. Kadang dalam bentuk pertanyaan yang selama ini sengaja kita hindari. Dan kadang dalam bentuk kesadaran yang tiba-tiba muncul saat kita sedang terjebak macet di tengah Jakarta.
Hari itu tidak berbeda dengan hari-hari lainnya. Jalanan tetap penuh. Klakson tetap saling sahut. Motor-motor tetap berdesakan mencari celah yang sebenarnya tidak ada. Dari balik helm, gue memperhatikan seorang bapak yang membonceng anaknya ke sekolah. Anak itu tertidur sambil memeluk pinggang ayahnya. Motor mereka tua. Knalpotnya berisik. Spion sebelah kirinya bahkan sudah berbeda dengan spion sebelah kanan. Tapi entah kenapa pemandangan itu terus teringat sampai siang.
Mungkin karena gue mulai memikirkan hal-hal yang dulu terasa terlalu jauh.
Tentang rumah.
Tentang keluarga.
Tentang masa depan.
Tentang seseorang yang belakangan selalu hadir di setiap rencana yang gue bayangkan.
Kinan.
Di kantor, pekerjaan berjalan seperti biasa. Tumpukan laporan. Grup WhatsApp yang tidak pernah benar-benar sepi. Aroma kopi sachet yang menjadi penopang kehidupan sebagian besar karyawan Indonesia. Tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam cara gue memandang semuanya. Untuk pertama kalinya, pekerjaan bukan lagi sekadar tentang gaji bulanan atau target yang harus dicapai.
Untuk pertama kalinya gue mulai bertanya:
Kalau suatu hari nanti gue benar-benar ingin membangun hidup bersama seseorang, apakah hidup yang gue miliki sekarang sudah cukup?
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tetapi jawabannya tidak.
Karena tidak ada angka pasti untuk mengukur kesiapan manusia.
* * *
Sore hari, gue dan Kinan pulang hampir bersamaan. Kami tidak pergi ke mana-mana. Hanya berjalan menuju area parkir sambil mengobrol tentang hal-hal kecil. Tentang pekerjaan. Tentang cuaca yang tidak jelas. Tentang berita yang sedang ramai dibicarakan.
Sampai akhirnya Kinan mendadak diam.
"Kamu pernah nggak sih ngerasa waktu jalan terlalu cepat?"
Gue menoleh.
"Sering."
"Aku akhir-akhir ini sering mikir gitu."
Kami berjalan pelan melewati deretan motor.
"Kok tiba-tiba?"
Kinan menghela napas.
"Nggak tahu."
Lalu setelah beberapa detik ia melanjutkan.
"Kayaknya baru kemarin lulus kuliah."
Gue mengangguk.
"Tau-tau sekarang kerja."
"Iya."
"Tau-tau teman-teman udah mulai nikah."
Gue kembali mengangguk.
Kali ini lebih pelan.
Karena gue tahu arah pembicaraan itu.
Dan sepertinya Kinan juga tahu.
Tetapi tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar berani menyebutkannya secara langsung.
Kadang dua orang bisa memikirkan hal yang sama tanpa ada yang berani mengucapkannya terlebih dahulu.
Kami berpisah di parkiran.
Tetapi percakapan itu terus terbawa sampai malam.
* * *