Ada masa ketika kita mengira masa depan akan datang sebagai sebuah peristiwa besar. Sebuah hari yang berbeda dari hari-hari lainnya. Seolah-olah ketika pagi itu tiba, kita akan langsung tahu jalan mana yang harus dipilih, pekerjaan apa yang harus dijalani, dan dengan siapa sisa hidup akan dihabiskan. Kenyataannya jauh lebih biasa. Masa depan justru datang melalui keputusan-keputusan kecil yang terus diulang setiap hari. Bangun lebih pagi. Menabung sedikit lebih banyak. Menolak sesuatu yang sebenarnya diinginkan demi sesuatu yang lebih penting. Dan yang paling sulit, mulai berani membicarakan hal-hal yang selama ini hanya disimpan di dalam kepala.
Beberapa hari setelah percakapan dengan ibu, hidup kembali berjalan sebagaimana mestinya. Jakarta tetap sibuk. Matahari pagi memantul di kaca-kaca gedung perkantoran, sementara jalan protokol sudah dipenuhi antrean kendaraan bahkan sebelum jam kerja dimulai. Di dalam bus TransJakarta yang melintas di jalur khusus, wajah-wajah mengantuk saling berdampingan dengan wajah-wajah yang sibuk menatap layar ponsel. Di trotoar, pedagang nasi uduk mulai membereskan dagangannya, digantikan penjual kopi keliling yang menawarkan minuman hangat kepada para pegawai yang baru turun dari halte. Kota ini seolah tidak pernah memberi kesempatan kepada siapa pun untuk berhenti terlalu lama memikirkan hidup.
Di kantor, pekerjaan sedang memasuki minggu yang cukup padat. Gue lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer daripada berbincang dengan siapa pun. Sesekali Kinan lewat membawa dokumen, lalu hanya saling bertukar senyum sebelum kembali ke meja masing-masing. Tidak ada lagi percakapan panjang seperti beberapa bulan lalu ketika semuanya masih terasa ringan. Anehnya, kedekatan kami justru berubah menjadi lebih tenang. Tidak lagi dipenuhi rasa ingin selalu bersama, tetapi lebih kepada keyakinan bahwa masing-masing tetap ada meskipun sedang sibuk menjalani hari.
Saat jam makan siang tiba, kami akhirnya duduk bersama di kantin kantor. Kantin itu tidak pernah berubah. Meja-meja plastik yang mulai kusam, kipas angin yang lebih banyak mengeluarkan suara daripada angin, aroma ayam goreng yang bercampur dengan sambal dan kuah soto, serta obrolan para pegawai yang saling bersahutan memenuhi ruangan. Di tempat seperti itu, percakapan serius justru sering lahir tanpa direncanakan.
"Akhir-akhir ini kamu banyak mikir ya?" tanya Kinan sambil menusuk sepotong tahu.
"Keliatan?"
"Keliatan."
Gue tersenyum kecil.
"Emang separah itu?"
"Kamu jadi lebih sering bengong."
Gue tidak membantah. Memang benar. Beberapa hari terakhir pikiran gue sering melayang sendiri. Bukan karena pekerjaan, melainkan karena satu pertanyaan yang terus muncul setiap malam.
Berapa lama sebuah hubungan bisa berjalan tanpa arah yang jelas?
"Kamu sendiri gimana?" gue balik bertanya.
Kinan mengaduk es tehnya pelan sebelum menjawab. "Aku juga lagi banyak mikir."
"Tentang?"
"Tentang hidup."
Jawaban itu terdengar lucu sekaligus serius.
Kami tertawa sebentar.
Lalu kembali diam.
"Kadang aku takut," katanya akhirnya. "Takut kalau kita terlalu sibuk menunggu waktu yang tepat."
"Maksudnya?"
"Kita selalu bilang nanti."
"Nanti kalau kerja sudah lebih mapan."
"Nanti kalau tabungan cukup."
"Nanti kalau semuanya sudah siap."
Ia menatap gue dengan mata yang tidak sedang marah, tetapi juga tidak sedang bercanda.
"Kalau ternyata rasa siap itu nggak pernah datang gimana?"
Pertanyaan itu membuat gue kehilangan jawaban.
Karena memang begitulah kenyataannya.
Tidak ada manusia yang benar-benar merasa siap menghadapi babak baru dalam hidup.